* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Kalau capek, ya, tidur aja. Lagian kita ke kampusnya juga masih nanti. Masih ada dua jam setengah lagi,” kata Jane megingat tadi cowok di sampingnya itu bilang kalau dia gak minat nemenin River karena badannya yang capek.
“Hm, abis ini aja. Ngantuknya tiba-tiba ilang.”
Jane gak menjawab, memilih buat scrolling i********:. Dan dia jujur banget—gak pake gegsi—buat stalking akun Ryan secara langsung, di depan pemilik akun sendiri.
Awalnya, sih, Ryan gak ngeh Jane sibuk sama hapenya tuh lagi ngapain. Tapi pas dia meregangkan badan karena posisi duduknya sedari tadi agak kurang nyaman, dia yang gak sengaja ngelirik Jane jadi langsung ketawa.
Jane menoleh. “Ngapain ketawa?”
“Kaget. Lo ngapain stalk gue?”
Jane menunduk lagi ke hapenya, kini blak-blakan langsung ngelihatin isi feed Ryan satu persatu.
Ryan berdecak geli. Gimana dia gak jatuh cinta coba sama cewek di sampingnya ini? Jane, tuh, emang one of a kind banget. Gak ada bandingannya. Kalau cewek lain bakal malu-malu, apa lagi kalau lagi stalking gebetannya begini—oke, pertanyaannya, apakah Jane juga menganggap Ryan gebetanya pula?—Jane justru stalking langsung di samping orangnya.
“Ya gak apa-apa. Gue belum pernah stalking i********: lo.”
“Payah. Gue aja bahkan belum lo follback.”
“Lah, lo udah ngefollow?” Jane terkejut dan langsung ngelihat akun-akun yang difollow Ryan.
Betul, cowok itu bahkan udah ngefollow instagramnya entah sejak kapan.
“Anjir, sori, gue baru sadar lo ngefollow gue,” ujarnya sambil menekan tombol following back untuk mengikuti akun Ryan yang lagi dia stalking itu. “By the way kenapa lo gak pernah ngepost foto lo, deh?”
“Ada, kok, foto gue.”
“Iya, maksudnya kenapa gak banyak? Masa dari tiga puluh empat postingan cuman—satu, dua, tiga, empat—empat doang foto yang ada muka lo-nya?”
Itu memang benar.
Dari tiga puluh empat postingan foto di akun Instagramnya, dia hanya pernah memposting foto yang ada mukanya cuman empat doang. Yang lainnya kebanyakan foto alam, foto bayangan dia, foto gitar, dan yang paling banyak lagi adalah foto gambar tatonya.
Selain itu, semua feed instagramnya juga penuh warna—
“Mana hitem putih semua pula temanya.”
Nah, itu dia. Semua foto yang dia ambil selalu sengaja dia filter black and white.
“Gak papa, suka aja. Lagian gak bakal ada yang komen—baru lo doang,” kata Ryan bikin Jane nyengir.
“Coba akun lo gak usah digembok, pasti yang ngefollow udah ribuan,” komentar Jane lagi saat melihat bahwa akun cowok itu hanya memiliki tiga ratus pengikut.
“Sengaja. Gue males kalau follow-follow an kalau gak deket banget.”
“Emang requested follow lo ada berapa?”
“Gak tahu, gak ngitung dan gak pernah penasaran.”
“Duh, aneh banget lo. Coba sini mana hape lo. Gue kepo, deh, tiba-tiba.”
Ryan langsung menyerahkan ponselnya yang lagi dia pegang buat balesin chat grup salah satu mata kuliahnya ke Jennie. Cewek itu segera membuka i********: dan mencari total jumlah akun yang request to follow ke Ryan.
“Tuh, kan, anjir! Astaga, berapa selebgram. Masa sampai delapan ribu akun!?”
Ryan terkekeh gemas pas Jane memekik kaget ketika melihatnya. Dia gak tahan buat gak mengacak rambut cewek itu. “Apa, sih, Jane?”
“Sumpah harusnya lo buka aja gemboknya. Bisa-bisa lo abis ini dapet endorse soalnya banyak followers. Tampang lo kan mendukung.”
“Oh, gue ganteng?” Ryan malah nanya yang itu. Senyum jahilnya kembali nampak di bibir.
Jane melirik malas ke arah Ryan. “Gak usah sok gak nyadar deh lu.”
Ryan tergelak, kali ini memilih buat mencubit hidung Jane dan menariknya ke depan, membuat cewek itu langsung menepuk paha Ryan sebal.
“Gue buka gembok, deh, ya?”
“Ngaco, jangan. Males gue.”
Jane mencibir kemudian mengembalikan ponsel Ryan dan kemabali memainkan ponselnya sendiri. Karena di postingan ke enam dari yang terakhir kali cowok itu posting adalah foto seorang perempuan—posenya cuman punggung doang tapi kelihatan estetik karena foto diambil di malam hari, jelas itu yang paling menarik perhatian Jane.
Cewek itu menekan foto tersebut. Ryan yang masih ngelihatin kegiatan yang dilakukan Jane dengan hapenya dari tadi kini sedikit merasa lehernya capek ngadep ke samping mulu.
“Jane.”
“Hm?”
“Boleh nyender ke elo, gak?’
Jane menoleh dan terkekeh gemas. Duh, Ryan nih kenapa, sih, jadi cowok gentle banget apa-apa harus pamit dulu dan minta izin! Kan Jane jadi gemes sendiri!
Cewek itu gak bilang iya atau tidak, gak juga mengangguk atau menggeleng, hanya saja dia menepuk pundaknya sendiri, menyuruh Ryan mendekat. Cowok itu tersenyum dan meletakkan kepala di pundak Jane, sementara posisi Jane emang udah nyaman banget dengan duduk di sofa dan punggungnya nyender ke sofa empuk abu-abu tua tersebut.
“No need to ask me first, Yan. Cuman nyender doang juga. I did it to you too last night.”
Ryan makin melebarkan senyum mendengar itu. “Noted. But if i wanna kiss you, do i need ask you first or nah? Or i could kiss you straight?”
Jane ketawa lagi. Tapi hatinya berdesir. Laki-laki ini benar-benar!
“Ya.”
“Ya apa?”
“Just kiss me if you want to. No need to ask me first.”
Karena jawaban dari Jane itulah, Ryan yang tadinya baru aja ngerasa nyaman dengan bersender dan menghirup wangi yang keluar dari leher Jane jadi memlih untuk mendongak, membuat Jane langsung gak fokus sama hapenya lagi, melainkan merangkum bibir Ryan yang sudah mendekat ke arahnya.
Apa ini Jane duluan yang mulai atau Ryan duluan? Entahlah, mereka berdua gak peduli.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Ini River?” tanya Jane, setelah sesi berciuman dengan cowok yang kini kembali meletakkan kepala di pundaknya itu selesai dan dia kembali menjalankan aktivitas stalkingnya. Dia memperlihatkan foto punggung perempuan ke arah Ryan.
“Iya, kan itu udah gue tag.”
Jane langsung menekan akun River yang komentar di postingan tersebut. Komennya berupa : kirim ke gue dong!
Akun River gak digembok, artinya Jane bebas stalking tanpa harus repot-repot follow dulu. Pengikut River ada seribu dua ratus, diam-diam, Jane membandingkannya dengan followersnya yang udah mencapai tujuh ribu. But wait, ngapain juga Jane ngebanding-bandingin?
Sama halnya kayak Ryan, River pun memposting anyak foto berupa black and wait type, dan dari delapan belas postingan, foto mukanya River cuman ada enam, dua belas yang lainnya kebanyakan foto langit dan gedung.
“Guess you have a same type with her,” komentar Jane.
Ryan yang paham maksudnya jadi mengangguk. “Emang. That’s why kita temenan. Gue banyak kesamaan sama River.”
Jane membuka sorotan River yang kebanyakan diisi dengan foto cewek itu sendiri, sementara sebagian yang lain adalah foto Ryan, atau foto River dengan Ryan.
“Cantik orangnya,” ujar Jane lagi.
“She is.”
Dan entah kenapa Jane gak suka Ryan malah setuju sama ucapannya walaupun Jane tahu River emang cantik. Cantik banget dan gak norak padahal cowok itu agak tomboy. Terlihat dari bagaimana River memposting outfit-outfit yang dia pakai.
“Banyak banget foto lo di sorotan dia. Lo gak pernah digosipin pacaran sama River sama anak departemen lo?”
“Hm, pernah. Sering.”
Sudah Jane duga!
“Lo yakin... lo gak suka sama River?”
“Should i retell you about my feeling towards you and her?”
Jane cuman mesem. Tapi dia betulan percaya gak ada persahabatan antara cewek dan cowok yang murni dan bisa terjalin tanpa perasaan lebih. Jika Ryan betulan gak punya perasaan ke River lebih dari teman, maka mungkin River lah yang menyukai Ryan.
Cowok itu menjauhkan kepala demi melihat ekspresi Jane yang ternyata lagi ngelamun.
“Why?” tanya Jane karena Ryan ngelihatin dia begitu banget.
“Gue yang harusnya tanya. Why? Kenapa ngelamun?”
“Hm, enggak ngelamun.”
“Such a lie.”
Jane memilih keluar dari aplikasi Instagramnya dan mematikan ponsel.
“Nope, Yan. Beneran.”
Padahal apa yang sebenarnya Jane ingin bilang adalah : bahwa dia merasa sedikit gak nyaman menerka-nerka seperti apa perasaan River pada Ryan. Hanya saja Jane tahu diri, bahwa dia gak seharusnya bertanya begitu seakan dia terganggu dengan River, sementara dia sendiri ragu terhadap perasaannya pada Ryan—dan Kaisar.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *