* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sejujurnya satu hal yang langsung ada di kepala Ryan kala dia mendengar dari mulut Jane bahwa Kaisar, yang notabene-nya adalah mantan kekasih cewek itu, kini dikabarkan menghamili mantan kekasihnya sendiri—bukan Jane, tapi Crystal—adalah bahwa Ryan merasa itu kabar bagus.
Dia gak masalah kalau orang yang tahu ini bakal berpikir kalau Ryan puya otak licik dan bulus karena bahagia di atas derita orang lain. Toh ini hidupnya sendiri.
Ryan cukup sabar selama ini menghadapi kisah rumit antara Jane dan Kaisar yang tak kunjung selesai. Dia ketakutan seorang diri, seolah tinggal menunggu hari dimana ia akan mendengar dari Jane bahwa perempuan itu berakhir memilih kembali ke pelukan Kaisar dan meninggalnya.
Dan sekarang, dengan adanya berita besar seperti ini, setidaknya Ryan tahu kalau Tuhan memberi peluang lebih besar untuk mendapatkan hati Jane seluruhnya. Lewat kehamilan Crystal yang sudah diketahui oleh kakak kandung cewek itu, tentu aja Kaisar mau gak mau harus bertanggung jawab, gak mungkin Crystal akan menggugurkan kandungannya sekalipun karir perempuan itu sebagai model sedang melejit, namanya sedang naik daun, dan karirnya sedang berada di puncak. Karena faktanya, Crystal sedari awal tak berniat menutupi kehamilannya dari media, terlihat bahwa dari satu jam yang lalu, berita di televisi sudah ramai memperbincangkan tentang sosok misterius yang jadi anak dari bayi yang berada di perut sang model tersebut.
Kaisar gak akan mungkin bisa lari, setidaknya keluarga Crystal tak akan membiarkan laki-laki itu lari dari tanggung jawab dan memperburuk nama Crystal di mata masyarakat Indonesia kalau sampai anak itu lahir tanpa ayah.
Maka dengan Kaisar yang sudah terikat mati di tangan keluarga Crystal—yang kalau boleh Ryan berpendapat lagi, pastilah Crsytal sengaja menyebarkan kehamilannya untuk mengikat Kaisar ke dalam pelukannya lagi karena kabarnya mereka sempat putus—maka kemungkinan Jane, kekasihnya, akan kembali pada Kaisar semakin sedikit.
Ryan tentu tahu secinta apapun Jane pada laki-laki bernama Kaisar tersebut, bukan berarti Jane rela nama dan reputasinya memburuk haya karena buta pada cinta. Dia gak akan senaif itu untuk mau-mau aja balikan sama calon ayah dari bayi yang dibuat dengan perempuan lain, apa lagi kalau setelah ini Kaisar menikah dengan Crystal.
Maka hubungan Jane dan Kaisar akan berakhir disini.
“Kok senyum-senyum sendiri, sih?”
Pertanyaan dari Jane itu membuat Ryan terkejut, cowok itu bahkan berjengit karena kaget, gak sadar kalau dari tadi dia ngelamunin segala peluang dan kesempatan yang dia dpaatkan sampai-sampai melupakan kehadiran Jane di depan matanya ini.
Ryan menoleh sesaat pada Jane sebelum kembali menghidupkan mesin pengering di depannya, mencoba satu kali lagi, tapi tak berhasil.
“Ini kayaknya rusak beneran,” Ryan melapor. “Gimana? Pinjem jas Hanna aja bisa, kan?”
“Ya dia pake sendiri, dong, Ryan?”
“Iya juga. Terus mau gimana? Dibilangin pakai jasku aja.”
Jane menghela nafas. “Iya, deh. Pake punya kamu aja. Besok aku atur cocoknya di OOTD-in gimana kalau jasnya kegedean gini.”
Ryan terkekeh. Dia mengacak puncak kepala kekasihnya kemudian merangkul sang perempuan.
“Yuk ke kamar. Mau ganti baju aku.”
“Eh, by the way, aku dari tadi nyeritain Kaisar ke kamu belum ada respon sama sekali, nih?” Jane berujar. “Jangan-jangan gak dengerin aku ngomong?”
“Dengerin, babe.”
“...”
“Kalau kamu nanyain tanggepanku, ya....” Ryan diem bentar. “I don’t know what to say. Kalau dia lari tanggung jawab, kasihan ceweknya.”
“Plus buktiin kalau dia emang sebrengsek itu.”
Ryan mengangguk. “Yep.”
Jane berjinjit dan mengecup pipi cowok itu. “That’s why milih kamu itu udah yang paling bener.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Di tempat lain di waktu yang sama, Kaisar sedang mengurung diri di kamarnya, dengan botol kosong alkohol yang berceceran dimana-mana, beberapa kulit kacang sebagai teman yang benar-benar bikin ruangan jadi kotor. Kaisar hanya seorang diri saja, dengan ponsel yang terus menyala tanpa ada keinginan untuk ia lihat dan baca, apa lagi membalas. Dia tahu siapa pengirimnya. Itu Crystal.
Kalau ada yang bertanya apa laki-laki itu menyayangi Crystal, jawabannya adalah iya. Kaisar mencintai perempuan itu. Dari dulu hingga sekarang. Lalu kalau ada yang bertanya apakah Kaisar ingin kembali pada Jane, jawabannya juga sama, iya. Dia mencintai kedua perempuan tersebut sama besarnya, tak bisa jika disuruh memilih salah satu. Dia ingin memiliki keduanya. Tapi mana bisa?
Saat Crsytal kemarin meminta putus darinya dengan alasan lelah dengan kelakuan Kaisar, laki-laki itu merasa sedih dan kacau. Dia tidak ingin ditinggalkan oleh perempuan itu. Tapi ketika dia mulai ikhlas dan bisa menerima keadaan, mencoba untuk berbaikan dengan Jane dan mencari kebahagiaan baru bersama Jennie Laura, Crystal kembali datang dengan kabar yang membuat kepala Kaisar hendak meledak.
Perempuan itu hamil. Crystal hamil anaknya. Kaisar tahu perempuan tersebut sama sekali gak berbohong. Ia mengenal Crystal sudah sejak lama, sudah bertahun-tahun. Crystal bukan tipe perempuan yang suka tidur dengan banyak orang. Bahkan jika boleh jujur, Crystal lebih masuk jadi istri dan menantu idaman dibandingkan Jane yang notabene-nya dikenal sebagai bad girl dan play girl.
Lalu dengan mengetahui bahwa Crystal hamil hingga dia mendapatkan bogem mentah dari kakak perempuan itu, apa yang bisa dia lakukan? Kaisar sangat belum siap menghadapi apapun yang ada di depannya kini.
Orang tuanya belum tahu apa-apa. Dan kalau sampai tahu, sudah jelas Kaisar akan mendapat pukulan dan bogem mentah lebih keras dari papanya. Dia terlahir dari keluarga ternama. Mencemarkan nama baik keluarga tentu adalah sebuah dosa dan larangan paling besar.
Tapi jika sudah begini, apa yang bisa ia lakukan?
Kaisar ingin bunuh diri saja rasanya. Tapi dia tak sampai hati untuk meninggalkan bayinya, darah dagingnya sendiri, untuk tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Ia masih bisa berpikir jernih bahwa apa yang harus ia lakukan saat ini adalah bertanggung jawab dan berani mengambil resiko.
Siapa yang bisa disalahkan sekarang sementara dia sendiri yang selalu membuang s****a di dalam rahim alih-alih memakai pengaman sebagai pelindung? Ini semua salah Kaisar sendiri
Tapi untuk kali ini, untuk hari kemarin dan hari esok, atau mungkin sampai minggu depan, biarkan Kaisar merutungi semuanya dengan memenjarakan diri sendiri di dalam kos seperti ini. Ditemani alkohol dan air mata sebagai pelampiasan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *