Udara pagi menyusup ke dalam gua, dingin dan lembab. Sinar matahari belum masuk sepenuhnya, hanya sedikit cahaya samar yang menerangi bagian dalam gua melalui celah di atas. Udara masih terasa berat, bau tanah basah dan batu memenuhi ruang sempit itu. Selina terbangun lebih dulu. Tubuhnya pegal karena tidur di atas lantai batu yang keras, hanya beralaskan gaun tipis yang terbuka di sana-sini. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kantuk yang masih menggantung. Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia mendengar suara pelan seperti seseorang menggertakkan gigi dan rintihan menahan nyeri. Ia menoleh. Zeva meringkuk di sisi kanannya, tubuh suaminya itu gemetar. Wajahnya pucat, alisnya berkerut menahan sakit. Napasnya cepat dan tidak beraturan. Darah kering masih menempel di sekitar luka

