43 : spaghetti carbonara

1094 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Aku bantuin apa, nih?” tanya Ryan sambil mendekat ke arah punggung Jane yang membelakanginya, sengaja mepet banget karena dia sekalian mengendus belakang kepala Jane. “Gak usah bantuin gak papa. Lagian ada Youtube gini.” “Tadi katanya aku suruh bantuin.” “Iya, sekarang berubah,” Jane nyengir sambil menggeser posisi berdirinya guna menghindar dari Ryan. “Gak usah bantuin gak papa, asal gak ngerecokin.” Ryan terkekeh. “Mana ada, sih, aku ngerecokin?” “Terus ini apa, nih, namanya kalau bukan ngerecokin, hah?” Jane mendorong kepala Ryan yang bersandar di pundaknya.”Sana, ah.” Ryan memberinya kecupan singkat di pundak terbuka Jane sebelum menegakkan tuuh. “Gak, gak. Serius kali ini. Aku mau bantuin.” “Ya udah. Tolong ambil panci, isi air.” “Siap!” Ryan menuruti kalimat Jane. Dia meraih panci dan mengisinya di bawah air keran wastafel. “Sebanyak apa?” “Buat rebus spaghetti pokoknya.” Ryan meng-oh oke-kan Jane, lalu menaruh panci di atas kompor dan menyalakan apinya. Sementara Jane mengupas dan memotong bawang serta bombay. “Panasin minyak. Dikit aja buat numis ini,” pinta Jane lagi, yang lagi-lagi juga langsung diturutin oleh Ryan dengan cekatan. “Abis ini potongin smoke beef.” Sebenarnya, Jane yang gak pinter masak ini jadi kepengen ngetawain Ryan yang kelihatan banget lebih gak pinter masak. Cowok itu kelihatan banget agak gugup dan terburu-buru, panik sendiri, dan gak bisa tenang. Kalau kayak gini, yang ada Jane yang jadinya kelihatan kayak koki profesional. Karena dia terlihat santai dan tenang, padahal mah dia juga was-was takut masakannya gak enak walaupun matanya juga fokus ngelihatin rebusan spaggheti, takut hasilnya terlalu lembek atau beum benar-benar matang juga. Jane menumis bawang dan bombay yang sudah ia potongi. Ia mengaduk isi wajan sampai rata, hingga bau harum muncul membuat hidungnya gatel, dan dia udah kebelet bersin. “Udah, nih. Aku masukin ke wajan kamu, ya?” “Hn,” Jane mengangguk. “Sambil dengerin lagu, dong, Yan. Biar agak ramean.” “Ambil aja hapeku.” “Kamu aja yang ambil. Tanganku bau bawang, kamu kan barusan cuci tangan. Ryan akhirnya mengeringkan tangan lalu meraih ponselnya yang ia taruh di atas kulkas. Kemudian memilih satu lagu dan meninggalkan ponsel, dirinya menangkap Jane yang langsung tersenyum kala ngeh lagu apa yang diputar. We're under pressure Seven billion people in the world tryna fit in Keep it together Smile on your face, even though your heart is frowning * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sambil kedua tangan Ryan dan Jane mengerjakan aktivitas masing-masing, cewek itu memulai pembicaraan. “Aku pernah lihat meme lucu banget di Twitter.” “Apa?” respon Ryan menoleh sekilas sebelum kemudian kembali fokus membuka bungkus maizena. “Di reff-nya lagu ini. Kan liriknya as long as you love we could be starving, we could be homeless, we could be broke. Terus ada yang balesin komentar di lagu itu. Dia kirim gambarnya anak-anak kurang gizi dan jadi korban perang.” Ryan terkekeh kecil. “Gak masuk akal, sih, emang lagunya. Dikira makan cinta doang bakal kenyang apa.” “Nah, itu.” But hey now, you know girl We both know it's a cruel world But I will take my chances “Tapi so far lagunya emang enak.” “Emang!” Jane berseru. “Sebagai beliebers dari jaman masih SD, aku tuhh tahu banget lagu-lagu yang paling relate dan bagus. Lagunya Justin Bieber maksudnya.” “Kata Papa kamu, kamu pernah nonton konser JB, ya? Ke Singapur?” Jane mengangguk. “Iya, maunya sih pas dia ke Jakarta. Tapi ternyata hari konser dia barengan sama ujianku. Terus ya namanya bocah, ya. Aku nangis banget, mogok makan seharian sampai pas keluar kamar tuh pucet kayak zombie.” “Pffft.” “Jangan ketawa dulu!” rengek Jane. Ryan mengangguk tapi bukan berarti dia janji. Cuman dia kebayang aja kalau Jane lagi ngambek pas kecil bakal segemes apa. “Iya, gak ketawa. Terus gimana?” “Akhirnya karena aku ngambek, papa sama mama ngerayunya pakai janji kalau aku bakal nonton yang di Singapur. Udah, sih, gitu aja.”  “And then?” “Ya berangkat lah!” Seruan kecil diakhirya cengiran lebar di wajah Jane membuat Ryan gemas. Jadi dia mendekat dan memagut sesaat bibir manis perempuan itu. “Gemes banget, sih.” Karena sedikit was-was bakal meninggalkan acara memasak karena Jane mulai membalas ciumannya, Ryan menarik diri. Dia mengecup satu kali sebelum benar-benar menghentikan. “Nanti kalau ciuman mulu yang ada kita gak jadi masak. Aku ajak kamu ke kasur yang ada.” Jane terkekeh. Mengedikkan bahu, sedikit banyak sangat membenarkan kalimat pacarnya. “Nih, udah creamy belum kuahnya?” Ryan bertanya. Ini sudah ada di tahap finishing dalam pembuatan spagheti carbonara tersebut, yakni menunggu kocokan telur dan s**u cair sudah creamy dan spagehtti sudah jadi. Jane mengintip, kini tangannya yang malah iseng melingkar dari arah belakang, memeluk Ryan. “Kurang creamy. Jangan berhenti diaduk.” “Lama juga.” “Nah, itu udah. Angkat, gih.” Ryan mengangguk sembari mematikan kompor. Tapi karena pergerakannya terbatas, dia jadi terkekeh. “Lepas dulu tangannya. Gak enak aku geraknya.” “Ya ini yang aku rasain kalau lagi masak tapi kamu rese.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN