* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kaisar sempat menahan Jane agar tak pergi meninggalkannya begitu saja, keduanya semoat berdebat karena laki-laki itu terus memohon diberikan kesempatan kedua, sementara Jane terus menolak hingga lelah sendiri meladeni Kaisar. Beruntung Jane gak kehilangan kesabaran hingga melempar sepatu ke kepala Kaisar saking sebalnya.
Tak ingin kelepasan berteriak sekali lagi di tempat umum karena amarahnya terus dipancing, Jane memilih meninggalkan uang di atas meja untuk membayar pesanan lalu pergi. Kali ini Kaisar memilih tetap diam dan tak menahan.
Laki-laki itu terduduk lemas begitu saja setelah bahunya didorong kencang oleh Jane dengan umpatan yang keluar dari bibir itu. Jujur saja, Kaisar tak tahu mengapa Jane begitu keras kepala dan tak mau memberikannya kesempatan sementara mereka sama-sama tahu bahwa keduanya masih saling menyimpan rasa.
Lelaki itu memandangi punggung mantan kekasihnya yang terus menjauh ke arah tempoat parkir, Kaisar menghela nafas dan menjambak rambutnya sendiri sebagai pelampiasan.
Dia sangat tahu, dia sangat sadar, kalau saja dia tak egois dengan berkhianat di belakang perempuan itu, bermain api dengan Crystal, maka semuanya tak akan menjadi seperti ini. Dia tak perlu kehilangan Jennie Laura yang mencintainya dengan tulus. Pun sekarang dia juga kehilangan Crystal. Perempuan cantik dan baik itu juga meninggalkannya dengan alasan tak kuat lagi bertahan di sebuah hubungan toxic dengan Kaisar.
Bukankah kini dia sungguh sangat menyedihkan? Kaisar kehilangan dua perempuan yang ia cintai. Jane dan Crystal. Ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa karena ini memang murni salahnya. Andai saja dia bisa lebih tegas dengan tak mendua, dan tak rakus untuk memilih keduanya, ini tak akan terjadi.
Tapi penyesalan tinggal penyesalan. Apa yang Kaisar miliki saat ini tak lain dan tak bukan hanyalah bayang-bayang dari dua perempuan yang meninggkannya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Tepat ketika Jane pulang ke apartemen di sore hari, ia tak bisa menutupi senyum lebarnya kala menemukan Ryan di dapur dengan apron dan tubuh berotot yang membuatnya tampak lucu. Kaos hitam milik Ryan yang jumlahnya mungkin lebih dari sepuluh itu tak pernah membuatnya bosan. Malahan, Jane selalu tergila-gila lagi dan lagi saat kekasihnya dibalut kaos hitam, atau kemeja hitam, atau hoodie hitam, atau jaket hitam.
Ryan menoleh ke belakang sekilas masih dengan tangannya yang memegang sesuatu, lalu tersenyum sambil mengocok telur.
“Hai, babygirl.”
Jane meninggalkan tasnya sembarangan di atas karpet, lalu berlari kecil untuk memeluk Ryan dari arah belakang.
“Woah, woah,” Ryan tertawa, mencoba menemukan wajah Jane di belakang tubuhnya tapi tidak bisa. “Kenapa, hm?”
“Gak papa. Kangen aja.”
Ryan tersenyum mendengar itu.
Jane yang tadi memeluk dengan menaruh pipi di punggung Ryan kini memilih untuk menopang dagu di pundak cowok tersebut.
“Tadi gak kelas?”
“Kelas, kok. Cuman langsung balik ke apart. Maaf ya gak sempet ke departemen kamu.”
Jane bergumam mengiyakan sambil menghirup wangi Ryan. “Masak apa?”
“Omelet. Udah makan belum?”
“Belum.”
“Nice, kita makan bareng abis ini.”
“Hmmm,” Jane bergumam saja.
“Bisa lepas dulu, Sayang?” tanya Ryan setengah menggoda. “Gimana caranya aku masak kalau kamu gini?”
“Bisa, pasti bisa.”
“Bisa tapi gak maksimal,” Ryan memberinya kecupan di bibir kala wajah Jane condong miring ke arahnya. “Duduk yang manis, aku masakin.”
“Oke, oke, you win.”
Jane melepas rengkuhannya setelah memberi kecupan beberapa kali di tengkuk Ryan, lalu mundur dua langkah dan membiarkan pacarnya itu berkecimpung dengan bumbu dan bahan dapur yang entah apa saja.
“Mandi dulu juga gak papa. Asal gak kelamaan biar makanannya gak keburu dingin.”
“Hng, no. Mau makan dulu.”
Jane menarik kursi di meja makan, lalu duduk disana tanpa mengalihkan wajahnya dari punggung lebar Ryan. Dia menopang dagunya, senyum manis terulas, tidak luntur sama sekali. Dia sudah seperti orang gila. Atau lebih tepatnya seperti anak baru gede yang baru ngerasain rasanya jatuh cinta. Seperti bocah SMP yang baru pertama kenal pacaran.
Lalu senyumnya perlahan hilang di detik dimana bayangan wajah Kaisar dan perdebatannya dengan laki-laki ini belakangan ini. Dia melirik Ryan lagi.
Haruskah dia menceritakan apa yang terjadi di belakang Ryan beberapa hari ini? Haruskah?
Tapi tak ada untungnya juga dia menutupi apa yang terjadi. Toh Jane juga merasa sudah seharusnya Ryan tahu. Dia tak ingin mendapat karma jika suatu saat nanti tiba-tiba dibohongi Ryan. Betul, kan? Karena pepatah yang bilang bahwa apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai memang benar adanya.
Jadi sekali lagi, apa Jane harus menceritakan tentang Kaisar pada Ryan? Tapi apakah kekasihnya akan marah jika mendengar itu mengingat Jane pernah sekelibat memiliki keinginan kembali pada Kaisar dan meninggalkan Ryan?
"Babe,"
Suara Ryan serta langkah laki-laki itu yang mendekat cukup mengejutkan Jane.
"Kok ngelamun?"
Dan berapa lama Jane melamun? Kenapa tiba-tiba sudah ada piring berisi omelet di depannya?
"Mau cerita sesuatu?"
Haruskah?
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *