Arya Mati Kutu

1030 Kata
Seminggu setelah kejadian yang nyaris merenggut kesadaran Laras, suasana di rumah besar itu berangsur membaik, lebih tenang dan dingin. Lebam di leher Laras sudah memudar menjadi warna kekuningan yang samar, meski rasa nyeri di hatinya belum sepenuhnya hilang. Sore itu, Arya masuk ke kamar dengan setelan jas yang rapi. Ia meletakkan sebuah kotak besar di atas ranjang. "Nanti malam aku ada makan malam dengan klien penting dari Singapura," ujar Arya tanpa menatap mata Laras. "Klien ini sangat menjunjung tinggi nilai keluarga. Dia ingin bertemu dengan istriku. Pakai gaun di dalam kotak itu. Aku tidak ingin kau membuatku malu dengan pakaian kumalmu." Laras membuka kotak itu. Sebuah gamis sutra berwarna emerald gelap yang sangat elegan, senada dengan hijab dan cadarnya. "Dan satu lagi ...." Arya menambahkan dengan nada meremehkan. "Gunakan kacamata atau apa pun untuk menutupi bagian matamu yang rusak itu. Aku tidak ingin klienku kehilangan selera makan karena melihat wajah rusakmu." Laras hanya mengangguk kecil. "Baik, Mas." Dua jam kemudian, Laras turun ke lantai bawah. Arya yang sedang memeriksa jam tangannya di ruang tamu, seketika terpaku. Laras tampak sangat berbeda. Gamis itu jatuh dengan indah di tubuhnya yang ramping. Hijab panjangnya tertata sangat rapi, dan ia mengenakan kacamata dengan bingkai rose gold tipis yang elegan. Kacamata itu memang tidak menutupi seluruh wajahnya, tapi memberikan kesan intelektual yang kuat, sekaligus mengalihkan perhatian dari kerutan luka di sudut matanya. Saat Laras mendekat, sebuah aroma parfum yang sangat lembut dan berkelas tercium oleh Arya. Aroma melati yang bercampur dengan sandalwood. Jantung Arya berdegup kencang secara tiba-tiba. Ingatannya terseret kembali ke malam ledakan itu, aroma sama yang ia hirup tepat sebelum ia kehilangan kesadaran. Namun, Arya segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu. 'Jangan konyol. Parfum seperti ini dijual di mana-mana. Hanya kebetulan saja,' batinnya ketus. "Ayo berangkat. Ingat, jangan banyak bicara kecuali ditanya. Kau cukup duduk dan tersenyum, atau apa pun yang bisa kau lakukan di balik kain itu. Jangan mempermalukanku dengan ketidaktahuanmu tentang bisnis," ketus Arya sambil melangkah menuju mobil. Mereka tiba di sebuah restoran mewah yang menghadap ke arah kota. Di sana, seorang pria paruh baya bernama Mr. Chen sudah menunggu. Ia adalah investor besar yang sedang diincar Arya untuk proyek pengembangan teknologi medis. Di awal makan malam, Arya mendominasi pembicaraan. Ia berbicara tentang angka, statistik, dan proyeksi pasar dengan penuh percaya diri. Namun, saat pembahasan mulai masuk ke ranah regulasi hukum internasional dan etika medis yang rumit, Arya mulai sedikit kewalahan menghadapi pertanyaan kritis Mr. Chen. "Sebenarnya, Mr. Mahendra, saya sedikit ragu dengan poin seberapa cepat pasar di Asia Tenggara jika kita menggunakan model ini," ujar Mr. Chen sambil mengerutkan dahi. Arya terdiam sejenak, mencari jawaban yang tepat. Namun sebelum ia sempat bicara, suara lembut dari sampingnya terdengar. "Jika saya boleh berpendapat, Mr. Chen ...." Laras berbicara dengan bahasa Inggris yang sangat fasih dan aksen yang sempurna. "Jangkauan pasar itu bisa diupayakan dengan menggunakan perencanaan keuangan yang berbasis pada data riil lima tahun terakhir. Jika kita merujuk pada tesis ekonomi makro terbaru, model yang diusulkan Mas Arya justru memiliki ketahanan lebih tinggi karena diversifikasi risikonya." Arya mematung. Ia menoleh ke arah Laras dengan mata membelalak. Bukan hanya karena bahasa Inggrisnya yang lancar, tapi karena isi pembicaraannya yang sangat berbobot. Mr. Chen tampak tertarik. Ia mulai melemparkan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang manajemen risiko dan hukum bisnis kepada Laras. Dan dengan tenang, Laras menjawab semuanya. Ia mengutip beberapa jurnal ekonomi internasional dan menjelaskan teori-teori rumit seolah-olah itu adalah bacaan ringannya sehari-hari. Arya benar-benar terbungkam. Ia tidak tahu bahwa istrinya adalah lulusan terbaik yang meraih gelar Sarjana dalam waktu kurang dari tiga tahun, dan menyelesaikan Magister Bisnis Internasional hanya dalam waktu satu setengah tahun sebelum dipaksa menikah oleh keadaan. Selama ini, Arya hanya menganggapnya wanita parasit yang bersembunyi di balik cadar. "Luar biasa!" Mr. Chen tertawa puas sambil bertepuk tangan kecil. "Mr. Mahendra, Anda benar-benar pria yang beruntung. Anda memiliki 'senjata rahasia' yang hebat. Istri Anda bukan hanya cantik, sangat tetlihat dari pancaran matanya yang cerdas ini, tapi dia juga sangat brilian. Saya tidak pernah bertemu wanita dengan pemahaman bisnis setajam ini." Arya hanya bisa tersenyum kaku, sementara tangannya di bawah meja mengepal erat. Ada rasa bangga yang tidak sengaja muncul, tapi tertutup oleh rasa malu yang besar karena ia telah meremehkan istrinya sendiri. Sepanjang sisa makan malam, Mr. Chen justru lebih banyak berdiskusi dengan Laras. Laras tetap bersikap rendah hati, ia selalu mengembalikan poin pembicaraan kepada Arya, seolah-olah semua idenya berasal dari suaminya. Ia menjaga wibawa Arya di depan klien, meskipun Arya telah menghancurkan martabatnya semalam. Saat mereka kembali ke mobil setelah makan malam selesai, suasana terasa sangat sunyi. Arya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, berkali-kali ia melirik Laras dari kaca spion tengah. "Sejak kapan kau mengerti tentang manajemen bisnis dan risiko internasional?" tanya Arya akhirnya, suaranya terdengar serak. Laras menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berpendar. "Aku belajar, Mas. Aku pernah bermimpi untuk membangun firma hukumku sendiri sebelum ... sebelum semuanya berubah." Arya terdiam. Jawaban Laras yang tenang terasa lebih menyakitkan daripada makian. Ia merasa seperti baru saja menemukan sebuah buku berharga yang selama ini ia gunakan hanya untuk mengganjal pintu. "Kau tidak pernah memberitahuku tentang gelarmu," gumam Arya lagi. "Mas Arya tidak pernah bertanya," jawab Laras lembut. "Mas hanya memintaku untuk tidak mempermalukanmu. Jadi, aku mencoba melakukan yang terbaik." Arya mencengkeram kemudi lebih kuat. Ada perasaan aneh yang mulai menggerogoti hatinya, campuran antara rasa kagum yang terlarang dan rasa bersalah yang semakin menyesakkan. Namun, di tengah semua itu, sebuah pikiran egois kembali muncul di kepalanya. 'Jika dia secerdas ini, kenapa dia mau bertahan dengan pria seperti aku?' Sampai di rumah, Arya tidak langsung masuk ke ruang kerjanya. Ia berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan Laras yang sedang melepas kacamatanya dengan gerakan anggun. "Laras," panggil Arya pelan. Laras menoleh. "Iya, Mas?" Arya ingin menanyakan tentang parfum itu. Ia ingin menanyakan tentang igauannya saat itu. Namun, lidahnya mendadak kelu. "Kerja bagus untuk malam ini. Terima kasih." Akhirnya, hanya itu yang bisa ia lontarkan, bertolak belakang dengan isi hatinya. Pintu ditutup. Laras berdiri mematung. Itu adalah kata "terima kasih" pertama yang murni, tanpa embel-embel ancaman. Di balik cadarnya, setitik air mata jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena ia merasa, pertama kalinya selama pernikahan mereka, suaminya mulai melihat "dirinya", bukan sekadar luka di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN