Lagi-lagi, Laras hanya diam dengan tangan yang sibuk membersihkan pecahan porselen dan makanan yang berserakan.
Arya semakin marah, ia melempar foto yang ia pegang ke arah Laras. Foto itu menunjukkan seorang wanita cantik dengan rambut panjang dan senyum yang sempurna. Clara.
"Lihat foto itu baik-baik setiap kali kau merasa percaya diri sebagai nyonya di rumah ini. Dia alasan kenapa kau tidak akan pernah memiliki hatiku. Dia alasan kenapa keberadaanmu di sini hanyalah sebuah kesalahan yang harus segera kuperbaiki, sebuah pengganti yang harus segera kusingkirkan."
Arya melangkah mundur, menatap Laras yang masih bersimpuh di lantai di tengah kekacauan itu. "Aku akan segera membawanya pulang, Laras. Clara akan segera mendapatkan kembali tempatnya. Dan saat hari itu tiba, aku akan memastikan kau tidak punya alasan lagi untuk bernapas di rumah ini."
Arya memutar tubuhnya, berjalan keluar dengan langkah sempoyongan tapi penuh kemenangan. Suara pintu utama di lantai bawah yang tertutup dengan dentuman keras menandakan pria itu kembali ke dunia malamnya, meninggalkan istrinya dalam kehinaan yang sempurna.
Laras tidak bergerak dari posisinya. Ia menatap foto Clara yang tergeletak di samping sisa makanan yang basah oleh whisky. Jemarinya yang teriris pecahan piring mulai mengeluarkan darah, menetes pelan ke atas lantai putih. Namun, Laras tidak merintih.
Ia mengambil foto Clara. Ia tidak menatapnya dengan benci, melainkan dengan tatapan yang sangat datar, hampir menyerupai tatapan seorang predator yang sedang menghitung waktu.
"Segera," gumam Laras lirih. Suaranya hilang ditelan suara guntur yang menggelegar di luar.
Ia tidak menangis. Ia justru mulai memasukkan nasi yang kotor itu kembali ke atas nampan dengan gerakan pasti yang menakutkan. Di bawah temaram lampu, bayangan Laras di dinding tampak memanjang, menciptakan siluet seorang wanita yang tak lagi memiliki jiwa, atau mungkin, seorang wanita yang sedang menunggu saat yang tepat untuk membiarkan segalanya hancur berantakan.
***
Suara deru mobil di bawah sana kembali terdengar dua jam kemudian. Langkah kaki Arya kali ini jauh lebih berat, menghantam anak tangga kayu dengan kasar. Saat pintu kamar kembali terbuka, bau alkohol yang terbawa bersamanya kini jauh lebih menyengat, seolah pria itu baru saja mandi dengan cairan whisky.
Laras baru saja selesai membersihkan pecahan kaca dan noda makanan di lantai bawah. Ia berdiri di dekat jendela, masih dengan hijab dan cadar yang melekat sempurna, meski ujung gaun tidurnya basah dan kotor.
Arya tidak bicara. Ia hanya menatap Laras dengan mata merah yang redup, tapi penuh dengan nafsu amarah yang tidak sehat. Pria itu melangkah maju, melepaskan jasnya dan membuangnya ke sembarang arah.
"Kau bilang aku suamimu, bukan?" Suara Arya rendah, hampir berupa bisikan yang mengancam. "Kau bilang kau ingin menjalankan wasiat ayahku?"
Laras mundur satu langkah, punggungnya menabrak bingkai jendela yang dingin. "Mas Arya, kamu mabuk berat. Sebaiknya kamu istirahat."
"Istirahat?" Arya tertawa parau, tawa yang terdengar mengerikan di tengah kesunyian malam. "Aku tidak bisa istirahat! Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Clara menangis! Dan setiap kali aku melihatmu, aku merasa telah mengkhianatinya!"
Arya tiba-tiba menerjang, mencengkeram kedua pergelangan tangan Laras dan menekannya ke kaca jendela yang bergetar karena hantaman hujan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, tetapi Arya segera memalingkan wajahnya ke samping, seolah-olah melihat mata Laras adalah sebuah siksaan.
"Jangan lepas kain itu," desis Arya di telinga Laras. Suaranya penuh dengan racun dan ancaman. "Tetap pakai cadarmu. Jangan biarkan aku melihat wajah monstermu sedikit pun. Aku ingin membayangkan wanita lain di bawahku malam ini."
Laras membeku. Rasa dingin dari kaca jendela menjalar ke punggungnya, tapi itu tidak sebanding dengan rasa dingin yang menghujam hatinya. "Mas, jangan seperti ini, ini salah."
"Salah?" Arya merenggut kasar tangan Laras, menyeret wanita itu menuju tempat tidur tanpa memedulikan rintihan kecil yang keluar dari bibir Laras. "Bukankah ini yang kau inginkan? Bertahan di rumah ini, menjadi nyonya Mahendra? Inilah harga yang harus kau bayar!"
Arya menghempaskan Laras ke atas kasur. Tidak ada kelembutan. Tidak ada cinta. Pria itu menindihnya dengan berat tubuh yang seolah ingin meremukkan tulang-tulang Laras. Saat tangan Arya mulai bergerak kasar, Laras secara refleks mencoba meraih sisi hijabnya yang sedikit berantakan, tapi Arya segera menepis tangan itu dengan keras.
"AKU BILANG JANGAN DIBUKA!" bentak Arya. "Tetaplah menjadi bayangan hitam. Jangan tunjukkan identitasmu. Biarkan aku menipu diriku sendiri bahwa yang sedang kupeluk saat ini adalah Clara-ku yang sempurna, bukan kau yang cacat!"
Laras hanya bisa memejamkan mata di balik cadarnya. Ia membiarkan suaminya melakukan apa pun yang ia mau. Tidak ada perlawanan fisik yang berarti, tapi tubuhnya bergetar hebat. Setiap sentuhan Arya terasa seperti sayatan pisau yang lebih perih daripada api lima tahun lalu. Pria itu tidak sedang bercinta dengannya, pria itu sedang menghukumnya, menghinanya, dan merampas martabatnya sebagai manusia.
Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi kilatan petir dari luar, Arya bergerak dengan kegilaan yang dipicu alkohol dan obsesi. Ia berkali-kali membisikkan satu nama di leher Laras.
"Clara ... Clara ... aku sangat mencintaimu, Clara!"
Setiap kali nama itu disebut, Laras merasa jantungnya diremas. Arya sedang memperkosanya secara mental, memaksa Laras menjadi wadah bagi kerinduannya pada wanita lain. Laras membenamkan wajahnya ke bantal, meredam suara isaknya yang hampir pecah menjadi raungan. Ia membiarkan dirinya dihancurkan, membiarkan suaminya mengambil paksa apa yang seharusnya diberikan dengan cinta.
Bagi Arya, ini adalah penghinaan tertinggi yang bisa ia berikan. Ia ingin Laras sadar bahwa bahkan dalam hubungan yang paling intim sekalipun, Laras tidak akan pernah benar-benar "ada". Laras hanyalah sebuah objek, sebuah tempat pembuangan rasa frustrasinya.
Malam itu, di bawah tekanan tubuh pria yang sangat ia cintai, Laras merasakan jiwanya benar-benar mati.
Setelah semuanya berakhir, Arya bangkit tanpa sepatah kata pun. Ia memungut pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah goyah, meninggalkan Laras yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang yang berantakan.
Laras meringkuk, memeluk dirinya sendiri. Hijab dan cadarnya masih melekat, meski kini kusut dan ternoda oleh air mata yang akhirnya tumpah. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Kamu sudah mengambil semuanya, Arya," bisik Laras dalam hati, suaranya kini benar-benar hilang. "Wajahku, namaku, dan sekarang ... harga diriku. Jika kamu memang sangat menginginkan hidup dengan wanita itu, bunuh aku. Sudah tidak ada yang tersisa dalam tubuh ini."
Ia bangkit dengan sisa-sisa tenaga, membetulkan kembali pakaiannya, dan kembali menjadi sosok "Laras si wanita bercadar" yang misterius. Di balik kain hitam itu, sebuah senyum yang sangat pahit dan hancur terukir.