32 : the best decision

1016 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Gimana?” Jane menoleh bingung kala baru saja dia duduk di bangku kelasnya pagi ini, dia tiba-tiba mendapati pertanyaan begitu dari Hanna. Dahinya berkerut bingung. “Apa?” “Lo udah dapet jawaban?” Hanna bertanya lagi. “Soal Kaisar kemarin.” Raut wajah Jane yang tadinya nyengir mulu mulai dari apartemen sampai di kampus ini langsung merosot begitu saja, berganti dengan raut datar. Bahkan kalau Hanna enggak mengingatkannya tentang ini, dia mana sadar. Dia gak ingat sama sekali kalau kemarin Kaisar memintanya memberi jawaban. Semuanya berkat Ryan. Lagi-lagi selalu karena Ryan yang jadi alasan mengapa Jane tidak mengingat hal-hal tentang mantannya tersebut. “Belum. Gue bahkan gak inget kalau gak lo ingetin.” “Dia belum nemuin lo sama sekali?” Jane menggeleng. “Baru juga kemarin, Han. Tapi gue berharap dia gak muncul lagi, sih.” katanya diakhiri dengan helaan nafas. “Kemarin Ryan udah balik.” “Oh, ya?” “Hm.” “That’s why mood lo bagus hari ini?” Jane nyengir. “That’s why juga gue minta tolong ke elo buat gak ungkit-ungkin si Kai.” “Oke, oke, i’m sorry. Tapi gue bisa ambil kesimpulan.” “Apa?” “Lo kalau ada Ryan, semuanya kayak bisa langsung terkendali.” Lengkung tipis di senyum Jane terlukis. “That’s why i love him, Han.” Dan Jane kali ini sama sekali enggak berbohong. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sebenarnya, Jane gak sepenuhnya berbohong pada Hanna tentang bahwa dia gak ingat sama sekali tentang kejadian kemarin antara dia dan Kaisar. Tentu saja dia masih kepikiran, apa lagi karena laki-laki itu, dia jadi menangis semalaman dan tak jujur pada Ryan atas apa yang membuat matanya sembap. Tapi Ryan memang selalu menjadi obatnya. Jane gak menampik tentang yang satu itu. Maka disinilah Jane sekarang. Di salah satu kafe tengah kota yang tak banyak orang berkunjung, menunggu kehadiran Kaisar di pukul sepuluh pagi. Tadi ketika kelas paginya berlangsung, Jane gunakan untuk berpikir baik-baik tentang apa yang harus ia lakukan. Ia tahu cepat atau lambat Kaisar pasti akan kembali lagi ke hadapannya dan menuntut jawaban. Jane tidak ingin besok-besok. Ia ingin hari ini saja memberikan jawaban agar semuanya selesai dan ia bisa menjalani hubungannya dengan Ryan tanpa gangguan. Maka dari itu tadi Jane langsung membuka blokirnya pada nomor w******p Kaisar untuk memintanya menemui Jane di salah satu kafe dekat kampus, di pukul 10. Alias saat ini, disini. Jane gak perlu menunggu lama, karena baru dia duduk tidak ada lima menit, tubuh jangkung dengan jaket cokelat kayu andalannya muncul dari arah pintu utama. Sendirian, tentu saja. Lalu dalam sekali lihat pula, Kaisar menemuan tempat duduk Jane dan tersenyum. Sayang sekali karena Jane sedang tak ingin berramah-tamah, jadi yang ia lakukan hanya menatap Kaisar yang mendekat, bahkan sampai cowok itu mendudukkan p****t di kursi seberangnya, Kaisar masih tak memutus tatapan. “Hai, Beautiful,” sapa Kaisar dengan senyum manis. “Gue gak tahu kalau lo udah bisa ngasih jawaban sekarang banget. I mean, if you need more time, i’ll give it to you.” Jane menggeleng. Ia menatap gelas berisi lemon tea-nya di hadapan. Sengaja sudah memesan dua agar ia dan Kaisar tak terjebak terlalu lama disini karena harus menunggu pesanan datang, “Gue udah punya jawaban. Makanya gue minta ketemu.” Kaisar mengernyitkan dahi. Baru sadar bahwa sejak tadi Jane tidak membalas senyumannya, baru sadar kalau atmosfer di sekitar mereka sangat tidak menyenangkan. Perasaan Kaisar jadi tidak menentu, mulai merasa tidak nyaman, dan ketakutan. Sesunguhnya, Kaisar berharap banyak pada pertemuannya pagi ini dengan Jane. Ia berpikir mungkin Jane akan memberinya jawaban iya, atau setidaknya kesempatan kedua sehingga mereka dapat membangun chemistry lagi sebelum kembali bersama. Tapi kenapa nampaknya tidak? Kaisar meneguk ludah sedikit kesusahan. “Jadi? What’s your answer?” “Gue—“ “Wait, wait, wait,” Kaisar menyela. “Jennie Baby, gue harap lo gak perlu ngasih jawaban secepet ini. Gue bisa nunggu kalau lo butuh waktu banyak buat mikir. Gue udah bilang, kan, kemarin? Take your time as long as you need, i’m okay waiting for that. Jangan sampai nyesel sama pilihan lo.” Jane menghela nafas. Sorot dinginnya semakin menjadi-jadi. “Gue bakal lebih nyesel kalau menunda-nunda ngasih lo jawaban.” “....” “Kaisar, gue gak bisa balik sama lo sekalipun lo janjiin lo mau berubah. Gue gak mau ninggalin Ryan. He saves my life. Gue cinta sama dia—“ “No, you’re not.” “Belum sebesar itu emang, tapi gue tetep cinta sama dia. Dia berarti banyak buat gue,” Jane mengangkat telapak tangannya di hadapan Ryan, meminta cowok itu untuk tetap diam dan gak menyela ia berbicara karena mulut Ryan sudah terbuka dan hendak bersuara. “Jadi gue harap lo gak gangguin gue lagi. Please. Gue udah bahagia sama Ryan. Gue harap lo bisa ngehargain keputusan gue. Lo gak bakal ngelakuin hal b******k lain selain selingkuhin gue dulu, kan?” sebagai penutupan, Jane memberinya senyum lagi. “I hope nothing but the best for you. Tapi tentu bukan sama gue. Dan kalau soal maaf, gue udah maafin lo. Tapi gue gak pernah lupa.” Iya, Jane gak akan pernah lupa tentang pengkhianatan yang dilakukan laki-laki di hadapannya itu. Patah hati terbesarnya terhadap laki-laki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN