Bab 6

2059 Kata
Cylvi tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini, penyebabnya apalagi jika bukan karena si Gaara yang belum ia kenal. Sejak tadi Cylvi hanya terus menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan pikirannya yang melayang pada kejadian beberapa waktu lalu. Peristiwa yang dengan santainya Gaara mengecap dirinya sebagai pacar.  Cylvi mengigit gulingnya geram, ia berharap guling itu adalah sosok Gaara yang menyebalkan sehingga ia bisa mencekiknya sampai musnah dari hadapannya. Imajinasi jahat itu semakin membuatnya membenci sosok Gaara, ia sama sekali tak bisa mengerti jalan pikiran cowok itu dan semuanya menjadi semakin sulit untuknya sekarang. “Kenapa juga dia sok-sokan belain gue depan anak-anak? Pake acara bilang gue pacarnya lagi. Bikin masalah makin runyam aja,” gerutu Cylvi pelan. TING! Suara notifikasi handphone-nya berbunyi, Cylvi mengernyitkan dahinya heran. Jam dindingnya sudah menunjukkan sudah pukul 00.45, siapa yang mengiriminya pesan malam-malam begini? Cylvi yakin pesan yang masuk itu bukan berasal dari grup Kingnezs, karena suara notifikasinya dipasang berbeda. From : Gaara Alvaro Simpen kontak gue. Gaara. Cylvi mengerjapkan matanya beberapa kali dengan kedua belah bibir yang terbuka sedikit. "What? Kok dia tiba-tiba nge-chat gue? Dapet  ID gue darimana coba?" gumamnya sedikit panik, masih dengan ekspresi terperangahnya. "Oh, God! Makin gak bisa tidur nih gue jadinya," pekik Cylvi tertahan mengingat sudah tengah malam. Ia tak ingin keluarganya terkejut dan mendatangi kamarnya dengan khawatir. From : CVM Winata Lo dapet id line gue darimana? From : Gaara Alvaro Gak penting. Besok pagi gue jemput. From : CWM Winata Hah? Besok minggu, gak perlu jemput gue, gue gak bakal mau ke sekolah besok. From : Gaara Alvaro Tidur. Cylvi mengerang frustasi, ia membaca berulang-ulang isi pesan yang dikirim Gaara berharap ia salah membacanya atau Gaara yang salah mengirim pesan.  “Berarti besok pagi-pagi gue udah harus bangun gitu?” Ia mengacak-acak rambutnya jengkel. “Gue kan rencananya besok mau tidur sampe sore,” lanjutnya cemberut. Cylvi menatap kosong isi pesan Gaara tanpa berminat untuk membalas pesan tersebut, ia sibuk memikirkan cara untuk menghindari Gaara besok. “Jadi... besok gue mesti cabut dari rumah pagi-pagi?” tukasnya menepuk dahinya pelan. “Bodo amat! Gue mau tidur sekarang. Besok aja gue mikir caranya nolak Gaara.” Pancaran sinar matahari yang terik tak mampu membuat Cylvi terbangun dari alam mimpinya. Ia menaikkan selimutnya ke atas kepala seraya memutar tubuhnya membelakangi jendela kamarnya yang menyilaukan. "CYL! Masih ngebo ya lo? Teman lo udah nungguin lo di bawah nih," teriak Citra tepat di depan pintu kamar Cylvi. "Siapa sih?" balas Cylvi ikut berteriak sembari semakin meringkukkan tubuhnya di kasur. Sekejap, ia lalu membuka matanya dengan lebar. “Gaara? Ya ampun, gue lupa tuh anak mau jemput gue. Mati gue! Is to the dead!” Ia melirik ke arah jam yang baru menunjukkan pukul delapan pagi. Sembari mengacak rambutnya yang berantakan, ia kembali menutup matanya dan mengabaikan kedatangan seseorang yang ia duga Gaara itu di rumahnya. "Woi, Cyl! Ngebo lagi ya lo? Cepetan bangun." Citra mengedor pintunya lebih kuat. "Ih,” desah Cylvi menyerah. Mau tidak mau, gadis itu pun bangun dari tidurnya. Wajahnya ditekuk dan berjalan gontai ke arah pintu kamarnya. Saat ia membukakan pintu, terpampang wajah sebal milik Citra. "Suruh dia tungguin gue bentar," ucapnya kembali menutup pintu dengan kasar tak mengubris wajah kaget yang terpampang jelas di wajah Citra. "Okeee." Citra mengabaikan sikap kurang ajar Cylvi yang sudah biasa itu. Cylvi turun ke bawah setelah selesai mandi dan berpoles make up tipis. Ia dapat melihat Gaara sedang duduk sambil berbicara dengan abangnya, terlihat keduanya sudah akrab dan membicarakan hal yang Cylvi tak mengerti. "Ngapain lo ke sini, Gaar?" tanyanya ketika sudah berdiri di depan Gaara. Ia menjatuhkan bokongnya di depan kursi Gaara. “Gue masih mau tidur nih.” "Cowok lo kemari malah lo tanyain ngapain. Ya mau ngapelin lo lah, ya kali ngapelin gue," jawab Abi jenaka. “Lagian kerjaan lo di rumah kok hibernasi mulu,” ejeknya mengabaikan kerutan emosi di wajah adik bungsunya. "Gue gak nanya sama lo ya, Bang," ketus Cylvi yang dibalas cengiran oleh Abi. "Udah siap?" tanya Gaara tiba-tiba sambil melihat pakaian yang dikenakan cewek itu. Cylvi hanya menggunakan kaus berlengan tanggung dan celana jeans. Terkesan kasual namun sangat pas di tubuh gadis itu. "Hah? Apa?" Cylvi mengingat  isi pesan yang dikirimkan Gaara semalam. “Lo gak bilang mau ke mana.” "Nge-date lah adikku tersayang. Lo makanya belasan tahun tinggal di dunia ini kudu cobain pacaran, jangan ngejones sejati. Jadi malu-maluin kan lo sekarang." Abi menghindar dari lemparan bantal. "Serah lo deh, Bang," desis Cylvi semakin kehilangan mood di hari yang biasa ia gunakan untuk mengumpulkan kepingan mimpinya di alam tidur. Sedangkan Gaara hanya mengulas seringai kecil ketika mendengar perdebatan dua saudara itu. Ia bisa menyimpulkan bahwa dirinya adalah pacar pertama Cylvi, jika didengar dari ucapan Abi. Cylvi menaiki mobil Gaara dengan isi pikiran yang penuh tanda tanya. Ia bingung, tentu saja. Awalnya ia hanya diakui sebagai pacar Gaara hanya untuk menyelamatkan Gilang, namun mengapa sekarang Gaara terkesan seperti pacar sungguhannya? Apa cowok itu sebenarnya tertarik padanya? Cylvi benar-benar tak ingin memusingkannya. "Kita mau ke mana sih, Gaar?" tanya Cylvi ketika Gaara sudah melajukan mobilnya. "Hm." Cylvi menghela napasnya dongkol. "Apaan sih? Gaje banget. Kita mau ke mana?" "Makan," jawab Gaara singkat. "Hah? Kenapa gak ajakin temen lo pergi makan aja? Kenapa juga harus ngajak gue? “ tukas Cylvi terperangah dengan keanehan Gaara. "Males,” respons Gaara yang memfokuskan pandangannya pada jalanan yang masih lenggang. "Eh, gue tau tempat enak buat makan deh," cetus Cylvi yang mengabaikan respons singkat Gaara. Gaara sendiri tidak ambil pusing dengan itu. "Di mana?" "Gue tunjukin tempatnya." Gaara menatap sekeliling Warung makan Pak Coged yang dipilih Cylvi dengan diam, ia melirik sekilas wajah Cylvi yang sedang mengembangkan senyuman riang khas anak-anak. Sejauh ini, Gaara berpikir Cylvi pasti memiliki standar yang tinggi, mengingat gadis itu cukup modis dan mengikuti zaman. "Kenapa? Di sini enak tau. Lo harus cobain makan pecel lele di sini. Dijamin, bakal buat lo ketagihan," promosi Cylvi seakan-akan sedang mencoba menarik pelanggan untuk singgah di sana. "Bener ya yang gue bilang ke anak-anak,” kata Gaara tiba-tiba. Cylvi menatap Gaara bingung. Apakah Gaara juga ikut mempromosikan pecel lele ini ke teman-temannya? "Kita bakal banyak ngomong kalo lagi berduaan." Gaara mengulum senyum yang sangat tipis. "Baperan lo, Gaar," ucap Cylvi salah tingkah. "Gue kira lo bakal ajak gue ke restoran mewah, gak taunya malah ke warung kecil gini." Gaara mengedarkan pandangannya lagi pada seluruh penjuru warung tersebut. "Elah. Lo makan di sini juga enak kali kayak lagi makan makanan di restoran bintang lima," lontar Cylvi sembari mengacungkan dua jari jempolnya ke atas. “Udah enak, murah lagi!” Gaara hanya menyeringai kecil. Ia merasa Cylvi merupakan sosok gadis yang unik. Cylvi anak pengusaha kaya dan termasuk salah satu siswi yang multi talenta, tetapi apa yang diperlihatkan Cylvi sangat berbeda. Gadis itu menyukai makanan seperti di warung ini dan dari segala tingkah lakunya di sekolah, Cylvi tidak menunjukkan jika ia seorang anak yang berprestasi. Gadis itu pun tidak jaim dan hanya melakukan hal yang disukai, walaupun hal yang disukai itu kerap membuat para guru kerepotan dan sibuk karenanya. "Lo gak mau duduk, Gaar?" tukas Cylvi menyadarkan lamunan Gaara. Ternyata sewaktu Gaara memikirkan sifat dan sikap Cylvi, gadis itu sudah duduk di salah satu meja yang dekat dengan jendela. Gaara segera berjalan dan duduk di depan Cylvi. "Lo mau makan apa, Gaar?" tanya Cylvi sambil membaca menu yang ditempel di dinding. "Apa yang paling lo rekomendasikan?" tanya balik Gaara. "Semuanya," jawab Cylvi sedikit terkekeh. "Yang paling enak?" "Pecel lele." Binar senyuman terukir di bibir Cylvi. "Ya udah, gue pesen itu aja." "Lah? Yakin lo?" Cylvi terperangah kaget. "Hmm." "Ok." "Bang, pecel lelenya dua," teriak Cylvi bersemangat. "Siap," jawab abang pemilik warung tersebut. "Lo sering makan di sini?" tanya Gaara tiba-tiba. Cylvi yang sedang bermain ponsel itu pun langsung menoleh ke arah Gaara, sementara Gaara tetap memainkan ponselnya. "Lumayan. Kalo gue ada lewat, pasti gue mampir. Di sini itu makanannya enak banget terus murah lagi," jawab Cylvi sambil mengunci layar ponselnya. Memfokuskan dirinya untuk berbicara dengan Gaara. "Lalu?" "Lalu ya gitu. By the way, kenapa kita jadi beneran pacaran? Perasaan, gue sama lo gak gimana kenal." Cylvi mulai menanyakan pertanyaan yang sedari tadi mau ia tanyakan. "Ya udah, kenalannya pas udah jadian. Kan gampang." "Hah?" Cylvi menutup mulutnya yang ternganga. "Apa?" "Jangan bilang lo sekarang beneran naksir gue," kata Cylvi sembari mendelik ke arah Gaara yang masih sibuk memainkan ponselnya. Gaara menatap wajah Cylvi dengan pandangan yang sulit dijelaskan. "Menurut lo?" tanyanya. "Kagak mungkinlah. Aneh aja lo." Cylvi bersidekap sebal. "Ya udah." Gaara kembali memainkan ponselnya. "Gampang banget sih lo jadi orang," cibir Cylvi seraya memutarkan matanya. "Apanya?" "Jadian lalu ajak makan. Maksudnya apa?" "Maksudnya ya gini." "Apa?" Nada bicara Cylvi menjadi sedikit tajam, ada helaan napas kesal di sana. "Apanya yang apa?" "Gak jelas lo, Gaar." "Hmm." Cylvi menghela napas lelah. Ia tidak mengerti maksud dan jalan pikiran cowok yang ada di depannya. "Habis ini balik?" tanya Cylvi. "Itu kode buat ngajakin jalan?" canda Gaara yang ternyata ditanggapi serius oleh Cylvi. "Gue nanya doang." "Ok." Fix! Cylvi memilih diam, ia tak mau lagi mengajak Gaara berbicara kecuali ada hal yang penting untuk dibicarakan. Sehabis makan, Gaara mengajak Cylvi untuk pulang karena ia mendapat telepon dari Gilang untuk berkumpul bersama teman-temannya. "Lo mau ikut gue atau balik ke rumah?" tanya Gaara tanpa menoleh ke arah Cylvi. Keduanya sudah berada di dalam mobil, Gaara sudah menstarter mobilnya. "Ke mana?" ujar Cylvi sekenanya. "Ngumpul bareng anak-anak." Di pikiran Cylvi, sebagai ketua Kingnezs, mereka juga sering berkumpul. Walau hanya untuk sekedar bergosip ataupun pergi bersenang-senang. "Jadi?" "Hah? Apanya?" Cylvi merasa bodoh. "Lo mau ikut nggak?" "Terserah lo aja deh. Lagian gue ada rencana apa-apa hari ini.” Cylvi mengangkat bahunya enteng. "Ok." Gaara membawa Cylvi untuk berkumpul dengan teman-temannya yang sebenarnya tidak penting. Mereka hanya berkumpul untuk bermain game bersama atau membahas mengenai genk lain dan balapan. "Udah sampe." Cylvi keluar dari mobil dan memandang kanan-kiri. Ia merasa asing dengan tempat ini. Gaara yang melihat itu, segera menggenggam tangan Cylvi dan menariknya. Mereka berpacaran. Seharusnya sentuhan fisik seperti ini hal yang biasa. Namun ternyata, Cylvi sempat terperanjat kaget karena tingkahnya. "Akhirnya lo join juga, Cyl." Itu suara Saras. "Iya. Gue gak tau kalo lo ada di sini," balas Cylvi yang cuma untuk merespons ucapan Saras. "Elah. Dia mah every moments pasti ikut si Gilang. Gak kayak lo, baru sekarang aja join sama kita-kita," ujar Jacky melempar kode kepada Cylvi. Sedari tadi, Gaara sama sekali belum melepaskan genggaman tangannya dengan Cylvi. Cowok itupun menarik Cylvi untuk duduk bersamanya di samping Saras. "Elah. Pacar baru mah gak bisa dilepas ya," goda Gilang mengelingkan matanya. "Genggam tangan gue yang erat, Mas," sambung Riko yang disambut gelak tawa yang lain. "Hm," komentar Gaara tak peduli. Ia baru melepaskan tautan jari itu setelah duduk dan mengeluarkan ponselnya, bermaksud untuk bermain game. "Gaar, tumben lo bawa Cylvi?" tanya Saras. "Hm," jawab Gaara cuek. "Ih, lo mah ditanya jawabnya ha hm mulu," gerutu Saras. Cylvi sendiri pun mengabaikan pertanyaan dari Saras seraya sibuk membalas pesan di group. Kingnezs (7) Salsana KW : guysss, meet up yuk. Ke mana kek gitu. Bosan nih gue di rumah mulu. Udah capek hibernasi mulu kayak burung onta. Salvina J : kayak beruang, b**o. Ya udah, yuk. boleh. Tapi mau ke mana? Mitania Sasa : sip. Ke garden sweet aja. Katanya baru buka tuh tempat. Siska Chyntia : yang laen mana? Anna? Ananda? Cyl? CVM Winata : gak bisa nih gue. Lagi barengan sama Gaara. Gak bawa mobil gue. Salsana KW : elah yang punya pacar mah sekarang udah beda. CVM Winata : hei! Siska Chyntia : yang jadian pasti berduaan terus. Lo kagak bakal lupain kita-kita kan, Cyl? Ananda Raya : yoii guys! Cap cuyss! CVM Winata : jemput gue aja deh. Bisa join gue. Lagian bosen gue di sini. Gracelly Annaka : lo lagi di mana, Cyl? Gue otw jemput lo deh. CVM Winata : di rumahnya Johan. Eh? Deketan sama rumah lo kan, Nan? Jemput gue. Ananda Raya : di depan rumah gue kok rumahnya. Lo sih gak pernah main ke rumah gue, Cyl. Kemarin suruh lo jemput juga gak mau. Cylvi hanya membaca pesan di group-nya tanpa membalas. Ia memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu Gaara. "Gaar," panggilnya pelan, berusaha untuk tak menciptakan perhatian teman-teman Gaara. Suasana yang bising itu meredam suara Cylvi, tetapi Gaara yang di sebelahnya masih bisa mendengarnya. Terbukti cowok itu langsung menatapnya walaupun hanya sebentar. Cowok itu kembali memainkan game di ponselnya. "Gue kayaknya bakal dijemput anak-anak Kingnezs deh. Mau kumpul juga. Lo gak masalahkan?" Cylvi memasukkan ponselnya ke  dalam tas tangan yang ia bawa. Gaara kembali menatap Cylvi sekilas, ia tak memberi jawaban apapun. "Gaar?" panggil Cylvi lagi. "Ok. Lo mau ke mana? Perlu gue yang anter?" Kali ini ia mematikan ponselnya, memusatkan pandangannnya ke arah Cylvi. "Oh? Gak perlu. Ada Ananda yang bakal jemput gue. Kebetulan rumahnya deket sini,” jawab Cylvi. "Ok kalo gitu." Gaara mengangguk kepalanya pelan. "Thanks." Cylvi mengembuskan napas leganya tanpa sadar. Tidak lama kemudian, terdengar bunyi bel pintu depan. Cylvi yakin Ananda sudah berada di depan pintu itu untuk menjemputnya. Karena itu, ia segera bersiap. "Ananda? Ngapain ke sini?" tanya Johan saat membukakan pintu. "Jemput Cylvi." Ananda mengedarkan pandangannya. "Jadi gak lo nih, Cyl?" sambungnya yang melihat Cylvi masih duduk. "Jadi nih gue. Gue duluan ya, Gaar." "Cyl," panggil Gaara saat Cylvi sudah berdiri dari duduknya. "Ya?" "Lo gak nyium gue dulu?" "HAH? Apa?" Gaara pun bangkit dari duduknya dan mencium pipi Cylvi dengan lembut. "Hati-hati," bisik Gaara tepat di telinga Cylvi, yang diyakini hanya bisa didengar oleh cewek itu dan Gaara kembali duduk santai seolah tak terjadi apapun. Teman-teman Gaara hanya dapat melongo kaku. Tak menyangka, Gaara ternyata bisa menjadi sangat romantis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN