“Bukan sarkas, kali. Gue ngomong apa adanya. Lo sendiri yang bilang Jane si cewek kesayangan lo itu adalah pacar lo sekarang, sementara gue cuman—“
“Yan?”
Jane menginterupsi tiba-tiba. Entah sejak kapan perempuan itu bersandar pada dinding perbatasan antara kamr dengan ruang tengah, dengan tangan bersedekap. Kini dia melangkah, senyumnya mengembang—tapi tentu bukan jelas senyum tulus dan ikhlas. Itu hanya formalitas. Pandangannya menatap lurus ke arah River yang menatapnya tak terbaca/
“Hai, River.”
Lengkung senyum tipis, cenderung asal-asalan, muncul di wajah River. “Hai, Jennie. Sori karena ganggu quality time lo sama Ryan.”
“It’s okay. Kita punya dua puluh empat jam yang lain buat quality time,” katanya sambil terkekeh. “I’m kidding. Udah makan siang?”
“As you see.”
Jane hanya basa-basi, sih, emang. Jelas dia tahu kalau di depan River itu adalah bungkus makanan yang sudah habis.
“Alright, kalau mau apa-apa, ambil sendiri aja. Ryan pasti ngizinin.”
“I know. Jauh sebelum lo tau apartemen ini, gue udah bolak-balik kesini dan apal setiap sudutnya,” jawab River sambil mengedikkan bahu pongah. Ketika sadar Ryan menatapnya dengan pandangan tak suka karena dia menjawab begitu, River segera menambahkan sambil terkekeh kecil. “I’m also kidding, Sister.”
Hahaha. Jane pengin ketawa kenceng aja. Dikira dia gak tau kalau yang barusan itu bukan sekedar candaan tapi disengaja oleh River?
Jane melangkah ke arah satu sofa yang lain, yang tidak diduduki oleh River. Sementara Ryan mendekat ke arahnya, River tetap berada di sofa tempatnya sendiri, sibuk menutup bungkus makanan dan membersihkan sampahnya.
Ketika River kembali duduk dengan tangan sudah bersih, cewek itu gak sungkan buat obok-obok isi kulkas dan mengambil beberapa snack disana. Ryan jelas gak masalah, Jane juga gak bakal masalah, sih, sebenarnya walaupun dia agak ilfeel karena cewek itu kelihatan jadi gak punya manner. Well, harusnya dia punya rasa tidak enak sedikit saja, kan? Apalagi dia gak minta izin dulu.
Tapi bukan itu yang ia permasalahkan. Melainkan cake durian milik Jane, yang ia beli di Singapur tempo hari hasil jastip alias jasa titip ke temen kampusnya, juga ikut-ikutan dimakan!
Jane menatap River dengan alis berkerut gak terima. Tapi dia gak mau jadi kayak bocah dengan mempermasalahin makanan doang. Toh cake durian yang harganya hanya enam ratus ribu perkotak kalau dirupiahin itu bisa dia beli lagi. Sepabrik-pabriknya kalau perlu.
Ryan sadar kemana tatapan Jane berlabuh. Dia menggaruk hidungnya yang tak gatal. Bingung harus apa. Seumur hidupnya, dia gak pernah sama sekali ada di posisi rumit dan membingungkan begini. Dia gak ingin mempermasalahkan hal kecil, tapi gimanapun dia juga merasa gak enak ke pacarnya, kalau temennye bertingkah menyebalkan seperti ini.
Ryan merapatkan jarak antara dia dan Jane, merangkul pundak sang kekasih hingga kepala Jane hampir menubruk pundaknya. Cowok itu berbisik.
“Nanti aku beliin cake durian lagi yang banyak.”
Jane ketawa mendengar itu. Dikira dia anak kecil apa ya pakai dijanjiin digantiin jajannya yang udah dimakan temen?
Tapi cewek itu mengangguk, dia mendekatkan bibir ke arah telinga membuat Ryan menunduk.
“Sekalian liburan ke Singapur aja pas liburan semester.”
“Deal.”
“Deal?!” tanya Jane karena ia tak percaya candaannya malah dibawa serius oleh cowok itu.
Ryan mengangguk dan mencium pucuk hidungnya. “Iya, deal. Pas liburan semester, kan?”
* * * * *
River menarik nafas dalam-dalam. Kapan terakhir kali dia bisa merasakan sekesal ini pada orang lain? Sepertinya hampir gak pernah. Dia pun gak pernah merasa secemburu ini. Sejak mengenal Ryan, dia tahu cewek yang dekat dan berada di sekitar Ryan ituhanya fans fanatik yang gak pernah dihiraukan oleh Ryan. Makanya, River gak pernah sama sekali cemburu ke mereka. Dia tahu posisinya sebagai satu-satunya perempuan yang bisa dekat dengan River tidak akan tergantikan.
Lalu kemudian perempuan antah-berantah bernama Jennie Laura tiba-tiba datang dan merubah segalanya. Ryan selalu memprioritaskan perempuan itu, melupakan keberadaan River. Segalanya tentang Ryan saat ini hanyalah Jane dan Jane. Gak ada yang lain.
Lihat saja apa yang dilakukan Ryan tadi.
River tidak bodoh untuk tahu maksud tersirat Ryan ketika dia membicarakan bahwa Jane sekarang tinggal di apartemen cowok itu. Dia tahu Ryan sedikt banyak ingin River tahu diri untuk tidak sesering dulu berkunjung kesini.
Tapi maaf, kali ini River ingin pura-pura bodoh dan tak mengerti maknanya saja. Dia akan jadi egois dan pura-pura tak tahu. Toh baginya, selama Jane dan Ryan belum menikah dan statusnya hanya pacaran, bukan pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama, dia berhak-berhak saja berkunjung ke apartemen Ryan seperti yang ia lakukan sejak dulu.
Kalau tahu akan begini ceritanya, seharusnya dulu ketika Ryan menawari dia untuk tinggal di apartemen bersama Ryan, ia iyakan saja. Tapi semuanya terlambat, bukan? River menyesal pernah bilang tidak.
River menghela nafas panjang, berusaha tak mengumpat dan menyindir Ryan dan Jane yang bisik-bisikan bak remaja kasmaran. Kemana perginya Ryan yang selalu dingin pada perempuan selain River itu? Kenapa sekarang yang ia lihat Ryan selalu berbunga-bunga setiap bersama Jane? Gak ada sifat dingin, yang ada hanya laki-laki itu selalu menatap Jane penuh cinta.
Ew, rasanya River ingin muntah.
Tapi River tak ingin memperlihatkan ketidaksukaannya pada hubungan Ryan dan Jane. Setelah pertemu pertama dengan Jane ketika dulu ia diajak untuk jadi nyamuk, ia sedikit banyak bisa tahu perempuan seperti apa seorang Jennie Laura.
Pacar Ryan itu licik. Dia lebih pintar dari yang pernah ia pikirkan. Jane mungkin bisa tersenyum di depan, tapi ketika tahu musuhnya mulai lengah, Jane akan mengeluarkan pisaunya yang ia sembunyikan di belakang punggung. Maka dari itu, River tak ingin memberi panggung untuk Jane dengan menunjukkan kecemburuannya, karena yang ada, Jane makin senang karena merasa menang.
“Yan, Pak Imam, tuh, masih megang jadi PA lo gak?” River mencoba mengambil atensi Ryan. “Pak Imam Subari, yang orangnya botak itu.”
Ryan mengangguk. “Iya, masih. Kenapa?”
“PA gue juga diganti, sekarang dipegang Pak Imam.”
“Emang PA lo yang lama kenapa?”
“Pensiun. Lo udah minta tanda tangan buat KRS semester ini belum, sih? Belum, kan? Bareng ajalah sama gue. Biar sekalian.”
Ryan mengangguk-angguk. “Boleh aja, sih.”
“Kapan?”
“Sebisa lo aja.”
River mengangguk-angguk kemudian sok berpikir sesaat, memikirkan jadwalnya yang kosong, lalu kembali membuka suara.
“Senin ajalah. Lo kosong, kan, jam satu?” tanya River, dia hafal jadwal kelas Ryan for your information. “Bisa gak? Nanti baliknya sekalian makan di Pangsit Pak Agus. Lama gak kesana kita.”
Jane menyugar rambut ke arah belakang, pura-pura gak peduli aja mau River ngomong A, B, atau C.
Ryan ngangguk. “Oke.”
“Makan sekalian, kan, nanti?”
“Iya, Ver. Iya.”
Well, sekarang Jane beneran pengin nyubit perut Ryan sekeras-kerasnya.
Tapi, wait, sejak kapan hal kecil aja bisa bikin Jane cemburu coba? Kayaknya Jane beneran udah bucin ke Ryan.