41 : their day and plan

1134 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Jennie Laura: nanti pas balik dari kampus mau nemenin dulu ke market gak? Balasan yang dikirim oleh Ryan lebih cepat dari yang Jane duga, karena setahunya cowok itu masih berada di kelas untuk pembelajaran. Christian Dave : market mana? iya ditemenin Jane tak lagi membalas, walaupun sebenarnya Ryan masih memiliki pertanyaan disana. Lagi pula dimanapun tempat untuk belanja Jane, dia tahu Ryan pasti ikhlas-ikhlas aja dia suruh nemenin. “Eh, lo abis ini presentasi, ya?” Jane nanya ke Hanna sambil sedikit berbisik karena di depan mereka ada dosen yang lagi memberi penjelasan lewat powerpoint. Hanna menggeleng. “Minggu depan, anjir.” “Loh, bukannya lo kelompok 9? Kelompok 9 sekar—“ “Dua Mbak yang di belakang, yang pakai kemeja navy dan putih tulang, bisa perhatikan saya dengan tenang atau keluar dari kelas saja agar tidak mengganggu pembelajaran teman yang lain?” Suara Bu Puri menginterupsi keduanya, keras dan lantang, membuat semua mahasiswa langsung menoleh ke arah mereka. Jane berdecak sebal, tapi tetap pura-pura menegakkan punggung siap mendengarkan dosen dengan baik. “Maaf, Bu.” Bu Puri terlihat mendengus dan Jane hampir melakukan hal yang sama kalau aja dia gak disikut sama Hanna dengan kode ‘udah jangan aneh-aneh lu. diem aja napa, sih?’ * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Gue cabut duluan, ya!” Jane melambai pada Hanna sambil berlari kecil ke arah Ryan, berjalan mundur. “Bye!” “Iya, ati-ati!” Jane mengacungkan jari jempolnya ke atas, pertanda bahwa dia mengerti. Setelah Hanna menghilang dibawa Jane entah kemana, barulah Jane berhenti jalan mundur. Dia tersenyum lebar ke arah Ryan, entahlah, bukankah dia udah pernah bilang kalau tiap kali cewek itu bersama Ryan rasanya dia kayak kembali ke jaman SMP yang mana berbunga-bunga tiap mau ketemu doang? Padahal tiap hari juga tidur bareng. Tidur secara harfiah maksudnya. “Hai, Princess,” Ryan melengkungkan senyum dan membukakan pintu. “Hai, Prince,” balas Jane sambil terkikik geli, sempat-sempatnya memberi kecupan di pipi sebelum masuk. Ryan terkekeh, lalu mengitari mobil dan masuk ke kursi pengemudi. “Seatbelt.” “Yes, Sir,” Jane menjawab sambil menarik sabuk pengamannya, hendak memakainya. “Harusnya kalau di film-film, kamunya inisiatif buat masangin sabuk pengaman, terus nanti ada adegan tatap-tatapan.” Ryan tergelak. “Kamu mau? Even that’s include a cringe scene?” “Somehow the act of service seems sweet, you know?” “Aight, aight,” Ryan masih tertawa tapi kini badannya condong ke arah Jane, memakaikan gadis itu sabuk pengaman, membuat Jane mundur kaget karena jaraknya emang sedekat yang di film-film. Karena gak kuat gemes sama ekspresinya Jane, jadi Ryan menghadiahi kecupan di bibirnya singkat saja. “Done. Happy?” Jane nyengir. Ryan mulai menghidupkan mesin setelah ia memasang sabuk pengamannya sendiri. Cowok itu mengeluarkan mobil dari tempat parkir dan keluar gerbang kampus. “Jadi, mau shopping apa?” “Bukan shopping juga, sih. Kok kedengerannya jadi macem mau beli banyak.” “Oh, enggak?” Jane menggeleng. “Cuman lagi pengen masak sendiri aja di apartemen nanti. Jadi anterin beli bahan mentahannya.” “Hm, interesting. Mau masak apa?” “Spagetti Carbonara.” “Jesus, aku sampai lupa kapan terakhir makan carbonara.” “Kaaan!” Jane tersenyum lebar, senang. “Aku juga, tau! Kayaknya udah tiga atau empat bulan aku gak makan carbonara. Terus kemarin di feed IG-ku ada orang bagi resep, aku save, deh. Rencananya mau bikin sendiri karena kelihatannya gampang.” Ryan manggut-manggut. “Belanja di sebelahnya MOG aja, ya? Kalau masuk mall kelamaan.” “Boleh, deh. Tapi nanti kamu ikut masuk, kan? Maksudnya, nemenin belanja dan gak di mobil doang?” Cowok yang diajak ngomong itu jadi mengernyitkan dahi. Kenapa pula hal kayak gitu aja Jane masih perlu tanya dan mengkonfirmasi? Padahal jawabannya udah pasti iya. Ryan bukan cowok tipe yang ngebiarin ceweknya bersusah-payah seorang diri sementara dia lenggang-lenggang nyantai aja kayak orang gak tahu diri—bahkan walaupun dia yang bayar juga akhirnya. Tapi menjawab ‘ya iyalah’ pada pertanyaan Jane terdengar terlalu simpel. Jadi Ryan memilih menjawab dengan kalimat lain. Cowok itu menoleh, lalu menyodorkan pipinya. “Kiss me first.” Oh, tentu saja Jane dengan senang hati memberikan! * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Apa Jane udah pernah bilang kalau dia sama sekali bukan tipe cewek yang suka berbaur dengan dapur? Dia gak terlalu pandai memasak. Bahkan ‘tak terlalu pandai’ itu kayaknya masih kebagusan buat Jane. Karena dia se-enggak berbakat itu dengan urusan dapur. Kalau pas kecil—entah bayi, SD, atau SMP—mungkin masih bakal dimaklumin orang kalau dia membuat kekacauan di dapur. Tapi masalahnya bahkan pas dia udah SMA, bahkan pas dia udah kuliah juga, dia tetep aja kalau masak gak pernah heboh sendiri. Terakhir kali kekacauan yang dia buat, sih, gak besar-besra amat, cuman hampir ketumpahan air panas. Tapi terakhir kali dia berada di dapur, dia sama sekali gak melakukan kesalahan—cuman masak nasi goreng tapi sejam gak selesai-selesai karena rasanya gak memuaskan lidah. Tapi untuk kali ini, sebenarnya bukan akan jadi pertama kali dia memasak di apartemen Ryan, juga memasak untuk laki-laki itu. Seingatnya, ia pernah melakukan ini entah satu atau dua kali di masa lalu. Jane hanya berharap kali ini dia tak akan mengecewakan lidah Ryan karena demi apapun, malu dong dia! “Udah dicatet mau beli apa aja, kan?” Jane mengangguk atas pertanyaan cowok itu. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka catatan. “Yuk,” ajak Ryan untuk turun yang lagi-lagi diangguki Jane. Keduanya turun dari mobil dan berjalan memasuki supermarket.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN