Tumbal Cinta

1180 Kata
Laras mendorong pintu pelan. Suara gesekan pintu membuat Arya tersentak. Ia langsung melepaskan tangan wanita di ranjang itu, wajahnya dalam sekejap berubah menjadi dingin dan penuh permusuhan. "Kenapa kau di sini?" tanya Arya tajam. Ia berdiri, menghalangi pandangan Laras dari ranjang tersebut. "Kamu lupa membawa dokumen ini, Mas. Dan aku membawakan pakaian bersih." Suara Laras terdengar datar, berusaha menutupi getaran di hatinya. Laras berjalan mendekat dan meletakkan tas itu di meja. Matanya tak sengaja menatap wajah wanita yang terbaring itu, wanita yang selama beberapa tahun ini mencuri hidupnya, dan suaminya. "Jangan menatapnya!" bentak Arya pelan. "Kau tidak pantas berdiri di dekatnya." "Aku hanya ingin tahu kondisinya, Mas. Apakah dokter mengatakan sesuatu yang baik?" "Kondisinya tetap seperti ini karena dia mengorbankan segalanya untukku! Dia hancur karena aku!" Arya melangkah maju, menatap Laras dengan hina. "Sedangkan kau? Kau hanya orang asing yang datang saat aku sudah selamat, membawa wasiat ayahmu seolah-olah kau adalah pahlawannya. Kau tahu betapa aku muak melihatmu berada di posisi yang seharusnya milik dia?" Arya berpaling kembali ke arah ranjang, matanya menerawang. Lima Tahun Lalu Udara terasa panas dan sesak. Bau bensin yang menyengat bercampur dengan bau kulit yang terbakar. Arya mengerang, tubuhnya terjepit di balik kemudi mobil yang terbalik. Kepalanya berdenyut hebat, darah mengalir masuk ke matanya, mengaburkan pandangan. Di tengah kesadaran yang timbul tenggelam, ia merasakan sepasang tangan menarik bahunya. Lembut, tapi penuh tenaga. "Tahan! Kumohon tahan!" Suara itu parau, tercekik oleh asap. Arya tidak bisa melihat wajah orang itu. Ia hanya bisa melihat siluet seseorang yang berusaha menariknya keluar dari mobil yang mulai dilahap api. Di saat tubuhnya berhasil diseret keluar ke aspal yang dingin, Arya mendengar suara teriakan dari kejauhan. "Clara! Awas! Cepat lari Clara! Apinya semakin besar!" Clara, nama itu terpatri di otaknya tepat sebelum sebuah ledakan kedua yang jauh lebih dahsyat menghantam. Gelombang panas menyapu segalanya. Arya terlempar, dan hal terakhir yang ia rasakan adalah aroma melati yang samar sebelum semuanya menjadi gelap total. Beberapa hari kemudian, saat ia terbangun di rumah sakit dengan ingatan yang compang-camping, asisten almarhum ayahnya datang membawa sebuah kantong plastik kecil berisi barang-barang yang ditemukan di lokasi. "Tuan muda, kami menemukan ini di dekat tempat Anda tergeletak," ujar sang asisten dengan wajah tertunduk. Sebuah name tag mahasiswa. Di sana tertulis jelas nama, CLARA. Namun, foto yang ada di atas nama itu sudah hangus sebagian, hanya menyisakan bagian rambut panjang dan bentuk dagu yang samar nama pun hanya tersisa nama Clara itu. Setelah ledakan hebat itu, Bram Mahendra, ayahnya Arya mulai menyelidiki kecelakaan yang menimpa putra semata wayangnga. Ternyata, mobil Arya disabotase rival bisnia mereka. Hampir enam bulan keadaan Arya baru benar-benar pulih. Ia membayar detektif profesional untuk mencari perempuan bernama Clara itu. Selama satu tahun tidak membuahkan hasil. Arya frustasi, ke mana lagi harus mencari Clara, wanita yang sudah menyelamatkan hidupnya. Di tengah rasa frustasi, Bram tiba-tiba menjodohkan Arya dengan putri sahabatnya dengan alasan hutang budi nyawa dan harta. Saat perusahaan keluarga Mahendra pailit dan di ambang kebangkrutan, sahabat Bram itu yang menolong keluarga mereka, bahkan saat Bram sakit keras dan butuh donor ginjal, sahabatnya itu yang rela mendonorkan salah satu ginjalnya untuk Bram. Putri sahabatnya itu, bernama Larasati Humaira. Seorang wanita bercadar dengan aura misterius. Sahabat Bram menitipkan wasiat agar Bram menjaga putri semata wayangnya dengan cara menjadikan Laras sebagai menantunya. Arya menolak keras perjodohan itu karena pikirannya hanya tertuju pada satu wanita, Clara. Bram tidak tinggal diam, ia mengancam Arya akan melakukan sesuatu pada wanita yang membuat Arya menolak perjodohan itu. Arya yang tidak ingin kehilangan Clara di saat ia sendiri belum bertemu denganya, terpaksa menerima perjodohan itu dan membenci Laras. Satu tahun pernikahan, tidak ada perubahan sama sekali dari Arya. Ia bahkan terang-terangan bahwa ia mencari wanita bernama Clara pada Laras. Laras hanya diam menerima perbuatan Arya. Satu bulan setelah pernyataan itu, Bram meninggal dunia. Di saat yang bersamaan, detektif yang Arya sewa memberitahu bahwa seorang wanita bernama Clara ditemukan koma dengan cedera parah di kepala akibat ledakan hebat pada kecelakaan mobil, di hari dan jam yang sama saat Arya kecelakaan. Arya tidak meragukannya lagi. Ia yakin, wanita yang sedang koma itulah yang telah memberikan nyawa untuknya. Sejak ia menemukan Clara, Arya menganggap Laras sebagai kutukan, pengganggu yang menghalangi Arya untuk memiliki Laras. Apalagi setelah pengacara ayahnya mengatakan akan memberikan semua aset keluarganya pada Laras jika Arya menceraikan Laras, dan itulah awal kehancuran dan siksaan Laras sebagai wanita pengganti di hidup Arya. *** Arya kembali menatap Laras. "Clara mempertaruhkan nyawanya malam itu. Dan kau? Kau bahkan tidak berani menunjukkan wajahmu karena kau tahu kau tidak akan pernah bisa menggantikannya." Laras menunduk. Ia tidak membela diri. Ia tidak memberikan pembelaan bahwa ia juga berhak mendapatkan kasih sayang dari Arya. Dia bukan pengganti, dia bukan perebut. Arya menikahinya sebelum pria itu bertemu dengan Clara. "Aku mengerti, Mas. Aku akan pergi sekarang," ujar Laras pelan. Ia berbalik, berjalan dengan langkah kaku menuju pintu. Sebelum keluar, Laras berhenti sejenak, tapi ia tidak mengatakan hal-hal yang seharusnya menjadi pembelaan. Ia hanya menatap lantai rumah sakit yang dingin. "Makanannya sudah aku siapkan di tas itu. Jangan lupa dimakan, Mas. Kamu butuh tenaga untuk menunggunya bangun." Laras pergi tanpa menoleh lagi. Arya terdiam di tempatnya, menatap pintu yang tertutup. Ia merasa aneh. Ia mengharapkan Laras akan marah, menangis, atau menuntut haknya sebagai istri. Namun, ketenangan Laras justru membuatnya merasa seperti dialah yang sedang kehilangan akal. Arya kembali duduk di samping ranjang Clara. Ia mencengkeram tangan wanita koma itu lebih erat, mencoba mencari kembali keyakinan yang sempat goyah tadi pagi saat ia melihat noda darah di seprai rumahnya. "Hanya kau, Clara. Hanya kau," bisiknya pada keheningan ruangan itu. *** Laras berjalan menyusuri lorong VIP yang dingin dengan bahu yang merosot. Di balik cadarnya, bibirnya bergetar hebat. Sejujurnya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah harapan kecil yang terus ia pelihara seperti nyala lilin di tengah badai. Ia hanya ingin Arya melihatnya sebagai manusia, sedikit saja. Ia mendambakan momen di mana Arya menatapnya bukan dengan kilatan jijik, melainkan dengan ketenangan yang ia berikan pada wanita di ranjang tadi. Laras hanya ingin Arya bertanya apakah luka di jemarinya sakit, atau sekadar menatap matanya tanpa bayang-bayang kebencian. Namun, setiap kali ia mencoba mendekat, Arya justru semakin menjauh ke dalam pelukan obsesinya pada masa lalu. Laras berhenti di depan lift, menatap pantulan dirinya di pintu logam yang mengkilap. Sosok hitam, tertutup, dan tak berwajah. Ia sadar, di mata Arya, ia hanyalah sebuah kesalahan yang bernapas. Cintanya selama ini adalah sebuah pengorbanan yang tak memiliki alamat, sebuah doa yang tak pernah sampai ke langit hati suaminya. "Aku tidak meminta hatimu sepenuhnya, Mas," bisik Laras pada bayangannya sendiri, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi denting lift yang terbuka. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini, mencintaimu dalam diam, meski kamu lebih memilih mencintai bayangan yang salah." Laras melangkah ke dalam lift, membiarkan pintu tertutup dan memisahkan dirinya dari dunia Arya yang penuh dengan kepalsuan. Ia tahu, setelah hari ini, Arya mungkin akan merencanakan sesuatu yang lebih kejam. Namun, Laras sudah memantapkan hati, jika memang kehancurannya adalah satu-satunya cara untuk menyadarkan Arya, maka ia akan menjalani sisa hidupnya sebagai tumbal bagi pria yang paling ia cintai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN