40 : knowing more about your circle

1100 Kata
Ceritanya, pagi ini kelas Jane dan Ryan sama-sama dimulai pukul sembilan lebih tiga puluh lima menit. Karena mereka berada di kampus yang sama, juga tinggal di atap yang sama, alhasil mereka tentu saja berangkat bersama. Tadi pagi sekitar pukul delapan ketika Jane dibangunkan oleh Ryan dengan kecupan bertubi-tubi di piinya, disambut dengan Ryan yang ternyata baru selesai jalan pagi entah sejak kapan Jane juga gak tahu—well, yang perlu diingat adalah cowok itu emang paling hobi berolahraga. Dia juga, sih. Tapi dia kan gak serajin Ryan. Setelah bangun dan duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong khas baru bangun tidur banget, dia memilih meraih ponselnya untuk mengecek notifikasi masuk. Tidak terlalu banyak. Tidak ada pula yang menarik perhatian selain pesan masuk dari Hanna yang segera dibukanya. Sahabat karibnya itu mengirimkan pesan baru lima menit yang lalu. Isinya berupa menyuruh Jane agar tak datang terlalu siang, alias lebih pagi lebih baik, karena Hanna tadi berangkat sejak pagi di pukul tujuh karena itu adalah kelas pertamanya hari ini, namun karena dosen berhalangan hadir, alhasil dia jadi kentang nungguin kelas selanjutnya di pukul sembilan lebih tiga puluh lima menit tersebut. Tanpa protes, toh biasanya Jane juga suka nyuruh Hanna begitu kalau dia yang kentang nunggu di kampus, Jane langsung mengiyakan. Maka disinilah mereka sekarang. Mobil Ryan diparkir di gedung fakultasnya, Ryan memang sengaja mengantar perempuan itu dulu dan ikut ke gedungnya—mengingat kata Jane dia bukan langsung ke kelas tapi mau nongkrong ke kantin sama Hanna. Ryan yang datang terlalu pagi jadi iya-iya aja. Toh gak rugi juga nemenin pacarnya sendiri. Ketika Jane memasuki wilayah kantin, dia langsung menemukan sosok Hanna yang duduk di meja ke tiga dari arah barat, di hadapan temannya itu ada Gana dan Juno. “Ya elah, katanya ngentang sendirian,” Jane bersungut sambil duduk diikuti Ryan. “Tahu lo udah ada temennya, gue gak dateng sepagi ini, ya, Nyet.” Hanna meringis. “Gue gak tahu, Jir, tanya nih sama mereka. Tiba-tiba muncul. Padahal tadi pas gue telpon mau minta temenin—well i called them first before i asking you—gak ada yang jawab. Ya udah, lah, gak papa. Lagian bukannya enak rame-rame?” “Perlu dilurusin dulu, nih. Gue gak angkat karena masih ada kelas, coi.” Gana mengangguk sepakat dengan kalimat dari Juno. “Ya, ya, ya. Whatever,” Hanna memutar bola matanya. Maksudnya, kan seharusnya dua cowok itu bisa memberitahu lewat pesan, kan, kalau gak bisa telepon? Tapi sejujurnya ini juga bukan masalah besar buat Jane. Dia rela-rela aja sekalipun harus berangkat lebih pagi dan mandi bebek tadi gara-gara kasihan kalau Hanna ngentang literally sendirian di kampus. Inilah gunanya punya teman banyak, kawan. Kalau satu doang jadinya kayak gini, deh.   “Gak kelas, Yan? Atau....” Ryan yang merasa diajak ngomong sama Hanna langsung merespon. “Kelas, nanti.” “Oh, oke-oke.” “Lo anak Teknik, kan, ya?” Gana nanya. “Your body says so.” Yang lain ngakak. Bisa-bisanya nebak jurusan lewat bentuk badan. Gana doang emang. “Apa? Bener, dong gue? Kelihatan tahu bentuk-bentuk anak Teknik, tuh, yang kek mana.” Ryan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pertama Gana tadi. “Yep, gue Teknik. Lo Gana? Atau Juno?” Karena sejujurnya, dia emang belum hapal sama temen-temen Jane selain Hanna dan Jeff. Gak tahu kenapa, dia dari awal suka lupa yang mana Gana dan yang mana Juno padahal dari segi muka aja juga udah beda. Gana kelihatan lebih kurus—bukan berarti kerempeng—dibanding Juno yang agak berisi. Cara ngomongnya juga beda. Gana lebih irit dan sometimes kelihatan cool, sementara Juno kan nyablak dan suka ngelawak. Dia moodboster banget di kelompoknya. “Gue Gana,” lalu cowok itu menunjuk yang samping. “Ini Juno.” “Oh, okay. Gue Ryan.” “We know, man. Cewek lo udah pernah cerita.” “By the way lo tumben, Han, gak sama Jeff?” Jane nanya. “Oh, dia kelas?” “Bukan. Enggak, dia gak kelas sekarang. Masih molor sih tadi pas gue berangkat.” “Lo masih suka di kosnya Jeff?” “Ya gimana orang dia maksa begitu?” Gana memutar bola matanya malas. “Well sebenarnya menolak itu hak asasi, ya. Lo bisa tapi lo gak mau aja.” Mendengar komentar judes itu, mau gak mau Jane jadi menyeringai. “Masih aja lo, Gan.” “Tau, nih,” Hanna ikutan menyerang. Walaupun ia gak menampik kenyataan kalau iya, dia memang bisa menolak, tapi dia emang gak mau juga. Udah terlalu betah tinggal di kosan Jeff dan males kalau ngangkut barang lagi, karena barang-barangnya udah ia bawa ke kosan cowoknya itu. “Lagian kalau punya cowok gak dimanfaatin juga buat apa, ya kan Han?” Juno menyahut. “Hanna sekarang enak, tuh, udah berasa bininya Jeff. Tinggal seatap, kebutuhan apa-apa dikash.” “Kok jadi terdengar kayak gue, nih, punya sugar daddy, ya?” Jane terbahak. “Gak papa, lah. Tapi bener, kok. Ryan ke gue juga begitu. Tergantung loyal kagaknya cowok lo sih sebenernya.” Ryan yang lebih banyak mengamati dan mendengarkan dibanding ikut nimbrung, saat ini melirik jam tangannya, kemudian mencolek paha Jane. “Aku balik, ya.” “Loh, sekarang banget?” “Dari pada keburu-buru malah males.” Jane akhirnya mengangguk. “Ati-ati.” “Loh, mau kemana?” Yang lain jadi nanya karena Ryan berdiri dari duduknya sambil mengeluarkan kunci mobil. “Gue kudu balik. Udah mau kelas.” “Oh, gitu. Ya udah, ti-ati, ya!” Ryan mengacungkan jempolnya pada yang lain karena semuanya pada bilang ati-ati. Cowok itu sempat membubuhkan kecupan di kening Jane sebelum akhirnya beranjak dari sana. Setelah bayangan cowok itu menghilang, Jane yang baru mau ngajak ngobrol pakai topik baru, tiba-tiba dipotong sama Juno yang memekik. “Heh, anjir. Cowok lo kalau dilihat dari deket cakep, anjir.” “Heh!” Hanna ngakak. “Woi, Juno. Lo homo?!” Ya gimana Hanna gak nuduh begitu ya kan? Secara cowok tuh paling anti muji cowok lain. Berasa jijik sendiri yang ngomong, juga yang ngedengerin. Tapi dia lupa kalau Juno emang selalu seblak-blakan ini. “Bukan!” Juno mendelik. “Tapi tadi gue abis lihat dia langsung mikir kayak, kok yang kayak gini bentukannya mau sama Jane, ya?” “Eeee, bangsta lo!” Jane hendak melayangkan tinju tapi Juno menghindar. “Iyalah, mau. Orang gue cantik begini. Gana aja mau, ya, Ga?” Gana bergidik ngeri. “Sinting lo.” Hanna, Juno, dan Jane ngakak kenceng sampai orang-orang di kantin menoleh ke arah meja mereka dan menatap penuh sorot aneh. Mungkin mereka pada ngebatin, “Apa, sih, dasar bocah-bocah freak!” Tapi siapa yang peduli?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN