Darah di Kain Sutra

1030 Kata
Suara azan subuh berkumandang di tengah keheningan kamar luas rumah keluarga Mahendra. Di atas ranjang besar yang kini berantakan, Laras terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Air matanya sudah mengering, meninggalkan bekas kaku di pipinya yang tertutup cadar. Ia tidak tahu kapan tepatnya ia jatuh tertidur, yang ia ingat hanyalah rasa sakit yang menghujam dan bisikan nama "Clara" yang terus terngiang seperti kutukan. Dengan sisa tenaga, Laras bangkit. Setiap inci tubuhnya menjeritkan protes saat ia melangkah menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan gerakan pelan, seolah ingin membasuh semua kehinaan semalam di bawah kucuran air dingin. Setelah shalat Subuh yang panjang dalam keheningan, ia mengenakan kembali jubah hitamnya, merapikan hijab dan cadarnya dengan telaten. Tidak ada raungan. Tidak ada drama. Laras berjalan ke dapur. Sementara itu, di ruang kerja yang pengap oleh bau sisa alkohol, Arya Mahendra tersentak bangun. Lehernya kaku karena tertidur dengan posisi duduk di sofa kulit. Ingatannya tentang semalam kembali berputar seperti kaset rusak, kilasan kemarahannya, piring yang hancur, dan adegan di atas ranjang itu. Arya memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia benci dirinya sendiri karena kehilangan kendali, tapi lebih dari itu, ia berharap pagi ini ia akan menemukan Laras bersimpuh di kaki tangga, menangis histeris atau memaki-makinya. Ia ingin melihat wanita itu hancur. Ia ingin melihat monster itu menyerah. Namun, saat Arya melangkah ke ruang makan, bukan isak tangis yang ia temukan. Suara denting sendok yang beradu dengan porselen terdengar lembut. Aroma kopi yang baru diseduh dan nasi goreng rempah, aroma yang sangat familiar, memenuhi ruangan. Laras berdiri di sana, menata piring dengan ketenangan yang tidak masuk akal. "Selamat pagi, Mas Arya. Sarapan sudah siap," ujar Laras lembut, seolah-olah malam j*****m itu hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi. Arya mematung di ambang pintu. Matanya menyipit, mencari tanda-tanda kehancuran di balik mata wanita itu. "Kau masih bisa menyiapkan ini?" Suara Arya serak, jauh dari nada beringas semalam. "Tentu saja. Ini kewajibanku," jawab Laras tanpa menoleh. Ia berjalan menuju dispenser untuk mengambil air, dan saat itulah Arya menyadarinya. Laras berjalan dengan cara yang tidak biasa. Langkahnya sedikit diseret, kaku, dan tampak menahan nyeri yang luar biasa di setiap tumpuan kakinya. Pemandangan itu seperti tamparan keras bagi Arya. Ia teringat bagaimana kasarnya ia memperlakukan tubuh mungil itu semalam. Arya duduk di kursi kebesarannya, tapi matanya tak lepas dari gerak-gerik Laras. "Kenapa kau tidak berteriak? Kenapa kau tidak melaporkanku ke polisi atau setidaknya mengadu pada pengacara ayahku?" Laras berhenti sejenak, lalu meletakkan secangkir kopi di depan Arya. "Untuk apa? Kamu suamiku. Dan aku sudah bilang, aku akan memberikan apa pun yang kamu minta." Arya terdiam, lidahnya mendadak kelu. Ia meraih kopinya, tapi matanya justru tertuju pada jemari Laras yang terbalut plester kecil, bekas irisan pecahan piring semalam. Rasa bersalah yang asing mulai merayap di dadanya, mencengkeram ulu hatinya dengan cara yang tidak nyaman. Ia bangkit tiba-tiba, meninggalkan sarapannya yang belum tersentuh, dan bergegas kembali ke kamar utama dengan alasan ingin mengambil ponsel. Namun, tujuan aslinya adalah ranjang itu. Di sana, seprai sutra abu-abu itu masih berantakan. Arya menyibakkan selimutnya, dan napasnya tertahan. Di atas hamparan kain itu, terdapat noda merah yang sudah mengering. Kecil, tapi sangat nyata. Darah. Dunia seakan berputar di bawah kaki Arya. Ia bukan pria naif. Noda itu adalah bukti nyata bahwa semalam kali pertama bagi Laras. Dan ia, telah merampasnya dengan cara yang paling menjijikkan. Ia telah menghancurkan sesuatu yang suci di dalam diri seorang wanita atas nama dendam pada takdir. Arya mundur selangkah, tangannya gemetar. Hatinya yang selama ini keras seperti batu, mendadak terasa retak. "Dia masih murni? Setelah semua tuduhan parasit dan wanita simpanan yang kulemparkan padanya?" Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, bayangan Clara yang suci di kepalanya sedikit terusik. Ada pertentangan hebat di dalam dadanya. Bagaimana mungkin seorang wanita yang ia anggap parasit dan "monster" memiliki kesucian yang selama ini ia puja-puja pada diri Clara? "Tidak," bisik Arya pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan logika gilanya. "Ini tidak mengubah apa pun. Dia tetaplah penghalang. Dia tetaplah alasan kenapa aku kehilangan Clara." Arya mencengkeram kain seprai itu, ingin sekali merobeknya dan membuang bukti kesucian itu jauh-jauh. Ia tidak boleh merasa kasihan. Kasihan adalah kelemahan yang akan membuatnya mengkhianati Clara. Ia keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru, kembali ke meja makan di mana Laras masih berdiri menunggunya dengan kepala tertunduk. Arya menatap istrinya itu dengan pandangan yang lebih kompleks, campuran antara benci, rasa bersalah, dan ketakutan yang mendalam. "Aku akan pergi ke rumah sakit," ujar Arya dingin tanpa menatap mata Laras. "Jangan menungguku pulang." Laras hanya mengangguk kecil. Saat Arya melangkah pergi, Laras perlahan mengangkat wajahnya. Ia menatap punggung suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di balik cadar hitam itu, Laras menghembuskan napas panjang. Ia tahu Arya telah melihat noda itu. Ia tahu benteng di hati Arya mulai retak, meski Arya akan mencoba menambalnya dengan kebencian yang lebih besar. Laras kembali ke meja makan, memandangi piring Arya yang tak tersentuh. "Sedikit lagi, Arya," bisiknya hampir tak terdengar. "Sedikit lagi kamu akan menyadari bahwa monster yang sebenarnya bukan ada di wajahku, tapi di dalam obsesimu sendiri. Suatu saat kamu akan menyadari bahwa hanya aku yang mencintaimu." Laras menunduk sejenak, tapi tatapannya segera beralih pada tumpukan berkas di meja. Arya meninggalkan berkasnya. Bisa saja itu berkas penting. Bahkan pria itu tidak menggunakan jasnya. Laras tersenyum di balik cadarnya, berpikir ini saatnya untuk membuat hati Arya luluh walau hanya sedikit, tidak peduli kalau ia harus datang ke rumah sakit dan melihat Clara. Laras segera bersiap, lalu pergi. *** Begitu sampai, Laras berdiri mematung di balik pintu kaca VIP yang sedikit terbuka. Tangannya yang masih terbalut plester mencengkeram erat tas berisi dokumen milik Arya. Napasnya tertahan. Di dalam ruangan yang sunyi itu, ia menyaksikan pemandangan yang meremukkan sisa-sisa harga dirinya. Arya sedang duduk di samping ranjang pasien. Tangan yang semalam mencengkeram rahang Laras dengan kasar, kini sedang membelai jemari wanita yang koma itu dengan sangat hati-hati. "Cepat bangun, Sayang," bisik Arya, suaranya rapuh. "Aku merindukanmu. Aku ingin menatap matamu yang sama seperti malam itu. Mata yang memberiku kekuatan untuk bertahan di tengah api." Laras memejamkan mata. Setiap kata "Sayang" itu terasa seperti pisau yang mengiris luka lamanya. Ia tahu betul siapa yang memiliki mata itu, tapi ia juga tahu bahwa di mata Arya, ia hanyalah abu yang tak berharga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN