39 : kaisar and crystal

1224 Kata
“Say everything what you wanna say.” Kalimat sederhana itu keluar dari bibir Kaisar setelah mereka berdua sama-sama duduk di sofa kamar, saling berhadapan. Crystal diam, matanya menatap lurus ke arah laki-laki di depannya tapi bukan sorot tajam yang ia perlihatkan. Melainkan seolah disana ada sebuah kepedihan. “Kenapa gak pernah angkat telfonku?” “Sengaja.” Kaisar sudah berjanji untuk menjawab dengan jujur, kan? Maka dia akan melakukannya. “...” “Aku butuh waktu sendiri. Bukan kamu aja yang aku hindarin. Tapi yang lain juga.” Crystal mengerti. Pasti laki-laki itu juga syok dan gak menyangka bahwa Crystal akan hamil anaknya, secepat ini, di waktu yang salah. Karena mereka berdua tentu masih memiliki masa depan yang panjang. Perempuan itu menunduk. “Aku bukannya sengaja pengen hamil, Kai. Jangan hindarin aku seolah ini salahku.” Kaisar benci bagaimana Crystal selalu menyalahkan dirinya sendiri seolah itu memang benar. Padahal tidak. Kaisar tidak suka perempuan yang ia cintai itu, yang biasanya dipandang tinggi di depan banyak orang sebagai model dengan bayaran terbesar di Indonesia itu kini malah menunduk di hadapannya. Lalu katakan pada Kaisar. Mengapa sosok sesempurna Crsytal saja masih belum juga membuatnya cukup? Bukankah semua laki-laki berlomba-lomba mendapatkan hadiahnya. Bahkan usut punya usut, anak Presiden luar negeri aja ada yang sempat naksir ke Crystal. Tpai lagi dan lagi, perempuan itu selalu memilih dirinya. Dari dulu hingga sekarang. Kaisar menghela nafas. Kembali lagi, bahwa semua ini memang kesalahannya. Dia yang tak pernah mencoba bersyukur, dia yang selalu menyia-nyiakan perempuan, Kaisar yang selalu mengambil keputusan bodoh. Hubungannya dengan Crystal tentu gak bisa dibilang seumur jagung. Keduanya sudah berpacaran sejak lama, sejak keduanya masih remaja yang memakai seragam sekolah. Walaupun sempat putus karena Kaisar menjalin hubungan dengan Jane beberapa lamanya, bukan berarti ingatan Kaisar tentang Crystal, juga ingatan Crystal tentang Kaisar juga hilang, kan? Tidak semudah itu. Mereka sama-sama saling mencintai satu sama lain. Mereka sama-sama membutuhkan satu sama lain. Keluarga mereka sudah saling mengenal. Jadi seharusnya tak apa, tak akan seberat yang dibayangkan Kaisar apa bila dia mengaku pada orang tuanya atas kandungan Crystal ini. Bahkan kalau boleh jujur, Crystal memang memiliki posisi lebih tinggi di hati Kaisar. Katakan dia munafik dan b******k, Kaisar tak peduli. Tapi sesungguhnya dulu dia sempat menyukai Jane juga hanya karena sebatas kekaguman pada bentuk fisik saja. Sebagaimana mata laki-laki memandang seorang perempuan cantik. Alasan keduanya adalah karena dia sudah terlanjur nyaman dengan Jane, pun perempuan itu tampak nyentrik dan berbeda dari perempuan lain. Kaisar bangkit dari posisi duduknya, kini memilih untuk berlutut di depan Crystal yang masih juga menundukkan kepala. Dia ambil kedua tangan Crystal dan ia genggam lembut, Kaisar mencoba mengunci mata perempuan itu. “Hei,” Kaisar menarik atensi Crystal. “Look at me.” “...” “Sayang.” Crystal membalas tatapan laki-laki tersebut. Kaisar mengulas senyum tulusnya. “Aku gak ada nyalahin kamu. Kalau ada yang patut disalahin dari awal, itu aku, kan?” “...” Kaisar mengusap helai rembut Crystal. “Aku yang b******k, ngerusak rencana kamu di masa depan cuman karena aku egois gak pernah mau pakai pengaman. Aku minta maaf. Juga karena aku yang ngilang, bilang butuh waktu, ngerasa jadi korban, padahal jelas bukan. Aku pelakunya.” Kaisar menatap Crystal penuh permohonan maaf. “Maaf.” “Aku boleh tanya sesuatu?” Kaisar mengangguk. “Kamu mau gimana? Sama anak ini?” “Maksudnya?” kernyitan di dahi Kaisar terlihat jelas, dia kebingungan. “Ya dibesarin, Ital. Dia anak kita, kita yang bikin, darah daging kita, tanggung jawab kita.” “Kamu gak nyuruh aku...” “Gugurin? Of course no. Dia berhak hidup.” Crystal mendesah lega. Selama ini hanya itu yang ia takutkan. Dosanya sudah banyak dan ia tak ingin menambah satu lagi dengan meregangkan nyawa manusia yang tak bersalah. Namun kemudian masih ada satu hal yang mengganjal di pikiran Crystal. “Tapi kamu sama Jane? Kamu inget, kan, kita udah putus karena—“ Oh tentu saja Kaisar ingat. Dia ingat kemarin perempuan hamil yang perutnya masih belum terlihat besar itu memutuskan hubungan antara mereka dengan alasan bahwa Crystal lelah merasa dipermainkan oleh Kaisar. Laki-laki itu selalu berada di jalan tengah kebimbangan karena ada nama Jane pula di hatinya. Crystal tahu maka dari itu dia minta putus. “Aku udah gak ada apa-apa sama Jane,” tekan Kaisar. “Kamu jangan mikir apa-apa dulu. ita fokus ke bayi, oke? Gak papa kalau kamu gak mau balikan sama aku, yang penting kita harus sama-sama belajar buat jadi orang tua yang baik. Permasalahan yang kita hadapin ada banyak, tapi Jane bukan jadi salah satunya. Kita pikirin yang lain, oke?” Crystal ingin sekali langsung menjawab oke, tanda bahwa dia menyepakatai apapun yang diminta oleh Kaisar. Tapi sayangnya ia tak bisa seperti itu. “Aku gak papa kalau misal kamu masih cinta sama dia. Aku mau nunggu sampai kamu beneran udah beresin semuanya.” Kaisar menggeleng. “Aku gak ada apa-apa sama Jane. Aku usahain, sebisa mungkin, buat gak berurusan sama dia. Aku minta maaf atas apa yang terjadi kemarin-kemarin, tapi aku bakal berusaha semaksimal mungkin buat jadi pasangan yang baik buat kamu, dan bisa bertanggung jawab sama kehamilan kamu.” “...” Kaisar mengecup punggung tangan Crystal lembut dan lama. “Jangan mukir apa-apa, apa lagi yang berta-berat. Kamu lagi hamil, harus sering happy-happy.” “...” “Kita lewatin semuanya bareng-bareng. Besok pagi aku bakal ngomong ke orang tuaku soal kehamilan kamu.” “Kamu yakin?’ Tidak. Sebenarnya tidak. Tapi Kaisar tidak ingin menjadi pengecut dan b******k kepada perempuan untuk ke sekian kali. Dia ingin berubah apa lagi sebentar lagi dia akan jadi calon ayah. Dia harus belajar bertanggung jawab. Jadi dia mengangguk. “Ya, aku yakin.” * * * Kaisar memandangi perempuan cantik yang kini tertidur di pelukannya ini. Mereka—Kaisar dan Crystal—memang belum resmi kembali. Crystal tak mempermasalahkan status di antara mereka asal Kaisar mau bertanggung jawab, sementara Kaisar sendiri tahu bahwa bukan itu yang lebih penting dari semua masalah yang ia hadapi saat ini. Tangannya berhenti mengusap perut datar Crystal, yang sedari tadi tak berhenti ia usap entah untuk apa, padahal perempuan itu juga tak meminta. Padahal yang Kaisar inginkan hanyalah semata-mata dia ingin berkomunikasi lewat batinnya, untuk bayi yang entah masih sekecil apa ukurannya, entah masih semungil semut atau atau bola ping-pong, ia tak tahu. Lewat usapan lembutnya, ia ingin menyampaikan banyak maaf karena dia harus terlahir sebagai anak Kaisar yang b******k ini. Tapi dia juga berjanji untuk berusaha memberikan segalanya yang terbaik, agar anaknya tidak sampai menyesal dilahirkan di dunia, dan bangga memiliki orang tua seperti mereka. Kernyitan di dahi Crystal muncul, dan sebagai orang yang mengenal gadis itu sampai bertahun-tahun, dia sudah hafal apa artinya. Perempuan itu mungkin sedang mipi buruk, atau merasa tak nyaman dalam tidurnya, jadi Kaisar membubuhkan kecupan di dahinya, dengan tangan berpindah mengusap pundak Crystal menenangkan. Dia mencium lama, terpejam menikmati kulit dingin dan harum Crystal. “We’ll gonna throught it together, Ital. I promise.” Dan itu artinya, Kaisar pun harus mengalah pada takdir. Dia harus mengikhlaskan perasaannya untuk Jennie Laura. Tidak boleh ada lagi permainan hati dan kelakuan seenak jidat ingin memiliki keduanya. Kaisar harus berubah, dan nama Jane jelas tidak boleh lagi berada di antara ia dan Crystal. Maka yang ia lakukan saat ini adalah menarik nafas dalam dan menghembuskannya panjang. Kaisar mencoba rela untuk melepaskan. * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN