“Spageti, s**u cair, margarin, maizena, lada, smoke beef, apa lagi, sih, yang belum?” Jane mencoba mengingat-ingat. Ini semua karena hapeku yang low battery dan dia jadi gak bisa buka note disana. “Bawang merah bawang putih di apartemen kamu ada, kan?”
Ryan mengangguk, namun kemudian menggeleng. “Terakhir ngecek, sih, ada.”
“Kapan, tuh?”
“Yang kamu masak waktu kemarin, ada gak?”
“Oh iya. Gak ada, sih, udah mau abis.”
“Ya udah beli aja. Sekalian stok biar kapan-kapan kalau mau masak sendiri gak beli dadakan.”
Jane mengangguk menurut. Dia menuju ke arah rak bumbu dapur. Tak hanya mengambil bawang merah dan bawang putih, tapi juga oregano, keju, dan yang lain.
“Sebenernya aku agak takut gagal, deh,” Jane nyengir sambil lanjut jalan. “Terakhir aku masak—yang aku masakin buat kamu, inget gak?”
“Yang pagi-pagi itu, kan? Aku pas mau ke Gorontalo kalau gak salah.”
“Iya, pas itu aku masak kayak hasil nekat aja. Rasanya juga gak enak, kan, itu.”
“Bukan gak enak, sih.”
“Terus?”
“Kurang pas aja.”
Jane mendengus. “Sama aja!”
“Beda. Kalau gak enak gak bakal diterima sama lambungku, lah. Orang itu juga aku abisin, kan, abis itu.”
“Soalnya kamu ngehargain aku.”
Iya, sih. Bener juga. Batin Ryan. Nomor satu, emang dia menghargai apapun yang diberikan Jane padanya. Tapi yang kedua, beneran karena dia merasa hasil masakan Jane gak seburuk itu. Hanya kurang pas, terutama di bagian penyedap rasa.
“Tapi waktu itu kamu juga buru-buru masaknya, jadi gak total.”
Jane menganguk setuju. “Nanti aku gak bakal buru-buru. Mau sekalian belajar juga.”
Ryan ketawa entah untuk apa. Padahal gak ada yang lucu. Tapi dia seneng aja karena cewek itu mau belajar masak, walaupun sesungguhnya alasan kenapa dia mau berkecimpung dan mengolah skill di dapur juga bukan untuk Ryan.
“Nanti sambil buka tutorial di Youtube.”
“Kamu bantuin juga, kan?”
Ryan mengangguk dan mengusap sesaat rambut cewek itu. “Iyalah.”
* * *
Tepat ketika Ryan yang mendorong stroller didampingi Jane di sampingnya hendak keluar dari arena rak keju, langkah kaki mereka berdua tiba-tiba terhenti. Ryan terkejut—sedikit, Jane lebih terkejut lagi. Sangat.
Gak kalah terkejut, Kaisar dan Crystal juga menghentikan langkah.
Tidak ada waktu untuk kembali, pun mereka sama-sama ngerasa gak enak misalnya tetep lanjut jalan tanpa menyapa, jadi Ryan yang memutuskan menjadi yang pertama membuka suara.
“Belanja disini juga?”
Kaisar masih diam, menatap ke arah Jane yang udah mengalihkan wajah ke arah lain.
Crystal mengangguk. “Iya, nih. Mau isi stok kulkas.”
“Sama kalau gitu,” Jane menyahut dengan senyum manis. Toh ia tahu ia gak ada masalah apapun dengan Crysyal. Perempuan itu perempuan baik dan manis. “Gue sama Ryan juga lagi isi stok kulkas. Tapi ini udah selesai, sih.”
“Oh, berarti udah mau balik?”
“Iya.”
“Ah, sayang banget. Padahal gue baru mau ngajakin kalian makan bareng, Tapi udah keburu mau balik, ya?”
Jane sedikit terperangah kagum karena Crystal berani mengajak ia dan Ryan makan bersama dengan dia dan Kaisar. Padahal cewek itu jelas tahu hubungan seperti apa yang dijalani Kaisar dan Jane dulu.
“Next time aja mungkin, ya? Soalnya gue juga udah janjiin Ryan mau masakin dia.”
Crystal tersenyum mengerti. “It’s okay. Next time.”
“Kalau gitu kita pamit duluan, ya.”
Ryan menepuk pundak Kaisar saat melewatinya.
* * *
Pertemuan singkat antara mereka berempat tentu meninggalkan kesan dan pesan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Walaupun tak berbicara banyak, tak sempat mengobrol panjang, hanya saling sapa dan basa basi, tapi mereka sama-sama bisa mengambil kesimpulan.
Dari sudut pandang Ryan dan Jane, mereka menarik satu simpulan yang sama. Bahwa Crystal benar-benar perempuan friendly, cocok jadi public figure atas karakternya yang bisa dewasa dan profesional tersebut. Tapi mereka berdua pun tahu kalau Kaisar belum bisa menerima sepenuhnya melihat Jane bersama Ryan. Laki-laki itu tadi sama sekali gak mengalihkan wajah dari Jane. Dia menatap kosong ke arah kekasih Ryan tersebut, bibirnya terlalu kelu bahkan hanya untuk membuka suara hai saja. Jadi yang sedari tadi dilakukan Kaisar dari awa hanya sekedar diam. Tak bersuara sama sekali bahkan sampai Ryan dan Jane pamit pulang.
Hal itulah yang akhirnya dibahas oleh Ryan ketika mereka dalam perjalanan pulang. Bukan Ryan berniat memancing masalah dan bikin mereka ribut, well.. emangnya sejak kapan pula dia suka berantem? Dia sama sekali gak suka bertengkar apa lagi dengan Jane. Dia belum pernah juga berdebat dengan cewek itu, kan?
“Tadi gak mau terima tawaran Crystal, beneran karena mentingin janji kamu ke aku, atau karena kamu gak nyaman aja karena ada Kaisar?”
“Dua-duanya,” jawab Jane jujur. “Aku udah janji mau bikin carbonara buat dinner kita. Itu yang pertama. Yang kedua, aku gak nyaman. Bukan karena aku masih suka sama cowok itu—serius, ini gak bohong—tapi karena gimanapun, hubunganku dan Kaisar dulu pernah rumit, gak enak aja ke Crystalnya.”
Ryan mengangguk paham.
“Emangnya misal tadi aku ngeiyain, kamu gak keberatan?”
“Gak, dong.”
“Sama sekali?”
Ryan mengangguk lagi. “Buat apa? Aku malah seneng kalau kamu mau berteman sama Crystal. Karena lewat cara itu, kalian bakal kenal satu sama lain dan girls support girls. Biar Kaisar nyadar juga kalau dia gak seharusnya aneh-aneh dengan mempermainkan dua hati perempuan.”
“Iya, sih. Lagi pula, Crystal betulan sebaik itu. Dia friendly, kayaknya bakal jadi temen yang asik buat diajak ngorbol.”
“Agree with that. She seems nice.”
“Cantik banget juga,” kata Jane lagi lalu menoleh ke arah Ryan yang masih fokus ke jalanan dengan tangan berada di setir mobil. “Naksir gak, Yan?”
“Babe?” Ryan tertawa geli mendengar itu. “Pacarku juga gak kalah cantik. Kenapa aku harus naksir cewek lain coba?”
Jane mendengus, tapi tak urung ketawa juga karena Ryan emang gak mempan dipancing kayak gitu.
Diam-diam, Jane bersyukur—lagi, entah untuk yang berapa kali setelah dia mengenal Ryan—karena cowok itu betulan bisa sedewasa dan sebijak ini dalam menghadapi problema. Dia mana kepikiran mau temenan sama ceweknya mantan dia sendiri? Tapi lewat kalimat Ryan, Jane pikir itu sangat benar. Apa salahnya menambah relasi dengan Crystal? Lagi pula seperti apa yang dibicarakan laki-laki itu tadi, siapa tahu melalui hal tersebut, Kaisar bisa tertampar bahwa dua perempuan yang penting bagi dia, dan yang pernah jadi penting bagi dia, bisa akur dan damai. Jadi tidak seharusnya Kaisar mengambil langkah bodoh dengan memiliki keduanya, kan?
Mungkin setelah ini Jane akan mengajak Crystal untuk makan malam di apartemennya.