* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Lo... ngapa langsung sensi, deh?” Ryan mengernyit aneh.
Ketika pertanyaan itu muncul, seketika itu pula River langsung membenahi ekspresinya yang barusan emang terlihat nyolot dan sebal.
“Ya, enggak. Bukan sensi. Tapi lo, kan, nabrak gue jadinya kalau main hape.”
“Hadeh.”
“Hehe. Yuk, ah. Keburu perpustakaannya tutup jam istirahat.”
Ryan mengangguk aja sambil mengikuti langkah River yang berjalan ke arah perpustakaan.
Ini tentu bukan kali pertama mereka berdua mengerjakan tugas bersama. Mereka sudah berteman sejak lama. Kemana-mana berdua udah kayak hal biasa.
Ryan pun tak pernah masalah, juga tak pernah menegur orang yang sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan suka ngegosip bahwa Ryan dan River sebenernya pacaran cuman gak mau ngaku. Atau ada pula yang bilang kalau mereka cuman gengsi aja makanya gak pacar-pacaran.
Ryan gak pernah mempermasalahkan reputasinya, seperti yang dia bilang. Jangankan tentang dia dan River, sang sahabat dekatnya. Tentang dia yang jadi omongan dosen karena katanya suka mencabuli perempuan aja dia gak pernah berusaha membenarkan, kok. Dia secuek dan gak sepedulian itu sama gosip. Sekalipun korbannya adalah nama baiknya sendiri.
Bagi Ryan, mereka yang suka bikin gosip buruk tentang dia, atau tentang orang lain, adalah tipe orang yang bakal makin kesenengan kalau ditegur sama yang digosipin. Mereka bakal jadi semakin menjadi-jadi, makin sering ngegosipin, dan ngejelek-jekein. Sementara kalau Ryan diem aja, pasti berlarut-larut gosip itu akan hilang dengan sendirinya.
“Berarti nyari perkembangan pembangunan gedung dari tahun 1990, ya?” River nanya ke Ryan setelah mereka mengisi data di komputer perpustakaan sebagai pengunjung perpustakaan. “Iya, gak, Yan?’
“Iya. Nyari dua referensi aja.”
“Lah, katanya si Bapak minimal lima referensi?”
“Maksudnya, lo yang nyari dua, gue yang nyari tiga. Kalau nemu lebih ya bagus.”
River mengangguk-angguk. “Oke. Gue ke rak sebelah sana, ye. Nanti ambil duduknya di sini aja,” ujar River sambil menujuk meja yang kini dia pegang ujungnya. “Jadi gak cari-carian.”
“Ya.”
Sepeninggal River, Ryan pun meluncur ke rak-rak dengan judul Ekonomi Pembangunan. Dia menelusuri satu-persatu judul buku dengan jeli. Mata elangnya bekerja dengan cepat. Saat dia melihat-lihat rak lain, dia malah salah fokus ke jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit.
Cowok itu langsung merogoh ponsel. Jemarinya bergerak cepat mencari nomor Jane dan menekan tombol telepon.
Gak diangkat-angkat. Ryan jadi curiga cewek itu masih tidur dan belum bangun. Kesalahan Ryan adalah dia kemarin gak sempet tanya, Jane kuliah masuknya jam berapa. Cewek itu cuman bilang dia masuk siang doang, tapi gak tahu siang jam berapa. Siang, kan, banyak jamnya. Bisa jam sepuluh samapi jam tiga, semua itu masih tergolong siang.
Misalnya Jane masuk jam satu-an apa lagi lebih dari itu, tentu dia gak bakal nelponin cewek itu berkali-kali seperti sekarang. Tapi masalahnya kalau cewek itu masuk jam 11? Atau malah jam 10?
Ck, gini nih kalau terlanjur suka sama cewek. Yang bakal telat si Jane, yang repot Ryan.
Panggilan ke empat kalinya baru terangkat. Ryan langsung menyapa.
“Jane?”
“Ssst!”
Penjaga perpustakaan—wanita tua pecinta warna merah sampai dari krudung hingga sandal semuanya serba merah terang bikin sakit mata—menoleh ke arah Ryan dengan melotot, menegur bahwa gak seharusnya cowok itu berisik disini, mengingat ini perpustakaan.
Ryan mengangguk dan meminta maaf, dia kemudian melipir keluar perpustakaan dan berdiri di samping pintu.
“Jane?”
“Iya, halo? Kenapa?”
Ryan mengernyit. Kalau dari suaranya, cewek itu betulan baru bangun tidur. Suaranya khas orang bangun tidur, serak dan menguap juga.
“Lo baru bangun?”
“Hmm, iya.”
Ryan berdecak geli entah untuk apa. Mungkin karena dia sadar Jane sudah bisa terbiasa nyaman tidur di apartemennya, khususnya di kamar dan kasurnya?
“Lo kelas jam berapa? Kemarin bilangnya lo masuk siang?”
“Jam setengah sebelas.”
Cowok itu langsung berdecak. “Look at the clock.”
“Hah?”
Tapi Ryan tahu Jane langsung melakukannya. Dan itu terbukti kala Jane langsung terpekik kaget dan mengomel.
“s**t, jam sepuluh?! Gue setengah sebelas ke kampus, anjir!”
“Gue udah telponin lo dari tadi, tapi gak lo angkat-angkat.”
“Sumpah gue gak denger. Baru denger ya barusan ini—wait, oke, gue tutup ya teleponnya? Gue mau mandi—s**t, gue pake baju apa?!”
Kan, kan, kan.
Ryan bilang juga apa.
Kemarin malam dia sudah sempat menebak kalau misal Jane bangun kesiangan dan telat ngampus, dia pasti makin panik karena gak tahu mau pakai baju apa ke kampus dan gak ada kendaraan, juga skip sarapan.
“Lihat di nakas. Gue tadi jelasin disitu semua?”
Jane diam gak menjawab. Tapi lagi, Ryan tahu cewek itu lagi membaca suratnya.
Kalau udah bangun, langsung mandi dan sarapan. Karena gak ada nasi, sarapan nasinya di kantin aja kayak biasanya. Roti cuman buat ganjel. Soal baju lo buat ke kampus, gue udah beliin satu set sekalian daleman. Gue taruh di deket kasur, kelihatan kan?
Cewek itu langsung menoleh ke sebelahnya, sisi kosong kasur yang diatasnya betulan ada celana dan kaos crop top, beserta satu set dalaman. Jane merasakan pipinya memanas tiba-tib.
“Udah nemu?” tanya Ryan di seberang sana.
Jane berdeham membersihkan tenggorokannya. Satu tangan yang lain dia gunakan untuk melihat model baju yang dibelikan Ryan. “Lo update fashion cewek?”
“Bukan gue yang beli. Nyuruh Pak Handi.”
“Who’s Mr.Handi?”
‘Bodyguard-nya nyokap.”
Jane membulatkan bibirnya sedikit terkesima. Bisa-bisanya ibu cowok itu punya bodyguard sendiri? Sekarang Jane tahu Ryan emang beneran setajir itu. Well, walaupun sebenernya udah kelihatan juga, sih, dia emang tajir dari mobil yang dia punya plus apartemen ini.
“You know my size? This jeans, crop top t-shirt, underwear?”
“I know you from head to toe.”
Jane menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa tersanjung, kini dia mengerti bahwa Ryan beneran gak main-main pas bilang kalau cowok itu terlanjur suka sama Jane.
“Oke... thank you?”
“My pleasure, Jane. Sana mandi. Keburu telat.”
Jane melirik jam yang kini menunjukkan pukul 10 lebih lima belas. “Kayaknya gue mau skip kelas.”
“Loh?”
“Gak keburu. Mandinya, perjalanannya, dan gue belum sarapan. Laper.”
“Berapa SKS emang?”
“Dua doang.”
“Udah berapa kali bolos di matkul itu?”
Jane jadi terkekeh geli karena pertanyaan-pertanyaan dari Ryan sama kayak papa atau mamanya yang selalu nanya begini pas dia ketahuan bolos atau pas mau izin gak masuk dengan berbagai alasan.
“Lo mirip bokap gue, deh,” ujarnya. “Belum pernah bolos sama sekali, kok, gue di matkul ini.”
“Oh, ya udah. Mending titip absen aja ke Hanna. Gak ada presentasi, kan?”
“Nope.”
“Nah.”
Jane mengangguk. “Ya udah. Sekali lagi thanks, ya, bajunya. Sori juga gara-gara gue, lo jadi ngegrab berangkat ke kampus. Eh sekarang mobilnya malah gak gue pake.”
“It’s okay, Jane. Lagian gue juga gak ngerab tadi ini.”
“Oh, nebeng temen?”
“Bukan. Taksi.”
Jane langsung ngakak. “Ya elah, sama aja!”
“Beda.”
“Ya, ya, ya, terserah,” Jane menyunggingkan senyum sisa. “Lagi dimana ini lo? Masih kampus?”
“Mm-hm. Tapi lagi di perpustakaan.”
“Boleh telponan di perpus emang?”
“Di luarnya maksud gue.”
Jane ber-oh ria. “Never know that you so into a books.”
“I’m not, kok. Cuman mau ngerjain tugas aja. Terus temen gue ngajakin barengan. So, yah.”
“Ooh, gitu. O—“
“Yan!”
Suara cewek dari arah belakang punggung Ryan membuat cowok itu menoleh. Tanpa memutuskan telepon, dia mengangkat alisnya pada River.
“Yang ini masuk, gak? Gue nyari nemu ini doang, sih.”
Ryan menurunkan ponsel dari telinganya dan satu tangan bebasnya yang lain membuka daftar isi. “Bisa, nanti ditambahin materi ambil dari google aja. Gak bakal ketahuan.”
“Oke. Lo lagi telpon sama siapa ini tadi? Udah selesai?’
Ryan menggeleng dan kembali mengangkat ponselnya. Dia menunjukkan sekilas ke arah River. “Belum. Duluan aja kerjain. Cari poin penting, nanti gue tambah-tambahin.”
Bukannya menuruti kalimat Ryan, River malah nanya lagi.
“Lo lagi... telponan sama cewek? Tadi sekilas kelihatan foto profilnya.”
“Iya.”
“Cewek yang... itu? Yang kemarin lo ceritain?”
“Ya.”
River diam. Beberapa saat bertahan di posisi begitu sampai akhirnya ia mengangguk dan tersenyum. “Oke, gue ke nyicil duluan, ya. Abis ngerjain anterin ke kantin, ya?”
“Hmm, iya.”
Setelah punggung River berbalik meninggalkan Ryan, barulah cowok itu menatap layar ponselnya lagi. Memastikan bahwa Jane tidak memutuskan sambungan.
Sayangnya, telepon memang sudah dimatikan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ryan juga gak tahu apa yang membawanya kini malah duduk di deretan kursi yang ada di liar perpustakaan, sedikit menjauh dari arah pintu, sampai membuatnya membiarkan River ngerjain tugas seorang diri di dalam perpustakaan sana, hanya karena dia ingin kembali menelpon Jane.
Padahal umumnya, tentu saja cowok dan cewek yang PDKT lebih suka telponan di malam hari. Sleep call kalau kata anak jaman sekarang.
“Gue baru mau mandi,” ujar Jane setelah mengangkat telepon Ryan.
Cowo itu bukannya merasa bersalah, malah terkekeh. “Mandi aja. Telponnya jangan dimatiin. Atau mau sekalian video call?”
“Ryan!”
Dipastikan di seberang sana, Jane langsung menggigit bibir bawahnya saking salah tingkah. Bukan berarti dia gak pernah melakukan phone s*x, dia pernah. Kaisar dulu sering memintanya melakukan itu walau dia sedikit tak nyaman karena Kaisar seolah ketagihan dan terus-menerus meminta.
Tapi kali ini, ketika suara Ryanlah yang terdengar di ponselnya dan bicara begitu, rasanya beda. Desir aneh kembali membuat cewek itu merasa merinding, sedikit terpancing.
Ryan tertawa, kepalanya sambil menoleh ke sekililing, memastikan tak ada yang menengar kalimatnya barusan. Bisa gawat kalau orang tahu dia ngomong hal-hal dewasa di siang bolong lewat telepon begini. Mana dia lagi di kampus pula.
“Bisa-bisanya lo lagi di perpus dan ngomongin begituan!” ujar Jane seolah gak terpengaruh.
“Gak ada yang denger lagian. Lebih banyak yang di kantin dari pada di perpus.”
“Well known,” jawabnya. “Tapi gue gak keberatan kalau lo mau.”
Ryan mengernyitkan dahinya, walau mereka buka lagi video call, melainkan cuman telpon biasa yang artinya cewek di seberang sana gak tahu ekspresi wajah kayak apa Ryan sekarang. “Hm?”
“We can do it if you want it.”
Sialan. Umpat Ryan dalam hati. Bisa-bisanya Jane bilang begini, menawari hal vulgar seperti ini di siang bolong, saat Ryan lagi di tempat umum—catat, di kampus!
“No, no, no,” ujar Ryan cepat, sembari memijit pelipisnya karena merasa mulai panas dingin. “We can’t do it now.”
“You don’t want it?”
“Sure i want it. Tapi yang bener aja? Gue abis ini ada kelas, lo juga. Oh, s**t,” bulu kuduk Ryan berdiri, merinding. “Sana mandi.”
Jane jadi tertawa karena tahu Ryan mengalihkan pembicaraan mereka.
“Eh, anyway, katanya tadi mau ngerjain tugas? Gih, sana. Udah ditungguin temen lo juga gitu.”
“Hm, she’ll understand.”
“Ngertiin lo yang malah telponan sama gue dibanding bantuin dia ngerjain tugas kalian? Dan lagi, kenapa tadi gue sempet denger temen lo itu nyebut gue dengan sebutan ‘cewek yang itu, yang kemarin lo ceritain’. Did you tell her about me?”
“Lo denger tadi?”
“Yup. Abis itu baru gue matiin, sih.”
Ryan menyugar rambutnya dengan satu tangannya yang bebas. “Iya, sempet cerita ke dia soal lo, sih.”
“Guess she’s your close friend? Oh, atau jangan-jangan gebetan lo lagi?”
“Gila. Gak, lah. Kalau gue ada gebetan, gue gak bakal ngegebet lo.”
“Oh... jadi lo sekarang lagi ngegebet gue?” ledek Jane sambil terkekeh.
Ryan ikut menyunggingkan senyum. “Lo udah tahu jawabannya.”
“Hm, tapi agak susah sih kalau dideketin sama cowok yang punya sahabat cewek.”
“...Why?” Ryan tanya dengan sorot bingung. “Oh, no. Jangan bilang lo percaya sama orang yang bilang kalau there’s something more between a guy and a girl that be best friend?”
“Hm, emang begitu kan? Temen gue—you know, Hanna—dia juga sahabatan sama cowok. In the end, that guy made a confession that he likes Hanna more than just a friend.”
“Oh, ya?”
“Iya.”
“Kasihan, dah, temennya Hanna. Pasti sumpek diresein cowoknya Hanna mulu.”
Jane tergelak mendengar itu. “Kok malah salah fokus, sih? Tapi iya, sih, jadinya temen Hanna ini emang suka disinisin sama Jeff. Yah, lo tahu, lah, Jeff orangnya gimana.”
Ryan manggut-manggut. “Tapi gue sama River—“
“Namanya River?”
“Iya. River,” jawab cowok itu. “Gue sama River pure temen doang. I have no feeling for her.”
“How about her?’
“Enggak juga. Dia biasa aja selama ini.”
“Ah, lo aja kali yang gak peka.”
Ryan tertawa. “Enggak, Jane. Gue bukan tipe dia. Lagian kita sahabatan juga udah lama.”
“Hng, ya ya ya, we’ll see soon,” ujar Jane.
Sebenarnya dia bukan cemburu, kok. Jane emang suka sama Ryan tapi belum memasuki fase cemburu kalau Ryan ternyata sama cewek lain. Dia juga udah jauh-jauh hari paham kalau Ryan bisa aja tiba-tiba jadi b******k karena mukanya yang mendukung.
“I’m serious, Jane. Mau sekarang atau sepuluh tahun nanti, gak bakal ada yang berubah sama pertemanan gue dan River. Dia cocok jadi sahabat doang, gak bisa lebih.”
Yang Ryan gak tahu, kalimatnya itu didengar oleh River yang mau menghampirinya dari belakang—hendak memberikan buku jurnal sebagai referensi tugas mereka.
River sampai menghentikan langkahnya. Tapi tak lama, yang ia lakukan hanya sekedar menghela nafas dan tersenyum.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *