34 : grateful God created you for me

1042 Kata
Ryan dan Jane masih duduk berhadapan di meja makan, dengan dua piring kosong setelah keduanya mengisi perut. Tak ada yang ingin beranjak, keduanya sama-sama sedang kekenyangan. Ryan menyandarkan punggung sembari menatap lurus ke arah Jane yang menyeduh teh jasmine kesukaannya. Oleh-oleh dari Ryan yang bukan dibeli di Gorontalo, melainkan di perjalanan pulang dari bandara menuju apartemennya. Jane kembali menaruh cangkirnya, kemudian melipat kedua tangan di atas meja dan menatap Ryan dnegan punggung tegak. Posisinya seperti anak yang duduk di bangku sekolah dan guru menyuruh untuk sikap duduk tegak agar bisa segera dipulangkan. “Yan.” “Yes, baby?” “Mau ngomong.” Ryan mengangguk. “Go ahead.” “Aku habis ketemu Kaisar tadi,” Jane melirik ke arah Ryan sedikit ragu dan takut. Entahlah, padahal dia tahu Ryan bukan laki-laki yang bersikap kasar apabila ia melakukan kesalahan. Dia cukup tahu segentle-man apa kekasihnya itu. Tapi ketakutan Jane bukan atas itu, tapi karena ia takut mendapati sorot wajah kecewa dan terluka dari laki-laki itu. “Kebetulan ketemu?” Jane menggeleng. “No. Aku yang ngajakin dia ketemu—wait, aku jelasin dari awalnya, ya, biar gak bingung?” Ryan tentu saja mengangguk sebagai jawaban. Begitu memang lebih baik. “Pas aku clubbing sama Hanna di Swillhouse, inget?” “Inget.” “Aku ketemu Kaisar. Terus dia ngajak aku ngobrol, ngomong kalau kangen blablabla.” “Kangen kamu?” “Hm,” Jane menggumam mengiyakan. “Aku gak tahu kenapa dia tiba-tiba bilang gitu, padahal kemarinnya kan kita masih ketemu dia di rumah sakit, yang dia bilang Crystal lagi opname itu. Terus aku tanya, kenapa dia disini, bukannya nemenin Crystal di rumah sakit, dia bilang Crystal udah pulang.” “Oke, terus?” Jane menceritakan semuanya denagn lengkap, semua kejadian yang ia alami selama tak ada Ryan di Jakarta, bagaimana semuanya dimulai dengan Kaisar yang terus menemuinya dan bilang rindu, meminta ia untuk kembali pada Kaisar dan lain-lain. Tanpa ada yang kurang. Jane meluapkan semuanya. Dia tak ingin menutupi apapun. Tidak pada laki-laki yang menyayanginya setulus Ryan. Jane dapat melihat ekspresi terkejut yang sempat diperlihatkan oleh Ryan ketika Jane bilang bahwa Crystal dan Kaisar sudah putus, maka dari itu Kaisar berani meminta Jane agar mau kembali dengan laki-laki itu dan memaafkan perbuatan yang ia lakukan dulu di belakang Jane. Jane bahkan menceritakan bahwa dia tak bisa memberi jawaban sekaligus di detik dimana Kaisar meminta kesempatan kedua. Ia pulang dan menangis karena ia merasa bingung dan tertekan, atas perasaannya yang masih sering dibuat bimbang oleh Kaisar, juga rasa bersalah pada Ryan karena mereka sudah berpacaran, Jane  menceritakan semuanya tanpa ditutupi. “Aku udah ngerasa sih jujur,” ujar Ryan merespon. “Udah nebak kalau kamu nangis pas aku pulang itu ada hubungannya sama Kaisar.” “...Maaf. Tapi tadi, aku sengaja ngajakin dia ketemuan buat clear-in semuanya.” Lalu Jane menceritakan bahwa ia sudah menolak apapun yang ditawarkan oleh Kaisar. Sekalipun laki-laki itu tetap memohon, Jane sudah memutuskan. Dan ia tahu keputusan yang ia buat adalah yang terbaik. “So, everything is clear now?” Jane mengangguk yakin. “Kamu... kalau mau marah, it’s okay. Aku dengerin.” “Kenapa harus marah?” senyum di bibir Ryan melengkung tipis. “Pacarku udah berani buat keputusan. Dia gak ninggalin aku, milih nutup masa lalunya. Sekarang kenapa aku harus marah? Harusnya aku berterimakasih karena kamu milih aku dari pada yang lain.” Dan demi Tuhan, berapa kali Jane dibuat kagum dengan sifat dewasa dan bijak laki-laki di hadapannya ini? Ryan selalu bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan mau melihat sebuh problem dari sudut pandang yang berbeda. Kalau ini laki-laki lain, Jane yakin tak akan semudah ini mengakui bahwa mantan kekasihnya beberapa kali menemuinya untuk meminta kembali, tak akan semudah ini mengakui bahwa dia menangis karena perasaannya yang goyah pada pacar sendiri. Tapi lihat apa yang dilakukan Ryan saat ini. Laki-laki itu malah berterimakasih. Ryan merentangkan tangannya lebar, masih dengan duduk di kursi yang ia tempati sedari tadi. “Can i get a hug from my princess now?” Dan Jane tersenyum merekah begitu saja. Tak perlu berpikir panjang untuk dia akhirnya beranjak dan duduk di pangkuan pacarnya, memeluk erat leher Ryan, mengundang tawa kecil dari laki-laki itu. Ryan mengusap belakang kepala Jane dan mengecupi pundaknya. “Good job, Sweetheart. Kamu udah berani ambil keputusan. I’m proud of you.” “Kamu bilang gini kayak aku bukan habis nangisin cowok lain.” “Gak papa, dong. Kamu berani jujur ke aku juga harus diapresiasi, tahu.” Ryan merasakan pelukan Jane di lehernya semakin erat. “You’re one of a kind, Yan.” “Enggak, kamu yang gitu.” “Berarti kita sama-sama beda dari yang lain.” Ryan tertawa saja menanggapi. “I miss you.” “Miss you too.” “Can i get a kiss now beacuse i’m feeling grateful God create you for me?” Jane bertanya setelah melepas pelukannya, tapi tidak turun dari paha Ryan. “Hm?” Ryan gak pernah mendengar kalimat manis dari Jane. Selain karena cewek itu emang gak pinter ngegombal—cuman pinter ngebaperin lewat tingkah lakunya doang—Jane emang bukan tipe clingy yang suka menghambur-hamburkan candy words. Tapi kini, Ryan mendengar kalimat yang keluar dari bibir Jane bahwa perempuan itu bersyukur karena Tuhan membuat Ryan menjadi milik gadis itu, membuat hati Ryan menghangat dan melambung tinggi. Andai Jane tahu seberapa berartinya perempuan itu untuk Ryan. Keduanya impas. “Of course,” ujar Ryan dan membubuhkan kecupan lama di kening sang pacar, Jane terpejam, menikmati bagaimana Ryan menyalurkan rasa sayangnya lewat ciuman tersebut. “For my one and only the prettiest girlfriend in the whole world,” Ryan mengecup pucuk hidungnya. “Yang udah berani jujur, udah berani ambil keputusan, dan udah milih aku, thank you.” katanya sebelum kemudian merangkum wajah Jane dan memagut bibirnya lembut. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN