45 : he ain't asking for permission

1220 Kata
Entah Ryan aja yang berlebihan, atau sesungguhnya suasana memang tidak aka kondusif kalau Jane lagi dan lagi harus dipertemukan dengan River. Pertama dan terahkhir kali mereka berdua bertemu, Ryan menyimpulkan bahwa lebih baik tidak terulang lagi. Tapi apa yang bisa ia lakukan ketika River tetep ngeyel mau numpang tidur di apartemen, sekaligus numpang makan pastinya, padahal ia sudah bilang bahwa Jane sedang berada di apartemennya? Ia tak ingin menjadi teman yang buruk dengan menghalangi River berkunjung ke apartemennya. Apa lagi, sebelum ia mengenal Jane, ia sudah lebih dulu mengenal River. Saat ini, Ryan sedang duduk di atas ranjang, televisi menyala tapi sama sekali ia tak perhatikan. Sementara Jane masih di kamar mandi, karena perempuan itu benar-benar menolak mandi berdua dengan Ryan. Ryan mengirimi River pesan lagi. Christian Dave : L jadi kesini? River : Iya, ya ampun. Tanya mulu lo. Christian Dave : Jane disini. River : You already said that like a thousand time. Ryan menghela nafas, menaruh ponselnya di atas nakas dan berusaha bodo amat. Toh River sendiri yang sudah tahu maksud Ryan bilang gitu, nyatanya cewek itu gak peduli. Pun Jane juga setelah ia beritahu bahwa River akan datang, bilangnya enggak papa. Enggak masalah. Kenapa Ryan harus yang pusing tujuh keliling? Baru Ryan hendak memfokuskan isi kepalanya pada tayangan televisi di depan yang menayangkan acara tinju, pintu kamar mandi terbuka, Jane keluar dari sana setelah berganti baju dan wajah terlihat lebih segar. Keduanya hanya bertatapan sesaat, sebelum kemudian Jane duduk di kursi depan cermin dan mulai merias diri. Gak make up, sih. Cuman memakai sunscreen dan bedak saja mengingat ini masih sore hari. Ryan sudah mengalihkan atensinya secara penuh, dari televisi ke Jane. Sadar bahwa sedang diamati, Jane jadi membuka suara. “Temen kamu gak jadi kesini?” “Jadi, sih. Masih OTW kali.” “Ooh.” Ryan yang tadinya duduk di tengah ranjang kemudian bergeser hingga ujung kasur, dia duduk disana dengan kedua kaki sudah menapak lantai, mengamati lebih dekat wajah cantik Jane yang terlihat natural karena baru selesai mandi. “Kamu beneran gak papa?” “Kamu nanya gitu kayaknya ada sampai seribu kali.” Ryan meringis. baik Jane dan River sama-sama memberinya jawaban yang sama persis. Mungkin memang benar bahwa ia saja yang berlebihan. “Come here, look at me,” Ryan memutar kursi Jane agar menghadapnya. Cowok itu menyugar rambut Jane ke belakang, lalu membubuhkan kecupan singkat di pipinya. “Kenapa aku bisa bucin banget sama kamu, ya?” “Cih.” “Loh, kok cih?” “Lagian ngomongnya kayak anak SMP aja.” Ryan mengedikkan bahu. “Tapi serius. Kok bisa, ya?” “Karena aku cakep?” “Angelina Jolie juga cakep tapi aku gak bucin, tuh.” “Hm...” Jane bergantian menyisir rambut Ryan, tersenyum kecil kala hidung mereka bersenggolan karena Jane memangkas jarak. Ryan sudah hendak memagut bibir kekasihnya kalau saja Jane gak mundur dan kembali duduk di kursinya. “Mungkin karena aku adalah Jane?” Ryan tersenyum dan mengangguk. “Iya, because you are Jennie Laura.” “Ugh, i know it.” Ryan tergelak. Gak kaget kalau Jane memasang wajah sombong begitu setelah mendengar kalimatnya. Kekasihnya ini emang punya kepercayaan diri yang luar biasa. Obrolan mereka tidak berlanjut ketika kemudian River berteriak dari luar, pertanda bahwa cewek itu sudah datang. Mendengar itu, Jane menjauh dari pacarnya, kemudian memundurkan kursi dan kembali menghadap cermin. Ryan berdiri. “Aku ke depan dulu.” “Mm-hm. By the way, kalau aku minta ganti kode akses biar temen kamu gak sembarangan masuk, too much, gak?” Sebenarnya, Jane sedikit tidak enak untuk meminta ini. Tapi mengingat dia sekarang juga tinggal disini atas permintaan pemilik apartemennya sendiri, rasanya tidak nyaman jika River bisa keluar masuk sembarangan. “Kalau kamu gak enak dia ya gak apa-apa, sih,” lanjut Jane. “It’s—“ “No, it’s okay. I’ll change it soon for you.” ujar Ryan memotong. Dia membubuhkan kecupan singkat di puncak kepala Jane sebelum kemudian keluar dari kamar. * * * * * “Nih, gue bawa makanan.” River menyerahkan kantung plastik setelah Ryan menghampirinya. “Apa, nih?” “Seblak.” Ryan mendengus. “Tetep aja lu jajannnya beginian.” “Makasih, kek!” “Iya, thanks. Gue makan nanti aja, ya. Baru makan.” “Loh, iya? Untung gak jadi gue beliin nasi bungkus juga tadi.” Ryan membiarkan River langsung duduk di ruang tengah, menyamankan diri setelah mengambil piring dan mulai menyantap makanannya sendiri. Cewek itu bahkan gak segan untuk menghidupkan tivi dan mengambil minuman di kulkas. Bener-bener kayak rumahnya sendiri. “Wih, lo baru bikin spaghetti?” Ryan menoleh ke arah River yang berada di dapur. “Jane yang bikin.” “Ooh...” River mengurungkan niatnya mencicipi sisa spaghetti yang ada di dapur. “Terus cewek lo kemana? Katanya disini?” “Di kamar, baru mandi.” “Ooh.” Ryan mengambil botol soda dan duduk di ruang kursi bar. Karena letak ruang tengah bar tidak terpisah oleh dinding apapun, jadi dari jarak duduk Ryan ini, dia bisa melihat dan berbincang dengan River yang duduk di ruang tengah. “Lo baru dari kampus?” “Iya.” “Terus abis ini ada kelas lagi?” River menggeleng. “Bukan kelas. Tapi gue shft sore. Makanya gue numpang tidur disini aja. Kelamaan kalau pulang ke kosan dulu.” Ryan setuju, sih. Kalau dari kosan River ke tempat kerjanya, tentu aja akan memakan waktu lebih lama dari pada misalnya dia berangkat dari apartemen Ryan. “Eh, Yan.” “Hm?” “Cewek lo keberatan, ya, gue kesini?” Ryan diem, bingung mau jawab apa. “Elah, tapi gue kan kesini juga jarang. lagian bukan nginep juga, cuman mau numpang tidur bentar terus gue kerja.” “...” “Lagian gue sama dia juga duluan gue yang kenal elo.” “Ya iya, tapi sebenernya,” Ryan berdeham, sedikit bingung mau jelasin kayak gimana tanpa menyinggung perasaan salah satu dari mereka, “Dia kan sekarang pacar gue—“ “Dan gue cuman temen lo?” Ryan meringis. “Terus gue juga minta dia buat tinggal disini aja.” “Hah?!” Reaksi River tentu saja terkejut. “Loh, jadi sekarang dia tinggal disini? Fiks? Sama elo?” Ryan mengangguk. “Iya.” “...” “Kan gue udah pernah bilang juga ke elo, gue niatnya sama dia bukan main-main. Makanya berani ngajakin dia tinggal bareng.” Kunyahan River semakin memelan. Isi kepalanya penuh tiba-tiba. “Nyokap bokap lo tau?” Ryan menggeleng atas pertanyaan River. “Tapi gue tau mereka gak bakal larang. Lagian gue udah kenalin Jane ke mereka. “ “...” “Makanya, gue bukan ngelarang lo kesini. Cuman sekarang udah ada cewek gue, jadi, ya... you know, lah.” River masih tak membuka suara. Dia tetap makan walau sudah kehilangan selera. “Gue berasa ngomong sama patung.” Barulah cewek itu mengangkat kepala. River berdeham, lalu minum air putih, takut-takut kalau dia bersuara, Ryan bisa menangkap nada gak nyaman dalam suaranya. “Ya udah, emang gue bisa komen apa selain iya-iya aja? Toh kayak yang lo bilang, gue cuman temen lo. Dia, mah, pacar lo. Ya, kan?” Sekalipun ekspresi River tampak santai saat mengatakannya, tapi Ryan yang peka tentu jadi mengernyitkan dahi karena merasa ada yang ganjal. “Wait, kenapa lo jadi sarkas begini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN