Monster di Balik Cadar Hitam
Malam itu, di kediaman mewah Keluarganya Mahendra terasa seperti peti mati yang dilapisi emas. Hujan deras yang membasahj jendela kaca lantai dua menciptakan suara gaduh yang moncekam, seolah berusaha menenggelamkan keheningan yang kian menyiksa di dalam kamar utama. Di sana, Laras Humaira duduk diam. Ia seperti sosok yang janggal di tengah kemewahan itu, seorang wanita berhijab panjang dan bercadar hitam yang tak pernah melepaskan kain di wajahnya, bahkan di dalam rumahnya sendiri.
Suara langkah kaki yang berat dan terseret terdengar dari balik pintu. Laras tidak bergerak, tetapi jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan gaun tidurnya tampak sedikit gemetar.
Pintu terbuka dengan paksa. Arya Mahendra berdiri di sana, bau whisky dan hujan menguar dari tubuhnya. Dasinya sudah melilit tidak karuan di leher, dan matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena amarah yang telah tertanam selama bertahun-tahun.
"Masih di sini, Rupawan?" ejek Arya, suaranya serak dan berat. Kata 'Rupawan' keluar dari mulutnya seperti sebuah kutukan, sebuah hinaan yang ditujukan langsung pada kenyataan bahwa wajah di balik cadar itu adalah kebalikannya.
Laras berdiri perlahan. "Kamu pulang terlambat, Mas Arya. Aku sudah menyiapkan air hangat."
"Hentikan! Aku benci suara parau itu!" Arya membanting pintu di belakangnya, suara dentumannya bergema ke seluruh ruangan. Ia melangkah mendekat, mengabaikan fakta bahwa air dari kemeja basahnya mengotori karpet tebal mahal mereka. "Aku tidak butuh air hangat. Aku tidak butuh perhatianmu. Aku hanya butuh kau menghilang dari pandanganku!"
Arya mencengkeram bahu Laras, jari-jarinya menekan kuat ke tulang selangka wanita itu. "Katakan padaku, Laras. Berapa banyak yang ayahku janjikan padamu? Apa yang membuat seorang wanita sudi bertahan dicaci setiap hari, dicekik setiap malam, dan tidak pernah dianggap ada? Apa uang keluargaku begitu manis sehingga kau rela kehilangan harga dirimu?"
Laras tetap diam. Di balik celah cadarnya, matanya menatap Arya dengan ketenangan yang luar biasa. Tatapan itu tidak mengandung kemarahan, hanya sebuah kedalaman yang sulit diartikan.
"Karena wasiat itu, Mas." Laras memulai dengan suara rendahnya.
"Persetan dengan wasiat!" Arya memotong dengan teriakan. "Ayahku sudah mati karena rasa bersalah yang bodoh. Dia pikir kau menyelamatkanku, maka aku harus menyerahkan seluruh hidupku padamu. Tapi lihat aku! Aku hidup seperti mayat karena kau ada di sini, mengambil tempat yang seharusnya milik Clara!"
Arya melepaskan cengkeramannya dan mulai tertawa pahit. "Kau tahu di mana aku tadi? Aku menjenguknya. Di rumah sakit. Clara masih di sana, Laras. Dia begitu cantik, begitu tenang, meski mesin-mesin itu harus membantunya bernapas. Dan kau tahu apa yang menyakitkan? Saat aku melihatnya, lalu pulang dan melihatmu, aku merasa sedang dikhianati oleh takdir."
Arya tiba-tiba bergerak cepat. Sebelum Laras bisa menghindar, tangan Arya sudah merenggut kain hitam yang menutupi wajah istrinya dan membuka hijab panjangnya.
Srak!
Cadar dan hijab itu terlepas dan jatuh ke lantai seperti sayap burung yang patah tertembaj di udara. Pertama kalinya selama mereka menikah, cahaya lampu kamar yang temaram menerpa wajah Laras sepenuhnya. Tanpa penghalang.
Arya tertegun, tapi wajahnya segera berkerut jijik. Di sisi kanan wajah Laras, kulit yang seharusnya halus kini berubah menjadi tekstur kasar yang mengerikan, jaringan parut berwarna kemerahan yang kaku, sisa-sisa amukan api yang tak pernah benar-benar sembuh. Luka itu menarik sudut bibirnya, membuat Laras tampak seolah selalu tersenyum miring yang aneh. Bahkan rambutnya yang dulu tergerai indah, ikut rusak karena panasnya api yang menyambar wajahnya.
"Monster," bisik Arya dengan nada mual. "Lihat, kau sangat tidak sepadan jika dibandingkan denhan Clara-ku yang cantik. Dia begitu sempurna, sedangkan kau? Monster yang bersembunyi di balik kain menjijikkan ini. Kenapa kau menyeretku dalam lingkaran setan ini?"
Laras tidak memalingkan wajah. Ia membiarkan Arya menatap kehancurannya. "Mungkin karena Allah ingin kamu belajar melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, Mas."
"Jangan berkhotbah padaku!" Arya mendorong Laras hingga wanita itu terhuyung dan jatuh terduduk di atas ranjang. "Kau hanya seorang pengganti yang cacat. Kau ada di sini karena hutang budi, bukan karena cinta. Dan jangan pernah berharap itu akan berubah."
Arya berbalik menuju meja rias, menyambar botol parfum milik Laras dan melemparkannya ke arah cermin hingga pecah berkeping-keping. "Cari cara untuk pergi dari sini, Laras. Sebelum aku benar-benar kehilangan akal sehatku dan melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal telah menerima perjodohan ini!"
Pria itu keluar dari kamar dengan kemarahan yang masih menyala, meninggalkan Laras dalam kehancuran kaca yang berserakan.
Laras perlahan turun dari tempat tidur. Ia tidak menangis. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia memungut potongan kaca satu per satu. Ia melihat pantulan wajahnya yang rusak di salah satu pecahan kaca tersebut.
"Mencintai tapi tidak bisa memiliki," bisiknya pelan pada pantulan dirinya sendiri. "Bahkan bayangannya pun bukan milikku!"
Ia memungut hijab dan cadar hitamnya di lantai, membersihkannya dari debu, lalu memakainya kembali. Laras berjalan menuju jendela, menatap hujan yang masih deras.
"Secantik apa wajah Clara hingga kamu seperti ini, Mas?" gumamnya lirih disertai air mata yang menetes. Namun, ia segera menghapus air matanya.
Laras bergegas keluar kamar. Ia harus menyiapkan makanan untuk Arya.
"Makan dulu, Mas," ujar Laras saat suaminya keluar dark ruang kerjanya, masih dengan sebotol whisky dan selembar foto di tangannya.
Mata Arya langsung tertuju ke meja makan, tempat sebuah baki perak berisi makan malam yang telah disiapkan Laras.
"Kau pikir aku bisa makan setelah melihat wajahmu?!"
Arya melangkah lebar, langkahnya berat menghantam lantai marmer. Ia menyambar piring porselen itu. "Mas, aku sudah menghangatkannya ...." Ucapan Laras terputus saat Arya mengangkat piring itu tinggi-tinggi.
Prang!
Piring itu hancur berkeping-keping tepat di depan kaki Laras yang tak beralas. Nasi dan kuah berminyak menciprat, mengotori ujung gaun tidur putihnya. Laras tidak melompat kaget. Ia bahkan tidak berkedip. Ia hanya menatap gundukan makanan yang kini bercampur dengan pecahan keramik tajam itu dengan pandangan kosong.
"Bersihkan," perintah Arya, suaranya kini merendah, dingin, dan penuh ancaman. "Sekarang. Pakai tanganmu."
Laras perlahan berlutut. Gerakannya sangat tenang, seolah ia sudah terbiasa diperlakukan seperti binatang. Arya berdiri di atasnya, menjulang seperti raksasa yang siap menginjak apa pun di bawahnya.
"Kau tahu, Laras? Setiap kali aku melihatmu berlagak menjadi istri yang berbakti, aku ingin sekali merobek cadarmu dan menunjukkan pada dunia betapa mengerikannya wanita yang ayahku pilihkan." Arya tertawa sinis, ia menendang kursi di dekatnya hingga terjungkal. "Kau bertahan di sini karena harta, bukan? Kau tahu bahwa sebagai istri sah Mahendra, kau punya akses ke segalanya. Berapa harga yang kau pasang untuk wajah hancurmu itu? Sepuluh miliar? Seratus miliar?"
Laras mulai memunguti potongan porselen yang tajam. Ia tidak menggunakan sapu. Ia benar-benar menggunakan jemarinya yang ramping.
"Wasiat itu perintah, Mas Arya. Bukan pilihan," jawab Laras pendek. Suaranya yang parau terdengar seperti gesekan amplas di tengah keheningan malam.
"Pilihan ada di tanganmu untuk pergi, tapi kau tidak melakukannya!" Arya berjongkok di depan Laras, mencengkeram rahangnya hingga wanita itu terpaksa menatap mata merah Arya. "Kau menikmati ini, kan? Kau menikmati saat aku tersiksa melihatmu. Kau parasit yang makan dari rasa bersalah keluargaku."
Arya melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Laras terhentak. Pria itu kemudian bangkit, mengambil botol whisky yang ia bawa dari bawah dan menuangkan isinya ke atas makanan yang tumpah di lantai, tepat di depan tangan Laras yang sedang memungut piring.
"Makan itu bersama ambisimu," desis Arya.