44 : you got that yummy

1116 Kata
* * * * “Wow, it looks so yummy.” Jane tersenyum pongah mendengar pujian itu. Tangannya masih sibuk menuangkan minuman ke gelas, sementara spaghetti carbonara masih sangat hangat dan siap disantap. Jane betulan serindu itu makan carbonara. Makanya, kini di depan matanya terpampang nyata dua porsi masakan tersebut—yang kali ini Jane tahu rasanya sangat memuaskan karena dia sendiri udah nyoba—rasanya dia ingin segera menelan bulat-bulat sama piringnya sekalian. Kidding. “Iya, dong. Siapa dulu yang bikin?” Ryan menggeleng. Sambil meraih garpu, dia menjawab. “No, aku lagi gak bahas spaghettinya. Aku bahas kamu.” “Hn?” Jane mendudukkan p****t di kursi seberang Ryan, dia merapikan kuncirnya sebelum ikut meraih garpu. “Am i look yummy?” “Banget. Kayaknya dari pada makan ini, aku lebih pengin makan kamu.” Itu gak bohong. Dari tadi, sejak awal dia menemani Jane di dapur dan menggodanya lewat kecupan-kecupan kecil entah di pundak atau di pipi cewek itu, Ryan memang sudah sangat sadar pacarnya terlihat dua kali lebih seksi ketika memakai apron. Sekalipun Jane bukan Chef Renatta atau Chef Fara Queen yang punya skill masak enak dalam sekali coba, tapi itu jelas bukan masalah. Ryan menyukai Jane yang kesulitan membedakan bumbu, dia menyukai Jane yang panik di dapur takut mi yang ia rebus terlalu lembek, atau dia yang masih kaku saat menuangkan isi panci ke ke piring dalam keadaan panas. Perempuan itu bahkan sampai berkeringat, padahal dia cuman masak dua porsi spaghetti saja. Tapi ia seolah habis lari dua puluh kali putaran di TMI, Taman Mini Indonesia. Mendapati gadis itu melepas apron, menggulung rambutnya ulang walau tak rapi karena beberapa bagian rambut depan tidak ikut terikat, lalu kini dengan tatapan berbinar sudah siap mencicipi hasil karyanya... damn, Ryan bersumpah Jennie Laura terlihat lebih lezat daripada makanan harum di depannya ini. Jane ketawa. “Ngaco. Ini enak, tau.” “Abis aku makan ini, aku makan—“ “Babe...” Jane menghela nafas geli. “Kenapa aku baru tahu kamu otaknya ngeres banget?” Ryan cuman mengedikkan bahu. Harusnya dia yang tanya ke Jane, kenapa cewek itu terlahir cantik dan memukau terus, membuat hasratnya bergejolak hebat tiap melihat perempuan itu. Keduanya makan dalam diam, walaupun Jane dan Ryan sesekali membuka suara untuk memberi nilai pada masakan mereka berdua itu. Jane udah persis kayak di iklan tivi-tivi, ekspresinya dapet banget kalau disuruh meragain wajah orang makan enak. “Ini enak banget. Aku kayaknya gak pernah masak seenak ini, deh.” Ryan mengangguk sepakat. “Iya, ini enak banget, sih, emang.” “Kayaknya aku emang ada bakat masak.” “As long as you wanna learn.” “Iya, i know. Abis ini aku bakal sering-sering coba resep.” Ryan sudah menyuapkan suapan terakhir spaghettinya ke dalam mulut, dia langsung kekenyangan karena isi perutnya terasa penuh. Padahal porsinya juga tak terlalu banyak. Baru cowok itu hendak meraih gelas berisi air mineral, tangannya jadi berhenti bergerak karena suara dering ponsel yang muncul dan mengganggu. Mengingat ringtone telepon Ryan dan Jane sama, mereka berdua jadi sama-sama noleh. Keduanya berpandangan beberapa saat sebelum Ryan akhirnya yang berdiri. “Kamu lanjut makan. Aku ambilin hapenya.” “Oke. Thank you.” Ryan tersenyum dan kemudian beranjak dari kursinya. Ia mencari keberadaan ponsel yang berbunyi, dan baru menemukan yang ia cari setelah dua kali telepon masuk. Ternyata teleponnya sendirilah yang masuk, bukan telepon dari kekasihnya. Ia pun tak menemukan dimana keberadaan hape Jane. Mendapati nomor seseorang dengan nama kontak yang sudah familiar, dia segera mengangkatnya, lalu tanpa suara dia memberi tahu siapa penelpon tersebut ketika alis Jane terangkat, ingin tahu siapa yang mengganggu acara makan bersama mereka. “River.” Jawaban itu membuat Jane berhenti mengunyah, terlalu kaget atau gak siap bahwa nama itu kembali terdengar di telinganya. “Oh,” akhirnya hanya itu jawaban yang keluar dari Jane. * * * * Jane tidak punya keinginan menanyakan apapun setelah Ryan selesai dengan ponselnya. Ia pura-pura gak peduli juga. Tapi untungnya, Ryan peka. Jadi dia langsung memberinya laporan. “River bilang dia mau kesini.” Dan Jane lebih suka kalau Ryan gak usah laporan aja sekalian dari pada bikin moodnya anjlok. Cewek itu mengangkat kepala sambil mendorong piringnya yang sudah habis agar menjauh. “Oh, ya?” Sebenarnya Jane gak terlalu terkejut, sih, karena tadi dia sempat menduga begitu karena Ryan bolak-balik ngomong bahwa lagi ada Jane di apartemennya. Ia tebak River memang telpon untuk bilang bahwa dia ingin kesini, entah mampir doang atau nginep, dia gak tahu. “Aku udah bilang, kamu lagi ada disini. Tapi kata dia gak papa, dia cuman numpang tidur sebelum nanti balik kelas.” Jane manggut-manggut tak peduli. “Ya udah biarin.” Ryan meringis, merasa tidak enak. “Gak papa, Babe?” “Ya gimana? Toh itu temen kamu, dan ini juga apartemen kamu sendiri.” “Nooo, salah. Ini apartemenku sama kamu. Kalau kamunya gak mau terima tamu atau gak nyaman sama tamu, kamu boleh bilang aku. Nanti aku pikirin lagi harus apa.” Jane tetap menggeleng. Dia kini berdiri dan membersihkan meja makannya, menumpuk piring yang kotor, bersiap ke wastafel untuk mencuci. “Gak papa. Itu tamu kamu lagian.” Ryan menghela nafas. Dia ikut berdiri dan menghabiskan air mineral di gelasnya, sebelum langsung menyusul Jane ke dapur. “Kamu gak bete, kan?” Jane menggeleng. Dia sadar diri kalau dia gak boleh kekanakan disini, masa harus musuhan sama River seumur hidup kalau dia pacaran sama Gellar selamanya? Kan gak mungkin. Jadi sepertinya dia memang harus belajar menerima keberadaan cewek itu.’ “Enggak, Ryaaan. Udah sana, kamu kalau mandi ya mandi aja.” “Bareng, yuk?” Jane menggeleng. “Kamu duluan aja. Aku mau cuci piring.” “Aku bantuin, biar bareng-bareng.” Jane ketawa. Belakangan ini Ryan memang lebih terbuka dan suka terang-terangan. Mulai dari hal-hal besar sampai kecil, seperti gak malu lagi atau sungkan ketika minta sesuatu pada Jane. Seperti ini, saat ini. Jane menolehkan kepala, mendongkkan kepala agar dapat menghadap Ryan, tapi ia yang hendak bicara malah harus mengurungkan niat karena Ryan maju untuk mencium bibirnya, beberapa kecupan kecil dan lumatan sesaat, sebelum kemudian melepas pagutan. “Mandi bareng, yuk?” ulang Ryan. “Lama gak mandi berdua.” “Katanya River abis ini mau kesini? Masa kamu malah ngajakin mandi.” “Ya gak papa, dia biasanya juga langsung tiduran di sofa.” Jane agak terganggu dengan fakta bahwa teman baik Ryan itu memang sudah menganggap apartemen Ryan seperti rumahnya sendiri. Tapi sebisa mungkin ia tidak ingin jadi pacar yang posesif. “Nooooo,” Ryan menggelengkan kepala ketika Ryan hendak mendekat lagi, bahkan sudah mengambil ancang-ancang akan menggendong tubuhnya. “Sana, ah. Mandi aja duluan.” Ryan mencebik, dia kalah. * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN