* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Enggak, keduanya tidak bercinta sekalipun Ryan dan Jane sepakat untuk mandi bersama.
Alasan kenapa Jane gak menolak saat Ryan mengajaknya mandi adalah karena dia baru ingat tadi setelah dia pulang dari kampus, dia hanya berganti baju tanpa membersihkan diri, kemudian langsung menangis hingga tertidur. Maka dari itu ia mau saja diajak bergabung.
Sementara Jane malah yang merasa tak apa-apa kalau benar Ryan mengajaknya bercinta, tapi laki-laki itu sendiri yang menolak karena dia tahu Jane tak benar-benar sedang dalam mood untuk melakukan hal tersebut. Dan tentu saja seperti Christian Dave yang biasanya, cowok itu gak ingin melakukan sesuatu yang tidak diinginkan Jane. Kenyamanan Jane masih akan jadi prioritas Ryan di atas apapun.
Akhirnya, mereka berdua hanya benar-benar mandi bersama tanpa ada embel-embel yang lain, walaupun gak terelakkan masing-masing masih saja beberapa kali sengaja menggoda, merangsang, dan berciuman.
Tahu bahwa Ryan sedang lelah, Jane tak banyak menuntut ini dan itu selepas keduanya makan malam—oh, ralat, makan di dini hari mengingat ini sudah hampir pagi.
Kini, Jane dan Ryan saling berhadapan dalam posisi tidurnya. Perempuan itu menaruh kepala di lengan kekar Ryan, dengan selimut warna putih dan tebal hangat yang menjadi penutup tubuh mereka berdua dari ujung kaki hingga pundak.
Apa Ryan sudah pernah bilang bahwa Jane versi muka telanjang alias tanpa make up sama sekali—entah bangun tidur atau sehabis mandi—adalah versi terbaik perempuan itu? Dan kali ini, setelah tiga hari dia berada di luar kota meninggalkan Jane, tentu saja Ryan sangat rindu.
Ulang, sangat rindu.
Ryan tak ingat kapan terakhir dia bisa merindukan orang sampai seperti ini. Rasanya menyesakkan ketika berjauhan, sering kali rasa rindu membuatnya hampir kehilangan akal, dia hampir memesan tiket pesawat kalau saja tak ingat bahwa ia harus bertanggung jawab dengan pekerjaan di tangannya sekarang.
Lalu ketika mendapati wajah pelaku yang membuatnya rindu setengah mati itu kini sudah berada di depan wajahnya, tersenyum lembut, dengan mata penuh sorot kasih sayang, Ryan tidak bisa menahan lebih lama untuk tidak mencondongkan wajah.
Tangan besarnya mengusap lembut pipi Jane, lalu kecupan jatuh begitu ringan di kening perempuan itu. Sangat lama. Jane memejamkan matanya, apa lagi ketika kecupan Ryan turun ke kedua matanya. Ah, kenapa Jane jadi sangat sensitif sekarang? Berhasil merasai bagaimana Ryan begitu menyayanginya hanya lewat kecupan singkat, Jane sudah ingin menangis lagi.
Setelah ujung hidung Jane dijatuhi kecupan pula, Ryan menjauh, sengaja mengunci tatapan Jane.
“I miss you.”
Tawa renyah keluar dari bibir perempuan itu. Jane menggenggam tangan besar Ryan di pipinya.
“Miss you more, babyboy.”
“Beneran?” tanya Ryan memicingkan mata dibuat-buat, membuat Jane lagi-lagi tertawa.
Cewek itu mengangguk. “Rasanya pengin nyusulin lo kesana aja, gak papa gak usah kelas,” lanjutnya.
Itu sepenuhnya bukan kebohongan. Jane berkata jujur kala dia bilang bahwa dia merindukan Ryan juga. Jane juga jujur kala dia bilang bahwa dia ingin menyusul Ryan ke Gorontalo hingga merelakan kuliahnya. Tapi yang tidak Jane katakan adalah, alasan kenapa ia sampai ingin menyusul Ryan bukan karena Jane sudah tidak kuat menahan rindu. Tapi dia ingin lari dari Jakarta. Ia ingin lari ke pelukan Ryan yang gak pernah gagal memberinya rasa aman dan nyaman.
Tentu saja masih ada kaitannya dengan nama Kaisar.
“Where’s my kiss?”
Ryan menaikkan satu alisnya. “Hn?”
Jane menunjuk bibirnya sendiri. “Yang disini belum.”
“Ah, right,” Ryan membelai lembut bibir Jane, dirasainya beberapa saat, meluapkan tidak hanya rasa rindu tapi juga sedih dan khawatirnya karena dia tahu Jane sedang tidak baik-baik saja.
Setelah puas dengan ciuman itu, Jane langsungberingsut melingkarkan tangannya memeluk Ryan, dengan satu kaki naik ke atas betis kekasihnya, betulan memeluk erat-erat. Kepalanya bersembunyi di d**a penuh tato laki-laki itu hingga Jane bisa merasakan bagaimana detak jantung Ryan.
Sebagai balasan, Ryan mengusap punggung Jane dengan sayang, dagunya menempel di atas puncak kepala perempuan tersebut.
“Besok masuk kelas?” Jane tanya mengingat besok memang bukan hari libur. Keduanya harus tetap kuliah. Tapi ia tak yakin Ryan masuk karena dia baru pulang di jam dua dini hari.
“Bolos kelas pagi, masuk siangnya.”
Jane mengangguk di pelukan Ryan. “Iya, istirahat dulu aja.”
Itu memang pilihan terbaik. Jane tak ingin lelakinya kelelahan karena memforsir tenaga. Laki-laki itu ke luar kota bukan untuk liburan, tapi bekerja yang mana menguras tenaga dan otak, sudah pasti dia pulang membawa lelah.
“Dih, detak jantungnya udah biasa aja sekarang,” komentar Jane. “Dulu suka cepet gitu kalau deket aku. Gak jatuh cinta lagi, nih, ceritanya?”
“Ngaco.”
Jane nyengir.
“Kamu besok kelas pagi?” Ryan ganti bertanya.
Jane mengangguk. “Iya.”
“So you need to close your eyes right now, babe. Ini udah jam tiga.”
“Aku kelas jam delapan.”
“That’s why,” Ryan melonggarkan pelukannya dan mengecup kening Jane, lalu bibirnya dan kedua pipinya. “Tidur sekarang, Princess.”
Jane tersenyum lebar. Panggilan baru untuknya terasa manis di telinga. Sangat manis dan Jane suka.
“Kamu juga, kan? You need to take a rest.”
“Iya.” Ryan memejamkan matanya dengan hidung menghirup wangi rambut Jane. “Good night. Sayang.”
“Good morning, Ryan,” jawab Jane sembari meralat, mengingat ini memang bukan malam lagi, melainkan pagi.
Seiring dengan keheningan menyelimuti mereka, Jane merasakan nafas Ryan yang teratur. Dia mengecup d**a Ryan, memastikan bahwa laki-laki itu tak akan terganggu dengan pergerakannya. Dan memang tidak.
Jadi yang Jane lakukan setelahnya adalah menjauhkan kepalanya dari Ryan, bukan untuk bangun dan beranjak, melainkan karena dia ingin sisa pagi ini dia habiskan untuk mengamati wajah laki-laki itu.
Terdengar sangat clingy memang. Jane akui. Dia bahkan tak pernah repot-repot melakukan ini untuk Theo, Jidi, bahkan pada Kaisar yang sangat dicintainya dulu itu. Tapi kini dia jadi perempuan yang serba cheesy. Dia menemukan ketenangan dalam hatinya kala menatap wajah terlelap Ryan.
Jane harus akui, dia bahkan tak pernah menemukan rasa semacam ini, nyaman sekaligus aman, diciprati begitu banyak kasih, sayang, cinta, dan perhatian, selain dari Ryan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Jane mungkin jadi sedikit berlebihan, tapi sejujurnya dia merasa semalam memang dia berhasil tidur sangat nyenyak. Ryan adalah faktor utama mengapa Jane benar-benar bisa melepas lelah dalam rengkuhan pria tersebut. Selain betulan karena ia merasa hangat, Jane tahu pelukan Ryan adalah pelukan paling tulus dan manis yang pernah ia dapatkan.
Kini di pukul setengah tujuh, Jane berhasil bangun tanpa harus dibangunkan. Entah oleh Ryan atau bahkan alarm. Jane bahkan lupa memasang alarm semalam.
Cewek itu mengerjap pelan, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk melalui gorden, dan kini yang ia temukan adalah wajah Ryan di hadapannya.
Bibir laki-laki itu sedikit terbuka, rautnya tenang, Jane memberikan kecupan di pipi Ryan sebelum bergerak sepelan yang ia bisa. Berusaha tidak membangunkan laki-laki yang memang mudah bangun itu. Masih ingat bahwa Ryan adalah morning person?
Jane baru duduk dengan satu kaki yang sudah berhasil menyentuh lantai ketika kemudian kekasihnya bergerak. Jane langsung menoleh, kemudian masih dengan mata terpejam, lengan Ryan melingkar menahan pinggangnya, disusul dengan kepala laki-laki itu yang ditaruh di paha Jane.
Ah, kalau begini mah Jane tahu cowok ini udah bangun.
Cewek itu merunduk, sedikit kesusahan mengecup kepala Ryan tapi tetap ia lakukan.
“Good morning, Ganteng.”
Senyum kecil yang terukir di bibir Ryan padahal cowok itu masih memejamkan mata membuat Jane ikut senyum.
“Kamu tidur aja, kan baru tidur jam tiga. Aku mau mandi.”
Ryan hanya diam, tak bergeming sama sekali, seolah dia tuli sehingga gak bisa denger pacarnya ngomong apa. Yang ada, dia menyamankan posisi tidurnya di paha Jane.
Jadi Jane mengalah, dia mengusap kepala Ryan, membuat laki-laki itu makin terlelap.
“Kayak gini gak mau dipanggil bayi gede,” ledek Jane setengah bergumam, tapi Ryan masih bisa menanggapi itu dengan memberi kecupan di pahanya.
Beberapa saat seperti itu hingga kemudian Ryan bergerak lagi, mendongak dengan mata terbuka, sedikit.
“Jam berapa?”
“Setengah tujuh,” Jane noleh ke jam di nakas. “Lebih sepuluh. Tujuh kurang dua puluh maksudnya.”
“Kram gak kepalaku di kamu gini?”
Jane mengangguk jadi Ryan memindahkan kepalanya di bantal lagi. Cewek itu langsung berdiri.
“Tidur lagi aja. Aku mau mandi.”
Ryan mengangguk tapi matanya menolak terpejam lagi. “Where is my morning kiss?”
“Nanti, ya. Mau gosok gigi.”
“Ck.”
“Jangan jorok.”
Jane emang paling anti ngasih ciuman bangun tidur. Walaupun kalau ngelihat di film-film barat kayaknya romantis baru bangun dicium pasangan, tapi bagi Jane itu jorok. Mereka bisa aja ngiler pas tidur, atau gak sikat gigir sebelum tidur, bau nafas dan lain sebagainya.
Makanya, kalau pun dia pernah, itu pasti cuman sekali atau dua kali dalam hidupnya. Jane lebih suka buat tidak melakukannya.
Ryan langsung meneungkupkan wajahnya ke arah bantal, pura-pura ngambek tapi Jane cuman ketawa.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Kaget!”
Jane terpekik, betulan terkejut kala saat dia hendak meraih handuk di dalam toilet yang digantung, tiba-tiba Ryan mencolek pundaknya. Cowok itu tertawa tak merasa bersalah.
“Kok nyusulin?”
“Mau sikat gigi,” kata Ryan kemudian berlalu begitu saja. Mengambil sikat gigi dan pastanya.
“Gak ngantuk emang?”
“Habis kamu berangkat aku tidur lagi, kok.”
Jane manggut-manggut. Dia berdrii di samping cowok yang bertelanjang d**a itu, ikut menggosok gigi di sampingnya sambil sesekali saling tatap lewaat cermin, kemudian keduanya terkekeh tanpa alasan.
Begitu terus sampai kemudian acara menggosok gigi selesai.
“Mau mandi sekalian?” Jane menawarkan.
Ryan menggeleng. “Kamu keburu telat kalau aku gabung mandi sama kamu.”
“Gak papa. Sepuluh menit cukup, kan?”
Ryan tetap menggeleng. “You can only give me a morning kiss. That’s enough for now.”
“For now?”
“Iya. Yang lebih-lebih bisa nanti malem aja. Lepas kangen.”
Jane tertawa, tapi tak urung tetap berjinjit dan melingkarkan kedua tangannya di leher sang kekasih. Dia maju dan memberi ciuman lembut di bibir Ryan, yang dibalas Ryan dengan memiringkan wajah untuk memperdalam pagutan mereka. Tangan Ryan sudah bertengger erat di pinggang ramping sang kekasih.
Keduanya berciuman lama sekali, kemudian berhenti demi menarik nafas, kemudian kembali saling memagut. Begitu terus tapi sampai berpindah-pindah tempat. Mulai dari dinding satu hingga dinding lainnya. Mulai dari berdiri hingga mendudukkan Jane di wastafel.
Beruntung Ryan bisa mengendalikan diri bahkan ketika pacarnya sengaja menggoda dengan membelai sekilas bagian depan celananya. Ryan hanya mengerang, kemudian memberi remasan di d**a Jane sebagai balasan, tapi sudah. Ia memilih menyudahi.
“Enough, Babygirl. Aku gak mau kepancing. You should talke a bath now and go to campus, right?”
Kini jadi Jane yang mengerang tak puas.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *