38 : what we gonna do now?

1133 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * To think that i was wrong I guess you don't know what you got 'til it's gone Pain is just a consequence of love I'm saying sorry for the sake of us Crystal : kamu mau sampai kapan kayak gini? lari dan gak mau nemuin aku? Kaisar membaca pesan Crystal yang muncul di notifikasi ponselnya. Tapi ia sama sekali tak tergerak dan memiliki keinginan membalas. Sama sekali tidak. Dia memilih menaruh kembali ponselnya, membiarkan lagu yang ia putar dengan judul My Everything milik Ariana Grande itu terputar sebagai temannya malam ini. He wasn't my everything 'til we were nothing And it's taking me a lot to say But now that he's gone, my heart is missing something So it's time i push my pride away 'Cause you are my everything Laki-laki itu sedang berada di balkon. Oh, sekedar informasi, dia memiliki kos sendiri, tapi dia juga memiliki rumah atas namanya sendiri. Hanya saja, dia lebih sering berada di kos karena rumahnya berada jauh dari kampus. Jangan tanya dia dapat dari mana hingga bisa membeli rumah atas namanya sendiri. Karena tentu saja laki-laki yang suka dipandang sebagai anak yang suka manfaatin orang dalam itu sebenarnya juga berkecimpung di dunia bisnis yang gak banyak orang tahu, yang mana tetap halal dengan keuntungan setinggi langit. Lalu di balkon manakah ia saat ini? Jawabannya adalah dia sedang berada di rumahnya sendiri. Tidak lagi berada di kos karena dia tahu orang-orang, termasuk Crystal dan keluarganya akan mencari dia kesana. Berada di bawah langit malam dengan segelas kopi americano yang hampir dingin tanpa ia sentuh sedari setengah jam lalu sejak ia membuatnya seorang diri, dengan lagu yang terputar dan terdengar sendu di telinganya, juga isi kepalanya yang sangat ramai dan riuh, Kaisar hanya butuh satu hari lagi sebelum dia akan keluar dari gua ini dan memberanikan diri muncul menghadapi semua permasalahan yang ada di depannya. Tapi sepertinya Crystal tak punya batas kesabaran lebih banyak lagi untuk menunggu Kaisar. Karena kini yang ada, setelah dia berdiam diri baru memasuki menit ke lima, dia mendengar seseorang membuka pintu kamarnya—yang seharusnya tidak akan terjadi kecuali sang pelaku punya akses masuk kesini. Itu hanya dua orang saja, seingat Kaisar, dan ingatan dia itu tergolong tajam. Hanya Jane dan Crystal. Dia yakin bukan Jane, jadi ketika Kaisar akhirnya menoleh dan menemukan Crystal dibalut dengan pakaian hangat dan wajah pucat, dia tak terlalu terkejut, walau detak jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari seharusnya. Karena bagaimanapun, dia tahu, semuanya akan berakhir buruk malam ini. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Kaisar tak akan bertanya pertanyaan basi seperti, kenapa Crystal bisa berada disini dan dari mana perempuan itu tahu bahwa Kaisar berada disini. Karena Crystal memang bukan perempuan bodoh. Dia selalu punya cara. Jadi yang ia lakukan setelah itu adalah memberi senyum kecil, dengan tatapan getir, seolah dia ingin meminta maaf atas perilakunya yang hilang-hilangan belakangan, sebelum kemudian dia berdiri dan menyentuh kedua pundak Crystal. “Duduk dulu,” katanya lembut. “Aku bikinin minum.” Crystal mendongak. Kemudian menghela nafas kasar dan membiarkan apapun yang ingin dilakukan mantan kekasihnya. Dia sudah hendak melontarkan segala bentuk caci dan maki pada laki-laki itu. Semua kekesalan dan emosinya karena Kaisar sama sekali tak terlihat muncul di depan matanya, juga terlihat seperti tak memiliki keinginan untuk bertanggung jawab bahkan setelah kakaknya memukuli wajah laki-laki itu, tiba-tiba niatnya menguap entah kemana. Melihat Kaisar dengan wajah layu, matanya yang tak bisa berbohong, juga bekas lebam, dan rambutnya yang berantakan, cukup membuat Crystal ikut merasa sesak. Dia pun tak ingin menyakiti masa depan mereka berdua. Bukan mau Crystal untuk hamil di luar nikah seperti ini sekalipun dia mencintai Kaisar setengah mati. Tapi membunuh bayinya yang bahkan belum keluar dari perut terasa sangat salah dan ia tak mau memilih pilihan penuh dosa tersebut. Maka dari itu kini dia berada disini, di hadapan Kaisar, untuk memperjelas semuanya. Gak butuh waktu lama, mungkin hanya sekitar lima menit saja sebelum kemudian dia mendapati Kaisar kembali berada di hadapannya, membawa satu cangkir dengan bau chamomile yang sangat menggugah selera. “Masih panas, agak nanti aja minumnya.” “Chamomile?” Kaisar mengangguk sembari mendudukkan diri di satu kursi samping Crystal. “Itu bagus buat ibu hamil.” Crystal langsung terdiam mendengar jawaban itu. Wajahnya mungkin menunjukkan ekspresi datar. Tapi sesungguhnya dia meras hatinya menghangat. Tak perlu banyak tanya karena leat hal sederhana yang dilakukan Kaisar saat ini,  dia jadi tahu bahwa Kaisar ternyata tidak berniat menyimgkirkan bayi mereka. Perkiraan Crystal bahwa Kaisar akan bersikap b******k dengan menyuruhnya menggugurkan bayi ternyata seratur persen salah. “Kamu naik apa kesini?” “Dianter supir.” Kaisar manggut-manggut. “Nginep sini aja. Udah malem.” Satu hal lagi yang kini disyukuri Crystal : Kaisar masihlah mantan kekasihnya yang selalu memberinya perhatian, sebanyak yang laki-laki itu bisa. “Kamu....” Crytsal menggigit bibir bawahnya, agak ragu untuk memulai pembicaraan. Dia memilih menunduk dan memilin kedua tangannya bergantian. “Maaf karena Kak Royan mukulin kamu.” “Kenapa kamu minta maaf? Itu emang yang harusnya dia lakuin karena adeknya dihamilin cowok lain, kan?” Crystal diam. Kaisar diam. “Aku—“ “Mau masuk ke dalem? Kita bicara di dalem aja,” ujar Kaisar memotong. “Aku janji bakal jujur atas apapun dan ngejawab semua pertanyaan atau permintaan kamu, tapi di dalem. Disini dingin. Gak baik buat kamu yang lagi hamil gini.” Crystal mengangguk, membiarkan Kaisar menuntun tangannya untuk beranjak dari kursi. Mereka berdua memang butuh waktu banyak untuk membicarakan ini. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN