07 : protective friend

1139 Kata
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Presentasi, ya, lo?” River nanya pas dosen udah memasuki kelas. Kalau kebanyakan masyarakat di Indonesia siswa yang pinter main sama yang pinter, yang kurang pinter main sama yang kurang pinter, maka lain lagi dengan Ryan dan River. Cowok itu cerdas, nilainya selalu bagus. Dia aktif dalam mata kuliah apapun dan selalu belajar sebelum ujian. Cowok ganteng yang otaknya pintar tentu bikin makin menarik, kan? Makanya Ryan tuh hampir gak ada minusnya selain dia hobi ngetato kulitnya. Ryan juga bukan tipe manusia yang pilih-pilih dalam berteman. Dia temenan sama siapa saja. Hanya saja, semua orang dan gak ryan aja, udah pasti gak selalu cocok sama orang di sekitar mereka. Maka dari itu, temen deket Ryan, ya, cuman River doang. Ditanya begitu, dia menoleh ke samping, ke arah River yang masih pagi udah lembek dan berkali-kali menguap. “Iya. Lo minggu depan, ya?” “Hm,” gumam River mengiyakan, lalu menguap lagi. “Apa, dah, lo pagi-pagi nguap udah sepuluh kali?” “Ngantuk, tahu.” “Lo begadang kemarin? Apa clubbing lagi?” River nyengir. “Hehe.” “Apaan hehe-hehe?” “Ada temen gue ulang tahun, tahu. Dia ngadain party di club.” Ryan cuman geleng-geleng kepala. River malah yang berdecak atas respon Ryan. “Lo, kan, juga sering mabuk-mabukan Ngaca, dong.” “Gue kalau mabuk masih bakal inget-inget besoknya ada kelas apa gak,” ujar Ryan jujur. “Kalau gak ada, baru deh gue gas.” “Ye, gue kan beda sama lo.” “Sssst!” Suara desisan untuk memperingatkan Ryan dan River berhenti bicara itu membuat dua mahasiswa yang duduk di bangku tengah tersebut jadi mingkem dan tutup mulut seketika. “Lo, sih!” River sempet-sempetnya nyalahn Ryan padahal dia duluan yang ngajakin ngobrol. Untung aja Ryan udah biasa sama sikap River yang begini. Jadi dia cuman mencibir sebagai respon sebelum kemudian menjawab salam dari dosen, tanpa bahwa pembelajaran akan segera dimulai. “Siapa yang presentasi hari ini? Kelompok berapa?” “Kelompok enam, Pak,” jawab seseorang yang Ryan gak tahu siapa. “Isi kelompoknya ada empat orang. Christiani Gladys, Christian Dave, Veronica Andini, dan Zahra Afifah.” “Oke, silahkan maju dan mempresentasikan hasil kerjanya. Sekali lagi saya ingatkan, gak boleh ada yang pasif saat presentasi dan tanya jawab atau nilai kalian akan saya minus. Ini berlaku untuk seluruh mahasiswa yang saya ajar, di mata kuliah manapun. Paham?” “Paham, Paaak.” jawab sekelas kompak semua. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  Tentu saja Ryan berhasil melakukan presentasi dengan baik dan matang. Semua sesi tanya-jawab yang dilakukannya dengan menampung delapan pertanyaan, dari dosen dan beberapa audience, tak ada yang tidak ia jawab. Beruntung Ryan kemarin memang sempat membuka lagi folder dokumennya untuk presentasi hari ini. River menyeringai kecil—lebih mirip nyengir—pas Ryan akhirnya kembali duduk di bangku setelah presentasi, masih diiringi dengan suara tepukan dari para mahasiswa yang lain. “Lo udah cocok ngisi seminar di Istana Negara, dah.” Ryan ketawa kecil. “Ngaco lo.” “Baik, saya sudahi kelas pertemuan hari ini. Jangan lupa penanggung jawab mata kuliah ini email ke saya untuk RAR dokumen pertemuan 1 yang sudah saya beri tahu. Terimakasih, selamat siang.” “Selamat siang, Paaak!” Setelahnya, suara grusah-grusuh alias berisik sendiri—gabungan dari mahasiswa yang langsung ngerumpi mulai dari hal kecil atau hal besar, dari penting sampai gak penting, juga suara resleting tas yang dibuka kemudian ditutup, dan suami lain-lain yang beradu di ruangan itu—membuat River baru teringat sesuatu untuk ia tanyakan pada sahabat cowoknya ini. “Eh, lo abis ini mau kemana? Kelas lo masih nanti sore, kan?” Ryan mengangguk. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan. “Makan dulu di kantin. Terus gak tahu, deh, kemana. Lo sendiri?” “Makan juga. Abis itu kayaknya gue mau balik. Tapi nanggung gak, sih?” “Ya gak lah. Orang kelas kita masih setengah dua nanti. Lo bisa tidur sampai ngorok-ngorok selama itu. Ini baru pagi.” “Lo udah ngerjain mata kuliah Metafisika yang baru belum, sih?” “Belom.” “Yah, padahal mau nyontek,” River berdiri kemudian menggendong tasnya di punggung. “Ngerjain bareng yuk, lah, abis sarapan. Gimana? Jam segini biasanya perpustakaan masih sepi.” Ryan mengangguk. “Yoi, dah.” “Oke.” Ryan membiarkan cewek itu jalan duluan sementara dia berjalan di belakangnya. Sesekali Ryan mengangguk dan menepuk pundak teman yang dia lewati sambil bilang “duluan, ya.” beberapa kali. River mulai berisik lagi dengan menceritakan gimana kemarin dia mengira kura-kuranya—hadiah dari Ryan tahun lalu—udah mati karena merem dan gak buka mata, ternyata enggak. Kaayaknya betul kata Om-nya River, bahwa kura-kura emang bisa tidur. Entah benar atau gak. Tapi sayangnya, Ryan malah gak menyimak cerita sahabatnya itu dengan baik. Yang ada, dia sibuk membuka hape dan mengirimi pesan pada seseorang. Christian Dave: Jane, udah bangun? Pesan sederhana yang ia kirimkan tentu karena ia khawatir Jane gak bangun-bangun sampai telat ke kampus. Sampai kemudian ia yang tertunduk itu jadi hapir menabrak River yang berhenti di tempat—gak lanjut jalan. “Anjir, jalan, Ver!” ujarnya sambil menahan ponsel yang hampir jatuh gara-gara dia kesandung. “Eh, sori-sori. Makanya lo juga kalau jalan juga lihat-lihat, dong! Jangan ngelihatin hape mulu. Chat sama siapa coba?!” Ryan agak mengangkat alis dengan dahi terlipat bingung. Ini dia aja yang ngerasa kalau suara River kelihatan merajuk sekaligus protektif atau cuman firasat sekali lewat doang? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN