Suasana ruang tunggu rumah sakit terasa sunyi meski langkah para Perawat dan suara alat medis sesekali terdengar samar dari kejauhan. Bau antiseptik yang khas menusuk hidung, membuat Selina semakin sulit menenangkan hatinya. Ia duduk di ujung bangku panjang, tangan meremas ujung lengan jaket yang dipinjamkan oleh Ammar. Matanya tak lepas dari pintu ruang perawatan di seberang sana, berharap akan terbuka setiap saat dan membawa kabar baik tentang Zeva yang sedang di rawat. Di sebelahnya, Ammar tampak tak kalah gelisah. Ia berdiri, lalu duduk, kemudian berdiri lagi seolah tak tahu harus berbuat apa. Pandangannya sesekali melirik ke arah Selina. Ammar melirik ke kanan ke kiri, Willy Altezza terlihat sibuk dengan para Polisi. Artinya ia punya kesempatan untuk berbicara lebih dekat dengan

