Seiring berjalannya waktu, Larasati mulai dapat menerima kenyataan bahwa harapannya untuk dapat mengambil sang putra dari mantan suami, tidak semudah yang dia harapkan. Meski belum dapat mengikhlaskan, tetapi wanita muda itu mencoba untuk berdamai dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang. Dia tidak mau terus-terusan larut dalam kesedihan karena hidup harus terus berjalan. Seraya berharap dan terus memohon pada Yang Maha Pemurah, sekiranya suatu saat nanti dia dan sang putra akan dapat dipertemukan. Untuk mengobati kerinduan pada sang putra, Larasati memfokuskan diri merawat Bram. Apalagi setelah dia dipercaya sepenuhnya untuk mengasuh dan mengurus semua keperluan putra Bara tersebut, setelah Inah dipindah tugaskan untuk membantu asisten lain di bagian belakang. Hari-hari wanita muda itu

