* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Seperti yang dibilang Ryan kemarin, mobilnya akan dibawa Jane untuk berangkat kuliah sementara ia tak masalah untuk naik taksi. Setelah itu, Ryan yang akan mengambil mobilnya di gedung fakultas Jane dan mengantar cewek itu pulang.
Tapi karena Ryan masih lama banget masuk kelas sorenya—yang katanya malah sekarang diundur jadi jam tiga kurang sepuluh menit padahal seharusnya sejam sebelum itu udah masuk—akhirnya cowok itu memilih pulang ke apartemen.
Dia bahkan sampai menolak ajakan River yang ngajakin dia cari gelato di Gowlie. Well, Ryan sendiri gak terlalu suka es krim, itu alasan pertamanya kenapa dia gak mau diajakin ke gelato sama River. Kalaupun kemarin-kemarin dia pernah kesana, itu juga karena dia sama Jane, sama gebetannya.
What his girl wants, his girl gets it.
Uh-oh. Apa baru saja Ryan sudah mengklaim Jennie Laura sebagai miliknya? His girl?
Alasan kedua kenapa dia menolak adalah karena dia tahu Jane masih di apartemennya. Karena mata kuliah pertama cewek itu yang udah diputusin buat titip absen ke Hanna aja, Jane memilih masuk di kelas kedua yang mana kebetulan banget jamnya cuman beda lima belas menit sama Ryan.
Nah, karena itulah Ryan memilih pulang.
Sekarang, setelah berpamitan pada River yang akhirnya mengalah buat ke Gowlie sama temen-temen ceweknya yang lain, cowok itu nebeng salah satu kakak tingkatnya yang kebetulan berteman baik sama dia, buat nganterin dia ke apartemen.
Kelihatan aneh sebenernya kalau Ryan nebeng orang, karena dia emang baru kali ini nebeng-nebeng. Biasanya dialah yang nebengin dan lebih sering seorang diri di atas motor, maupun dengan membawa mobil.
Tapi demi keefektifan waktu, Ryan rela. Atau sebenernya karena dia pengen cepet ketemu sama Jane aja jadi sampai bela-belain nebeng kakak tingkatnya yang pakai motor alih-alih menghentikan taksi yang barusan lewat di depannya?
Cowok dengan jaket kulit hitam khas dia banget—iya, di kampus dia emang jadi satu-satunya cowok yang sedemen itu buat pake jaket kulit—yang selalu digunakan untuk menutupi tato-tato di lengannya itu turun dari boncengan kaka tingkatnya.
“Makasih, ya, Bang,” ujarnya sambil nyengir—sumpah, canggung banget ternyata kalau abis minta bantuin orang lain. “Jadi gak enak gue.”
“Hadoh, santai, Yan. Kayak ama sape aje lu,” ujar Keanu sambil tertawa. “By the way gue gak disuruh mampir dulu nih?”
Nah, yang satu ini juga yang jadi alasan dia males ditebengin orang. Dia gak suka apartemennya dimasuki orang lain yang bukan teman terdekatnya. Keanu ini sebenernya cuman temen nongkrong aja, tapi bukan temen deket yang gimana-gimana. Dan salah satu alasan kenapa Ryan sampai berani minta tolong karena dia dan Keanu emang lebih dekat dari pada Ryan dengan temannya yang lain. Selain River, maksudnya.
“Duh, sorry banget, Bang. Tapi lagi ada cewek gue.”
“Lah, lo punya pacar lagi?!” tanya Keanu malah salah fokus.
Ryan mengangkat alisnya bingung. Pacar lagi? Emangnya sebelum sama Jane dia punya pacar siapa, coba? Dia aja gak ngerasa begitu. “Hah, gimana, Bang?”
“Cewek lo yang matanya sipit dari anak Kedokteran kemarin—udah putus lo sama cici-cici itu?’”
Oh...
Ryan langsung ber-oh ria saat ingat yang dimaksud Keanu ini adalah perempuan yang memang pernah dekat dengannya beberapa bulan yang lalu—udah lama banget dan mereka gak sampai sebulan terus karena Ryan gak cocok (di kasur), akhirnya Ryan menjauh.
Karena malas menjelaskan kalau sebenarnya mereka gak pernah ada hubungan apa-apa, Ryan cuman mengangguk aja sebagai jawaban. “Iya, udah enggak sama yang itu.”
“Walah, walah! Edan tenan!” Keanu dan logat jawanya yang kental akhirnya kembali. “Emang cowok cakep kayak lo nih gampang banget dapet cewek baru,” Keanu menghidupkan mesin mobilnya dan bersiap pergi. “Ya udah gue balik, ya.”
“Oke, Bang. Makasih sekali lagi.”
“Yoi. Assalamualaikum!”
Ryan bengong bentar. “O-oh, ya, waalaikumsalam.”
Keanu kayaknya lupa Ryan ini non-muslim.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Cowok dengan jaket yang kini terlepas dari badannya dan sekarang jadi menggantung di pundak itu mendekatkan kartu akses apartemennya ke mesin di depan pintu. Setelah terbuka, dia segera mendorongnya agar semakin lebar dan menutup dengan kaki.
“Jane?”
Ah, sial.
Hanya dengan memanggil nama perempuan itu saat Ryan baru pulang dari kampus sudah membuat cowok tersebut membayangkan gimana indahnya kalau dia nanti bisa selalu seperti ini, selalu mencari Jane di apartemennya setelah dia kembali pulang.
“Hai,” kepala Jane melongok dari arah dapur dengan senyuman menyapa.
Ryan balas senyum sambil menghampiri cewek itu. Dan senyumnya semakin lebar kala dia melihat Jane sudah ganti baju dengan kaosnya yang baru. Pasti cewek itu baru mandi dan gak tahu mau pakai baju santai apa, jadi memilih untuk mengambil sendiri di lemari Ryan.
Bukannya merasa kesal karena Jane lancang membuka-buka dan mengambil barang miliknya, Ryan malah kesenengan. Dia ingin selalu melihat perempuan itu mengenakan baju miliknya.
Sadar saat Ryan mengamati baju yang dia pakai, Jane langsung kelabakan.
“Ah, Yan, sori. Tadi gue emang ambil baju lo di lemari soalnya—“
“I know,” potong Ryan sambil mengangguk. “Gak papa, you look good with my t-shirt on you.”
“Beneran gak papa? Sori banget gue lancang gak bilang dulu ke elo.”
“Serius, Jane, gak papa.”
Jane mengangguk dan meminta maaf sekali lagi. Tanpa meletakkan pisau yang ia gunakan untuk mengoles selai di rotinya, dia berujar menawarkan.
“Mau roti?”
“Gak usah. Oh Jesus, gue lupa beliin lo sarapan,” Ryan berujar. Padahal tadi saat dia menghampiri Keanu di tempat parkir, dia udah inget kalau dia bakal mampir beli makanan buat cewek itu, mengingat isi kulkasnya gak ada apa-apa selain alkohol dan buah-buahan yang tentunya gak bisa bikin kenyang. “Lo belum sarapan, kan?”
“Udah, kok. Tuh, lihat. Tadi gue order makanan.” jawab Jane sambil mengedikkan dagunya ke arah tong sampah, yang memperlihatkan bungkusan kotak makanan dari salah satu nama restoran dekat apartemen Ryan. “Lo sendiri udah makan?”
“Udah, barusan banget malahan.”
“Mau gue bikinin minum?”
Ryan menoleh lagi, kali ini dengan senyuman tipis yang gak bisa dia sembunyi.
Jane buru-buru menambahkan. “Maksud gue siapa tahu lo haus, jadi gue bisa—“
“No, gue nanti bikin sendiri aja. And you know, gue suka lo nawarin gue minum,” kata Ryan. Udah macem istri sendiri. Tambahnya dalam hati.
“Jangan salah paham, gue gak maksud buat caper, beneran!”
Jane panik. Bisa-bisanya, sih, dia bersikap sok perhatian begitu—padahal sebenernya bukan sok karena dia emang perhatian ke Ryan, gimanapun cowok itu uda memberinya tumpangan tidur dan membelikannya pakaian, ya kali dia cuek-cuek aja?
Tapi tetep. Rasanya dia kayak malu sendiri karena mengeluarkan kata-kata seperti itu.
“Kok gue jadi kayak bininya, sih?” batin Jane dalam hati.
“Iya, Jane. Totally understand,” Ryan manggut-manggut dan terkekeh. “Gue mau ganti baju dulu. Lo kalau mau nonton, nonton aja. Atau mau ngapain, terserah.”
“Okay.”
“Anggep rumah sendiri.”
Jane ketawa entah untuk apa. “Iya, Yan.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kembalinya Ryan ke ruang tengah untuk menghampiri Jane yang duduk bersila memperlihatkan paha mulusnya itu membuat cewek dengan roti di tangan—yang gak tahu kenapa dari tadi gak habis-habis—jadi menoleh.
Jane bergeser seolah mempersilahkan Ryan untuk duduk di sampingnya. Dan Ryan pun melakukannya.
“Tumben nonton berita?” tanya Ryan setelah iklan di televisi sudah habis dan kini menayangkan berita di salah satu chanel Indonesia tentang kematian sepasang suami istri di tol yang meninggalkan luka terdalam bagi seluruh Masyarakat Indonesia—well, di judul beritanya emang gitu dan sekarang lagi booming.
Jane, tanpa menoleh, menjawab. “Pertanyaan lo seolah kita udah kenal lama. Emang lo tahu gue sukanya nonton apa gak sukanya nonton apa?”
Bener juga. Ryan membatin.
Tapi entahlah, bagi Ryan dan Jane, somehow and sometimes mereka juga ngerasa kok kalau mereka tuh kayak udah kenal lama banget. Padahal belum ada sebulan.
Kayak gimana Ryan dan Jane kemarin tidur di kamar yang sama dan saling memunggungi, Jane yang pinjem kaosnya Ryan walaupun akhirnya ngerasa gak enak karena dia merasa lancang, Jane yang bikin roti di dapur Ryan, dan segala hal kecil yang mereka berdua lakukan—kayak menyandarkan kepala di pundak cowok itu. Lagi, seolah mereka udah kenal lama.
“Iya juga,” jawab Ryan singkat.
“Gak ada chanel seru juga, sih. Dan males nonton apa-apa. Jadi senemunya doang,” Ryan menarik satu lembar tisu dari kotak di depannya kemudian mengangsurkan pada Jane yang baru menyuap suapan terakhir dari roti selai stroberi miliknya. “Gak jadi nemenin temen lo cari makan?”
“Hm?”
“Tadi di telpon kan gue sempet denger, katanya dia minta anter cari makan? Atau apa, ya? Agak gak denger juga.”
“Oh...” Ryan paham. “Iya, enggak. River—“
“Namanya River?”
“Bukannya gue udah pernah bilang?”
“Loh, masa?” Jane mengerjapkan mata. “Gak inget, hehe.”
“Iya, namanya River. Dia tadi emang ngajakin tapi gue lagi pengen balik. Capek badan gue.”
“Such a cool name, by the way. Cewek, namanya River. Biasanya River tuh nama cowok gak, sih?”
“Yup. Gue dulu pas awal kenalan sama dia juga gitu, suka sama namanya. Cool.”
“Kalau ke orangnya? Suka juga gak?”
Sumpah demi apapun, Jane langsung merutuki diri sendiri karena melontarkan pertanyaan bodoh itu. Kenapa pula dia bertanya seperti itu, membuatnya terlihat penasaran sekaligus posesif.
Ryan menoleh dengan alis terangkat kecil, sudut bibirnya juga ikut terangkat. “Told you that i don’t like her kayak di pikiran lo. We just friend.”
Jane manggut-manggut aja, lah, dari pada kelihatan ambigu. Apa lagi sekarang Ryan terkekeh pas Jane langsung fokus ke TV lagi.
“Gue kalau suka sama cewek, satu ya satu, Jane. Gak suka nyabang.” jelas Ryan melanjutkan. “Jadi kalau udah nemu cewek yang beneran gue suka, bisa dipastiin gue gak bisa suka sama yang lain lagi, secakep atau seperfect apapun cewek di sekitar gue.”
Jane menggumam saja. “Hmm.”
Padahal dia udah pengen jejeritan aja karena salah tingkah. Dia gak bodoh buat menerjemahkan kalimat tersirat dibalik apa yang dibilang Ryan barusan. Apa lagi setelah Ryan beberapa kali bilang ke dia kalau Ryan memang menyukai Jane.
“Dan gue udah bilang ke elo, gue sekarang suka sama lo.”
Tuh, kan, Jane bilang juga apa!
“Berarti gue gak suka sama cewek lain. Cuman elo.”
“...Oke.”
“Oke?” Ryan terkekeh geli.
Jane berdeham. Entahlah, sekarang dia jadi berubah kayak cewek SMA yang suka baper sendiri sama hal-hal kecil semenjak dia dekat dengan Ryan. Masa dikit-dikit jantungnya disko. Aneh banget! Kemana perginya Jane yang dikenal tukang mematahkan hati laki-laki? Sekarang dia dilihatin sama Ryan aja udah mleyot duluan. Payah!
“Ya... iya. Oke,” jawab Jane sambil cengengesan. “Watit, lo bukan nembak gue, kan, ini tadi?”
Ryan mengedikkan bahu. “Depends. Kalau lo bakal terima, ya, gue berarti nembak. Kalau lo nolak, berarti tadi gue cuman ngasih tahu.”
Jane tergelak. “Sialan lo, gak mau rugi banget.”
Padahal sebenernya jawaban yang benar adalah bahwa Ryan belum niat nembak. Yang barusan dia omongin cuman curahan dari perasaannya saat ini doang, bahwa dia menyukai Jane dan dia gak lagi menyukai cewek lain, apa lagi River.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *