* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Anjir, baru dateng akhirnya,” Hanna mendengus ketika Jane kemudian muncul dan duduk di hadapannya. Hanya ada mereka berdua di meja situ, walaupun biasanya mereka akan bersama Jeff, Gana, atau Juna, atau siapapun teman kelas lainnya mengingat kantin tak memiliki persediaan meja yang cukup untuk semua mahasiswa fakultas mereka.
Jane tidak merespon. Dia langsung duduk dan menaruh tasnya di atas meja, lalu mengedarkan pandangan memilih warung mana yang akan ia datangi. Sesungguhnya selain kepala yang terasa sakit karena terus-terusan dibuat overthinking, Jane juga merasa perutnya sedikit perih karena ia telat makan.
Hanna mencondongkan wajah, membuat Jane memundurkan wajah sambil mengernyit. “Apa, dah?”
“Kok lo pucet, sih?!”
Jane memegang bibirnya, kemudian dua pipinya. “Masa? Lipstick gue kurang tebel kali.”
“Lo sakit?” Hanna menggerakkan tangannya ke dahi Jane, mengecek suhu disana. “Loh, tapi gak panas. Lo kenapa?”
Jane menghela nafas. Mempertimbangkan untuk memberi tahu Jane atas percakapannya barusan dengan Kaisar atau tidak perlu. Karena sebenarnya, dia bisa menebak dengan tepat respon seperti apa yang akan diberikan oleh Hanna pada dia. Apa lagi kalau gak Hanna mengomel ke dia dan memintanya untuk menjauhi Kaisar.
Walaupun apa yang dikatakan cewek itu benar, tapi bukan itu yang dibutuhkan Jane sekarang. Saat ini yang ada di pikirannya adalah bagaimana dia bisa mati rasa terhadap siapapun agar dia tak perlu memikirkan hal-hal rumit yang menyangkut-pautkan hati dan perasaan. Jane lelah.
“Ye, malah ngelamun!” Hanna menepuk lengan tangan cewek di hadapannya. “Kenapa? Ada masalah? Duit jajan lo dipotong lagi sama nyokap?”
Jane menggeleng. “Gak papa, anjir. Sans aja.”
“Dih apanya yang sans. Orang muka lo lemes banget kayak gak makan dua hari.”
“Gue emang kelaperan,” jawab Jane gak sepenuhnya berbohong. “Bentar deh, gue mau pesen nasi. Lo mau nitip?” tanyanya sambil berdiri dari tempat duduk. Jane mengambil dompet di dalam tas kemudian menyimpannya di saku jas almamater.
“Gue udah pesen.”
“Apa?”
“Batagor.”
“Elah, gak kenyang.”
“Gue nitip minuman aja, deh. Es jeruk aja.”
“Oke,” Jane mengiyakan kemudian meninggalkan mejanya dengan Hanna.
Di sela-sela langkah kakinya, Jane menghela nafas. Dia betulan tidak bisa fokus apa-apa saat ini. Isi kepalanya kacau dan berantakan. Jane gak tahu harus apa.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Jadi pesen apa?” tanya Hanna ketika Jane kembali dengan membawakan dua gelas. Satu es jeruk milik Hanna, satunya lagi jus jambu milik Jane.
Cewek itu sempet memutar bola matanya kala menemukan sudah ada Jeff yang duduk di samping Hanna. Tapi karena dia tak punya tenaga lebih untuk berdebat sama cowok itu, jadi Jane diem aja.
“Lontong sayur.”
Hanna manggut-manggut. Kemudian noleh ke arah Jeff. “Ketemu Juno gak tadi? Kayaknya ada di parkiran.”
“Masa? Gak lihat.”
“Ooh, ya udah. Mau join kesini sama Gana.”
Jeff menganguk-angguk gak peduli. Sementara Jane menghela nafas pelan. Dia sedang tidak mood berada dalam keramaian. Kalau bisa, dia ingin menyingkir ke toilet dan bersemayam disana. Tapi masalahnya perutnya sangat keroncongan dan butuh diisi.
“Lo tumben diem aja?”
Jane yang merasa diajak mengobrol oleh Jeff jadi lansung mengangkat kepala. “Lagi males ngomong.”
“Gara-gara gue?”
Cewek itu mendengus. “Kagaklah. Ngapain banget.”
Jeff menggaruk alisnya sambil noleh ke Hanna, tanpa suara, dia berujar. “Dia kenapa, deh?”
Hanna mengedikkan bahu sambil meringis. Dia sedikit khawatir karena Jane seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Tapi tentu aja Hanna gak membiarkan teman baiknya memendam segala sesuatu sendiri. Begitu pula dengan Jeff yang paling panik dan bingung sendiri karena ngelihat cewek pecicilan yang biasanya sibuk berantem sama dia jadi diem banget bahkan sampai lontong sayur yang dipesan datang dan habis.
Maka dari itu, Jane akhirnya buka suara. Toh tak ada gunanya menutup-nutupi ini. Dia menceritakan pada Hanna, Jeff, juga Gana dan Juno yang udah dateng dari tadi.
“Sumpah, gue malah baru tahu anjir Jane udah ada cowok,” Juno berkomentar. “Udah lama?”
“Enggak, baru-baru aja,” Hanna yang jawab. “Bentar, fokus ke inti masalah. Intinya lo balik goyah lagi padahal pas kita balik dari Swillhouse kemarin lo udah fiks mau lupain Kaisar?”
Jane mengangguk. “Gue tahu dia tulus, Han, pas tadi ngomong sama gue.
Gana berdecak. “g****k sih kalau kata gue?”
“Siapa?”
“Ya elo, anjir.” ujar Gana blak-blakan. “Cowok kalau udah pernah selingkuh, tuh, pasti—bukan pasti, sih, tapi peluang buat selingkuh lagi itu lebih gede, Jane. Soalnya mereka bisa belajar dari kesalahan, jadi selingkuh yang kedua mereka bakal lebih ati-ati gimana caranya biar tetep safe dan gak ketahuan.”
Juno mengangguk setuju. “Bener, sih. Masuk akal kalau kata gue. Lagian apa, ya. Kata Hanna kan cowok lo juga udah serius ke elo. Masa lo mau nyia-nyiain cowok begitu cuman karena mantan lo balik lagi dan nawarin masa depan yang gak tahu bakal gimana? Kalau gue, sih, mending fokus sama yang sekarang. Lagian dosa lo kalau begitu. Bisa disebut lo nya juga bekhianat, kan, kalau begini?”
“Tuh, kan,” Hanna mendengus kemudian, menatap Jane dengan sorot sebal. “Gue udah bilang kan ke elo? Kalau lo masih mau balik ke Kaisar, itu adalah keputusan yang salah. Jalanin sama yang sekarang, belajar lupain yang dulu-dulu. It’s all about time, Jane. Capek banget ngasih tahu lo.”
“Ya gue maunya juga gak labil begini...”
Jeff yang dari tadi memilih buat diam dan mendengarkan dengan serius, kini menegakkan punggung sambil tangannya mengaduk es jeruk Hanna untuk diambil gula-gulanya di bawah dengan menyerok menggunakan sendok.
“Kalau gue boleh ikut ngomong juga, nih...” ujarnya sebagai pembuka yang mau gak mau bikin Jane jadi serius juga ngelihat pacar temannya itu. “Lo egois.”
“The f**k?!” Jane melotot. Belum apa-apa udah dikatain duluan sama Jeff tentu aja bikin dia mendelik.
“Bentar, jangan motong, jangan mrotes.”
“...”
“Lo udah janji ke Christian buat berusaha ngasih hati lo sepenuhnya ke dia. Iya, kan?”
Jane mengangguk.
“Tapi lo belum berusaha maksimal, dan sekarang lo mau nyerah karena mantan lo. Itu namanya egois. Mentang-mentang lo udah dapetin hati Kaisar lagi, bikin dia mau ngemis ke elo lagi buat balikan, lo ninggalin cowok yang jadi supporter lo, yang nemenin lo dari awal buat ngelupain pahitnya masa lalu lo. Lo egois.”
Atmosfer di meja situ tiba-tiba langsung menegang. Bukan karena takut Jane ngamyuk, tapi betapa omongan Jeff benar-benar akurat dan sangat menampar.
“Sori kalau cara ngomong gue kasar. Tapi itu emang yang gue simpulin dari cerita lo,” ujar Jeff lagi sambil mengambil batang rokok dari kemasan milik Hanna. “Lagian bukannya bagi cewek perselingkuhan itu bener-bener gak bisa dimaafin, ya? Kok elo gampang banget sekarang mau balik ke mantan padahal udah punya pacar? Cinta boleh, g****k jangan.”
Jane mendengus mendengar kalimat terakhir. “Ngaca lo.”
“Beda, Jane. Jelas konteksnya aja udah beda antara gue sama Hanna, dan lo sama Christian atau mantan lo itu. Ini kalau lo beneran jadi balik sama mantan lo, gue gak ngerti lagi, sih. That’s a stupid choice.”
“...”
“Bukan gue pro sama cowok lo. Gimana-gimana gue masih inget dia pernah mangku Hanna—“
Hanna mendesis karena kejadian itu diungkit lagi sama Jeff.
“—tapi gue lebih gak pro lagi sama mantan lo. Lagian kalau dilihat-lihat, kayaknya beda jauh, deh. Dari fisik, dari duit, bukannya pacar lo yang sekarang menang jauh?”
Jane mengangguk pelan.
“Nah, kalau ngandelin cinta, mah, aduh g****k kalau kata gue.”
Mereka kemudian hening. Semuanya. Hanna, Jeff, Jane, Juno, dan Gana, semuanya hening, seolah menghargai Jane yang membutuhkan waktu untuk berpikir. Hanna hanya bisa memberi tepukan di pundak Jane sebagai penyemangat. Membiarkan teman baiknya itu kini menunduk dengan kedua berada di sisi kanan dan kiri kepala, dengan siku yang bertumpu di atas meja.
“Gue cuman berharap yang terbaik buat lo, Jane. In the end of the day, gue cuman pengen lo bahagia, tapi dengan pilihan yang tepat. Jangan bahagia di pilihan yang gak tepat,” kata Hanna sebagai penutupan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jane pulang ke apartemen Ryan setelah jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Pulang dengan kondisi tubuh lemas dan muka layu karena harinya yang lagi-lagi berjalan tidak baik, bahkan dia tak mendengarkan penjelasan dosen sama sekali selama jam pembelajaran, dia tidak bisa berpikir dengan baik.
Jadi setelah kelas selesai, dia langsung pulang ke tempat Ryan, langsung melucuti pakaiannya dan hanya dengan memakai tanktop serta celana bokser milik Ryan yang dia ambil seenak jidat, dia memilih langsung melompat ke kasur dan menangis sejadi-jadinya.
Jane menahan sedari tadi agar tidak menangis di depan teman-temannya.
Apa lagi apa yang dikatakan Jeff sepenuhnya benar. Dia yang egois disini, dia mempermainkan hati Ryan, dia tidak bisa tepat janji pada laki-laki itu, dan dia berbuat sesukanya. Jane menangis sejadi-jadinya karena dia merasa bersalah dan bimbang tiada henti, seperti dia dikejar perasaan tak nyaman.
Mengapa Kaisar kembali lagi, memporak-porandakan perasaannya, membuatnya harus berada di posisi sulit seperti ini kala dia sudah bahagia dengan Ryan? Kala dia sudah bertekad untuk mencintai Ryan secara penuh?
Andai saja Kaisar tak kembali menemuinya dengan bilang bahwa Kaisar sudah tidak bersama Crystal dan laki-laki itu ingin Jane kembali padanya, mungkin semuanya tak akan rumit begini.
Atau...
Atau andai saja Jane bisa lebih tegas lagi, mungkin ia tak perlu menangis begini.
Bagaimanapun memang Jane yang egois.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *