Syukur Ada Zeva

1115 Kata

Pintu apartemen itu bergetar hebat saat Ammar dan Selina saling mendorong, namun tak butuh waktu lama untuk pria yang sedang mabuk berat itu menerobos masuk ke dalam apartemen. “Selina…” desisnya, nadanya berat, teredam oleh sisa botol terakhir yang mungkin masih menari di pikirannya. Selina mundur perlahan, tubuhnya menegang saat tangan Ammar meraih dan mencengkeram lengan atasnya. Genggamannya terlalu kuat sampai membuat pergelangan tangan Selina sakit. “Ammar, lepaskan…sakit...” suara Selina bergetar, tapi dia berusaha tetap tenang. Di balik rasa takutnya, ada percikan keberanian yang perlahan menyala. Ammar tak menggubris. Wajahnya terlalu dekat, napasnya hangat dan menusuk. Dalam sepersekian detik, Selina tahu, jika dia diam, ini akan menjadi awal dari kehancuran yang lebih besa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN