36 : happy over your bad news

1227 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Tentu aja kabar panas seperti itu udah pasti bakal sampai ke telinga Jane, cepat atau lambat. Kali ini secepat angin lewat, Hanna tentu aja langsung cerita ke Jane mengenai Gana yang denger kabar bahwa Crystal hamil anak Kaisar dan berujung mantan Jane itu ditonjokin sama abangnya Crystal. Jangan tanya kayak apa reaksi Jane pas pertama kali denger itu. Kaget, tentu. Walaupun gak kaget-kaget banget. Sebagai mantannya Kaisar, Jane jelas tahu kalau Kaisar tuh emang lebihsuka berhubungan tanpa pengaman, sukanya nyuruh si cewek rutin minum pil ketimbang harus gak bebas kalau pakai kondom. Dulu aja, tanpa berniat mengulas masa lalu atau merindukan yang udah-udah, tapi Jennie ma sih inget gimana dia sering berantem karena Kai maksa dia buat beli pil lagi dan kagi hanya karena cowok itu menolak diminta memakai kondom. Makanya, dulu pun dia pernah punya ketakutan tersendiri kalau suatu saat siapa tahu dia akhirnya hamil duluan. Jadi kalaupun sekarang dia denger kabar semacam ini, bahkan kalau aja ini dari salah satu jalang Kaisar yang lain, maka sebenarnya Jane tak akan terkejut. Tak akan terlalu terkejut, maksudnya. Karena semua salah Kaisar yang egois dan semena-mena. Laki-laki itu gak pernah mau mikirin efek panjangnya dengan membuang s****a ke dalam rahim perempuan. “Terus gimana?” Jane nanya, karena jujur aja, gini-gini dia juga punya sifat penasaran yang gak bisa sembuh kalau gak dituntasin langsung. Apa lagi gosip soal mantan akan jadi hal yang menarik buat dibahas. Hanna mengedikkan bahu sebagai jawaban. “Gak tahu. Lagian Gana juga gak dengerin sampai abis. Lo penasaran?” “Well, yeah. Dikit.” “Penasaran apa sakit hati karena dia hamilin cewek lain?” “Crystal tuh bukan termasuk cewek lain, sih, kalau kata gue.” “You know what i mean.” Jane yang kini jadi mengedikkan bahu. “Gue cuman ngerasa penasaran aja, dia bakal gimana. Karena bikin cewek hamil itu bukan masalah kecil, you know? Gue kebayang gimana sekarang dia bingung sama apa yang dia hadapi.” Hanna mendengus. “And you do that for what? Khawatir semacam itu, buat apa?” “Gue gak khawatir, oke? Gue cuman kebayang aja dia gimana. Udah. That’s it.” Lagian bagaimanapun, Jane betulan sudah jujur. Dia bukannya merasa sakit hati seperti yang dituduhkan. Bukan juga merasa kembali gagal move on. Dia cuman... gimana, sih, jelasinnya? Dia betulan cuman penasaran aja bakal gimana Kaisar ke depannya. Udah. “Yah, terserah lo mau bilang apa,” Hanna menghisap kembali batang rokoknya lalu mengembuskan perlahan asap dari mulut. “Gue cuman ngingetin, lo jangan labil, oke? That’s digusting. Kayak bukan lo banget yang suka labil abis A terus B terus A lagi terus B lagi.” “I know right.” “Dan apapun yang terjadi sama mantan lo, itu bukan urusan lo. Kecuali kalau lo butuh temen buat ngegosip dan ngehujat, i’ll be there for your partner.” Jane terbahak. “Sinting lo.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Babe?” Suara Jane menggema di sepenjuru apartemen karena volumenya yang kencang, membuat Ryan jadi membalas sama kencangnya dengan teriak dari arah kamar mandi. “Kamar mandi!” Tapi Jane tak membalas apapun. Toh niatnya mencari keberadaan Ryan juga bukan karena urusan penting. Dia hanya ingin menanyakan kenapa mesin pengering laki-laki itu tak bisa hidup. Di pukul delapan malam ini, Ryan yang baru pulang entah dari mana—bilangnya sih habis ngopi sama temen-temen kelompoknya—dan sekarang lagi mandi buat membersihkan diri karena habis dari luar, Jane malah harus berkutat dengan mesin cuci sekaligus pengeringnya karena dia lupa jas almamater yang seharusnya dia pakai di hari esok—yang mana emang wajib di MKU itu—kotor dan belum sempat dicuci. Andai saja baunya masih harum dan gak ada noda kecoklatan karena ketumpaham s**u kental manis, maka dia bisa aja nekat make, toh cuman dua jam doang mata kuliahnya. Tapi masalahnya, disana ada noda kotor dan Jane menolak memakainya. Ryan udah bilang kalau Jane bisa pakai jas almet miliknya aja, toh warna dan bentuknya sama karena mereka berada di kampus yang sama, tapi Jane jelas menolak karena ukurannya hampir dua kali lipat dari miliknya. Oke, lebay. Cuman kegedean doang tapi bukan kegedean banget. Tak lama ketika Jane mengotak-atik mesin pengering, berusaha sebisanya walau dia gak ada keahlian di perkabelan apa lagi servis-menyervis begini, Ryan muncul dari arah kamar mandi masih dengan bathrobe-nya. “Kenapa?” Jane menengok ke belakang sekilas sebelum menunjuk benda di depannya. “Mesin pengeringnya gak bisa. Rusakkah?” “Masa, sih?” Karena Ryan sendiri sebenarnya jarang pakai mesin cuci, karena dia lebih suka membawa pakaian kotor ke laundry dari pada menyuruh bibi ke apartemennya untuk mencuci, jadi dia gak tahu kenapa bisa mesin pengeringnya rusak. “Anak teknik harusnya bisa, sih, benerin.” Jane berujar sambil tersenyum miring. Ryan mendengus. “Kenapa coba anak Teknik selalu disangkut-pautin soal keahlian kalau ada barang rusak? Dikira tukang servis kali.” “Ya kan ada ilmunya gak, sih?” “Tergantung jurusannya, dong, Sayang.” Jane gak paham tapi dia mengangguk-anggukkan kepalanya doang sebagai formalitas. “Jasku belum kering. Gak bakal sempet, deh, nungguin matahari besok buat jemur.” “Pakai punyaku, kan aku udah bilang.” Jane diem, pertanda dia masih menolak. Jadi keduanya memikirkan rencana lain. Tapi bukannya mencari solusi, tiba-tiba Jane teringat skandal Kaisar yang didengarnya dari Hanna tadi. “Eh, Yan.” Ryan menggumam dengan mata masih lekat mengamati kabel di belakang mesin. Iya, cowok itu bahkan niat banget kayak mau servisin beneran dengan membalikkan mesinnya. “Mau aku ajak ngegosip, gak?” Cowok itu tersenyum geli. “Kenapa?” “Tadi Hanna cerita di kampus. Eh tapi aku mau ngomongin Kaisar, gak papa?” Ryan diem bentar, sebelum kepalanya kemudian mengangguk sebagai jawaban. “Dia kenapa?” “Masa kata Gana—Gana, tuh, temennya Hanna yang ngasih tahu tadi—katanya Crystal hamil. Kaisar yang hamilin dia.” Dan entah kenapa, Ryan merasa berdosa karena dia merasa senang atas kabar buruk yang menimpa Kaisar tersebut. Oh, bohong. Dia tahu apa alasannya kenapa dirinya merasa senang. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN