* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Hng?” Jane mengucek matanya, berusaha fokus walaupun susah karena masih ngantuk banget.
Ya iyalah, Jane baru tertidur di pukul dua tengah malam setelah percintaan panas yang ia lakukan bersama sang kekasih, Christian Dave, dan kini entah bukul berapa, dia yang masih nyaman di alam bawah sadar malah harus terkejut karena dering ponsel yang gak kunjung berhenti. Ternyata yang nelpon Hanna.
“Sial,” belum apa-apa, bahkan tak ingin menyapa dan memberi salam pembuka, Hanna langsung mengumpat. “Lo baru bangun?!”
“...”
“Ini udah setengah sembilan, stupid!”
Jane menoleh ke arah dinding, matanya yang masih susah menyesuaikan cahaya itu kini nampak jarum jam yang menunjuk ke arah angka 9. Hanna tak berbohong.
“Ini kelasnya Bu Puri!”
Jane malah menguap. Kemudian menyengir. Tangan kanannya yang memegang ponsel di depan wajah karena teman baiknya itu ngevidcall bukan telpon biasa, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menutupi d**a telanjangnya dengan selimut.
“Sori, sori. Udah masuk emang dosennya?”
“Udah, tapi orangnya pamitan mau rapat.”
“Ya udah, gue titip absen aja.”
Hanna mendengus. Matanya memicing ketika kamera Jane bergerak, dia tak tahu tepatnya ada apa, tapi sebenarnya itu adalah tangan Ryan yang kini bergerak memeluk perut Jane, serta bibir laki-laki itu yang kini berada di pundaknya, masih dengan mata terpejam.
Melihat Ryan dan Jane sama-sama tidak memakai baju, terlihat bagaimana kulit pundaknya terbuka, Hanna langsung mengerti.
“Makanya, kalau kangen-kangenan, tuh, tau waktu. Biar gak pake begadang sampai bangun tidurnya kesiangan.”
Jane nyengir doang. “Ngaca, lah. Lo biasanya sama Jeff emang gimana?”
“Halah, tau, deh. Bayar lo titip absen ke gue!”
“Iye, gue traktir bakso segerobak. Udah, ah, gue matiin, ya. Makasih banyak, by the way.”
Setelah panggilan video antara dua perempuan tersebut terputus, Jane yang berniat menaruh kembali ponselnya dan balik tidur—walaupun dia yakin Ryan ini udah sempet kebangun karena suaranya yang berisik—mengurungkan niat.
Beberapa denting suara ponsel masuk, pertanda ada pesan yang baru saja datang ke nomornya. Jane membuka password ponsel lagi, lalu mengernyit kala nama Hannalah yang mengiriminya pesan.
Hanna Nadinia:
udah beres urusan lo sama kaisar dan ryan?
kok udah kelon aja.
apa lo beloman cerita apa-apa?
gue tadi mau nanya langsung pas vidcall tapi takutnya lo belum bilang apa-apa ke cowok lo
takut dia denger
Jane tersenyum membaca deretan teks masuk tersebut. Sahabatnya yang satu ini memang sangat perhatian padanya. Terlihat dari bagaimana Hanna selalu menanyakan keadaan Jane dan masalah yang sedang dihadapinya.
Dengan cepat, dia segera membalas.
Jennie Laura :
udah beres semua, santai
makasih udah dikasih saran ya
titip makasih juga buat cowok lo
Karena Jane sadar banget, kalau Jeff waktu itu gak menamparnya pakai kata-kata yang membuatnya langsung tersadar, mungkin sampai sekarang dia masih dilema dan tak bisa memilih.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Saat kelas pertamanya sudah selesai di sekitar jam makan siang, Hanna seperti biasanya, selalu langsung ke kantin buat mengisi perut. Dia tak tahu Jeff dimana karena tadi Jeff berangkat lebih dulu karena cowok itu punya kelas pagi di pukul tujuh, sementara Hanna baru masuk jam setengah sembilan.
Tapi seperti biasa, tak perlu ada Jeff pun, Hanna selalu bisa menemukan teman-temannya yang lain di salah satu meja kantin. Seperrti saat ini, dia yang baru memasuki kantin tiba-tiba mendengar namanya diserukan oleh seseorang. Suaranya sangat familiar dan Hanna dalam sekali lihat langsung tahu dimana tempat duduk si pemilik suara.
“Han!”
Cowok itu, Juno, melambaikan tangan, menyuruh Hanna mendekat sementara di sampingnya ada Gana yang lagi makan sesuatu di dalam mangkok.
Hanna langsung mendekat, menaruh tas, dan duduk.
“Jeff mana?” Gana langsung nanya. “Tumben gak sama dia.”
“Gak dua puluh empat jam juga, kali, gue sama dia.”
Gana hanya mencibir.
“Gak pesen makan lo?” kali ini Juno yang nanya. Dia berdiri dari tempatnya. “Nitip aja gak? Gue mau beli mi pangsit.”
“Boleh, deh. Gue pake pentol, ya, dua.”
Juno mengangguk mengiyakan. “Ganti duit gue tapi. Bokek nih tanggal tua.”
“Ya elah pelit amat sama temen sendiri! Cuman lima belas ribu juga!”
“Eh, lima belas ribu bisa buat beli bensin, ya. Jangan ngaco lo.”
“Iya, iya. Gue ganti. Elah.”
Juno nyengir lalu meninggalkan Gana dengan Hanna saja berdua. Kalau Jeff lihat, pasti cowok itu langsung kelabakan sendiri. Si cowok posesif tersebut emang paling sensi sama Gana, nomor dua baru Ryan yang selalu kena semprot dia.
“Gue kemarin ketemu mantannya Jennie,” Gana memulai pembicaraan. “Siapa namanya? Kaisar?”
Hanna mengangguk. “Ketemu dimana?”
“Ada, di pinggir jalan. Tebak dia lagi ngapain?”
“Apa? Jack pot?”
“Mending kalau jackpot. Tapi kemarin dia lagi gelut anjir.”
“Lah, sama siapa? Di pinggir jalan banget?”
“Iya, sumpah. Gak tahu sama cowok seumuran sih kayaknya. Terus gue kan berhentiin mobil deket situ, tapi gak turun.”
“Ya elah, jiwa-jiwa kepo lo kumat, ya?”
Gana nyengir. “Terus tahu gak? Gue denger ternyata Kaisar tuh itu ditonjokin abangnyaini, siapa namanya, yang model jadi pacarnya sebelum sama Jane—“
“Crystal?”
“Iya, sama dia. Ditonjok karena Crystal hamil anak dia.”
“WHAT?!”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *