Jane langsung tertidur setelah menangis kencang di dalam kamarnya, meringkuk seperti bayi di bawah selimut hingga tersedu.
Itu manusiawi. Kalau menurut penjelasan ilmiah, menangis hebat dapat menyebabkan kondisi hiperventilasi, yang dapat mengurangi jumlah oksigen ke otak. Kondisi inilah yang juga dapat memicu manusia untuk merasa mengantuk setelah menangis.
Sejujurnya, Jane tak pernah seperti ini. Bahkan ketika ia putus dengan Theo atau bahkan Kaisar yang sangat dicintainya itu, dia hanya menangis sebentar, kemudian kembali menjadi Jennie Laura yang normal—bersikap biasa saja, datar dan cenderung dingin.
Jane bahkan gak inget kapan terakhir kali dia menangis sampai sesenggukan. Ini pertama kalinya. Dia hanya merasa sangat lelah dengan apa yang dia rasakan dalam hatinya, juga kepalanya yang tak berhenti memikirkan banyak hal hingga setiap adegan terulang seperti kaset rusak.
Dia tak ingat kapan tepatnya ia mulai terlelap dengan sisa-sisa tangis di wajahnya.
Hingga kemudian sentuhan di pipi gadis itu membuat Jane mengerjap. Tangan seseorang yang awalnya menyentuh disana kemudian merambat naik, mengusap kepalanya rembut, lalu membubuhkan kecupan.
Jadi Jane langsung terkesiap. Matanya terbuka cepat walau sedikit pusing karena sinar lampu kamar langsung menyerang netranya.
Dengan posisi tidur yang sama sekali tak nyaman, miring dan meringkuk, dengan satu pipi menempel di bantal dan rambut menutupi banyak sisi di wajahnya, perempuan itu berhasil menemukan kesadaran.
“Ryan?”
Laki-laki yang namanya dipanggil langsung mengulas senyum lembut. “Hai, sweetheart.”
Jane betulan terduduk kini. Dia menyibakkan poni yang menutupi matanya lalu beringsut memeluk laki-laki yang duduk di tepi ranjang.
“Damn, i miss you.”
Ryan tertawa. Dia menggunakan kedua tangannya untuk balik memeluk sang kekasih, dengan satu tangan yang mengusap lembut naik dan turun di punggung Jane, dan hidung yang berlabuh menghirup wangi sampo Jane.
“Are you?”
Jane mengangguk di d**a Ryan. Perasaan sesak tiba-tiba menyerangnya lagi. Membuatnya ingin menangis namun ia tahan karena Jane tak mau Ryan tahu ada yang aneh dari dirinya.
“Jane?”
“Hm?”
Ryan menguraikan pelukan mereka, kini dia mengangkat dagu Jane dan mengamati wajah perempuan itu. Wajah memerah, basah, mata sembap, rambut berantakan dan menempel di sisi-sisi muka Jane, tentu saja Ryan tahu apa artinya.
“Nangis kenapa?”
“...”
“Kamu habis nangis, kelihatan banget.”
“Gak papa,” Jane mengulas senyum sambil menggigit bibir bawahnya, menahan diri agar tak terisak. Dia kembali memeluk Ryan. “Cuman kangen kamu aja.”
“Hm, gak percaya.”
“Percaya, please...”
Ah, gadis Ryan ini.
Laki-laki itu bahkan tak bisa tega untuk menanyai lebih lanjut walaupun dia punya hak untuk bertanya. Ryan yakin bukan karena rindu padanya yang jadi alasan kenapa Jane menangis hingga bagian bawah matanya bengkak dan sembap.
Kalaupun Jane sudah mencintainya, Ryan tahu Jane gak bakal sampai nangis hanya karena kangen.
Tapi bahkan ia tak tahu bagaimana cara memaksa Jane. Ia tak mau kekasihnya merasa tak nyaman. Jadi yang ia lakukan adalah mengusap kepala yang berada di dadanya tersebut, membiarkan Jane melakukan apapun sesuka hatinya selama perempuan itu merasa aman dan nyaman.
Jane melirik jam dinding tanpa melepas rengkuhan tangannya pada pinggang sang pacar.
“Loh, ini masih malem?” tanyanya kemudian mendongakkan kepala.
Kepala Ryan turun untuk membubuhkan ciuman singkat di bibir. “Iya, kamu kira udah pagi?”
“Iya. Masih jam dua, loh. Kamu kok pulang sekarang? Katanya besok siang?”
“Dipercepat. Udah gak kuat soalnya.”
“Apa? Kenapa? Kecapekan?”
“Gak kuat nahan kangen maksudnya.
Tawa Jane langsung terdengar. “Garing banget gomblanya, Bu.”
“Lah, padahal bukan gombal, loh, itu.”
“Apa? Peres? Ngibul?”
Ryan berdecak, tapi gak berusaha membela diri walaupun jelas yang ia ucapkan memang benar apa adanya. Seharusnya, kalau aja Ryan gak minta pulang lebih dulu dan menyelesaikan kekurangan berkas proyeknya di Jakarta, dia memang baru akan pulang besok pagi dan sampai di Jakarta siang hari, kalau perhitungan jamnya tidak salah.
Tapi karena dia betul-betul sedang merindukan Jane, yang mana Ryan gak berhenti kebayang-bayang muka cewek itu, apa lagi kini Jane memang sudah sepakat tinggal bersamanya di apartemen, Ryan benar-benar ingin segera pulang.
Kini rumah baginya memang sudah menjadi sebuah rumah, tempatnya pulang yang paling nyaman. Tidak hanya karena apartemen mewahnya saja, tapi karena ada Jane di dalamnya.
Tadi saja ketika dia sengaja membuka pintu apartemen sepelan mungkin agar tak sampai membangunkan Jane yang tertidur—dari mana Ryan tahu kalau Jane tidur? Tentu saja karena cewek itu gak bales-bales chatnya hingga berjam-jam, juga yang kedua adalah karena dia mengandalkan firasat—kemudian Ryan langsung meletakkan koper dan melangkah hati-hati.
Namun pemandangan Jane yang wajahnya basah dan terlihat habis menangis tentu membuat hati Ryan mencelos. Dia langsung bingung dan bertanya-tanya, walaupun hingga kini ia memilih tak memaksa. Satu yang pasti adalah karena dia tahu bahwa ada yang tak beres.
Dan satu nama yang langsung muncul di kepala Ryan adalah nama Kaisar. Kemudian satu pertanyaan muncul di benaknya : mungkinkan selama ia tak ada Jane dan Kaisar kembali bertemu?
“Hei, kok bengong?” Jane mengusap rahangnya sambil menjauh. Senyumnya terulas manis, membuat Ryan kemudian membalas senyumannya dan menggeleng sebagai jawaban.
“Nothing. Cuman laper.”
“Eh, gak ada makanan apa-apa di apart!” Jane panik duluan, kemudian dia berdiri. “Wait, kamu duduk yang tenang, aku siapin air anget buat mandi dulu, abis itu kita makan bareng, ya?”
“Kamu gak ngantuk emangnya? Tidur aja lagi, gak apa-apa. Aku bisa siapin air sendiri.”
“It’s okay, udah gak ngantuk.”
“Serius?” Ryan memicing dengan tangan tergerak untuk mengusap sudut mata kekasihnya. “Masih merah, nih, matanya.”
“Gak papa, Ryan. Udah, aku siapin dulu airnya, ya.”
Ryan mengangguk. Tapi kontras dengan tangannya yang menahan lengan Jane untuk tidak beranjak kemana-mana sekalipun gadis itu sudah berdiri dan bersiap melangkah menjauh menuju kamar mandi.
“Apa?” Jane bertanya dengan senyum geli sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang dipegang Ryan.
“Ikut mandi aja, yuk?”
Ah, harusnya Jane sudah bisa menebak kemana malam ini akan berakhir, dengan apa mereka menghabiskan sisa dini hari untuk melepas rindu. Tapi Jane tentu tak keberatan. Dia pun juga merindukan Ryan.