Keberhasilan makan malam dengan Mr. Chen ternyata tidak memberikan ketenangan yang lama bagi Arya. Keesokan harinya, ia baru saja kembali dari rumah sakit sore hari dengan berita yang sama, Clara masih tetap dalam keheningan yang panjang, tanpa tanda-tanda akan terbangun. Rasa frustrasi, rasa bersalah atas perbuatannya pada Laras, dan tekanan batin yang bertumpuk membuat Arya kembali mencari pelarian lamanya.
Arya melangkah masuk ke rumah dengan langkah berat. Di tangan kanannya, ia mencengkeram botol whisky yang isinya sudah berkurang seperempat. Wajahnya kuyu, matanya merah, dan aura kegelapan kembali menyelimuti dirinya.
Ia duduk di sofa ruang tengah, hendak menuangkan cairan amber itu ke dalam gelas dengan tangan gemetar. Namun, sebuah tangan lembut tapi tegas menahan botol itu.
"Mas, tolong berhenti meminum itu," ujar Laras. Ia sudah berdiri di samping Arya sejak tadi, menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Arya menyentak tangan Laras dengan kasar. "Tidak perlu mengguruiku! Pergi sana! Urus saja urusanmu sendiri!"
Laras tidak bergeming. Ia tidak takut, tidak juga menangis. Ia menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat lelah tapi penuh dengan ketegasan yang baru. Ia tahu, jika ia terus diam, Arya akan benar-benar menghancurkan dirinya sendiri.
"Minumlah, Mas," ujar Laras tiba-tiba, suaranya berubah menjadi sangat tenang, tapi tenang yang mengerikan. "Silakan minum sampai botol itu habis. Mungkin memang itu cara terbaik agar kamu bisa segera bersama Clara."
Arya membeku. Ia mendongak, menatap Laras dengan kilatan amarah yang menyala. "Apa maksudmu, hah?! Kau mendoakanku mati?"
Laras menatap lurus ke dalam mata Arya yang liar. "Minuman itu racun, Mas. Kamu tahu itu tidak baik untuk kesehatanmu. Tapi jika kamu memang ingin meminumnya terus, lakukanlah. Mungkin dengan begitu, kamu akan segera menyusul kondisi Clara. Kamu akan berbaring di rumah sakit, di ranjang sebelah kakinya, dalam kondisi koma yang sama."
Arya tertawa sinis, meski tangannya mulai gemetar. "Bukankah itu yang aku mau? Menemaninya sehidup semati?"
"Mungkin," jawab Laras dingin. "Tapi apa pernah kamu berpikir, setelah kamu terbaring tak berdaya di sana bersamanya, kamu tidak tahu siapa yang akan mati duluan. Dan jika kamu mati lebih dulu sementara Clara tiba-tiba terbangun karena keajaiban, apa kamu rela wanita yang kamu cintai gila-gilaan itu hidup dan jatuh ke pelukan pria lain? Pria yang mungkin lebih sehat, yang tidak merusak dirinya dengan alkohol, dan yang akan menyentuh Clara dengan tangan yang tidak pernah gemetar karena kecanduan minuman haram ini?"
Duar!
Kata-kata Laras menghantam ulu hati Arya seperti godam besar. Imajinasi itu, bayangan Clara terbangun hanya untuk dimiliki oleh pria lain sementara ia membusuk di dalam tanah atau terbaring lumpuh, adalah mimpi buruk yang paling tidak sanggup ia tanggung. Obsesinya pada Clara adalah tentang kepemilikan mutlak, dan Laras baru saja menghancurkan logika itu.
Arya terdiam. Botol whisky di tangannya terasa sangat berat.
"Kamu ingin menjaganya, Mas. Tapi bagaimana kamu bisa menjaganya jika kamu sendiri hancur?" Laras melanjutkan, suaranya kini melunak. "Kamu bukan sedang mencintainya dengan minum begini. Kamu hanya sedang melarikan diri dari kenyataan bahwa kamu lemah."
"Cukup, Laras! Diam!" Arya membanting gelas kosong ke atas meja hingga pecah, ia tidak meminum seteguk pun lagi.
Ia menatap Laras dengan pandangan yang kompleks. Wanita bercadar di depannya ini baru saja memberinya pukulan telak yang tidak pernah bisa dilakukan oleh pengacara maupun ayahnya dulu. Laras menggunakan satu-satunya kelemahan Arya, yaitu Clara untuk melawannya.
"Kau pikir kau sangat pintar karena bisa bicara bisnis semalam?" desis Arya, mencoba mengembalikan harga dirinya yang runtuh.
"Aku tidak merasa pintar, Mas. Aku hanya ingin suamiku tetap hidup. Karena jika kamu mati, maka semua pengorbananku selama pernikahan kita ini akan sia-sia," jawab Laras pelan.
Laras kemudian mengambil botol whisky itu dari tangan Arya yang kini sudah lemas. Kali ini, Arya tidak melawan. Ia hanya menatap lantai dengan tatapan kosong.
"Masuklah ke kamar dan mandilah dengan air hangat. Aku akan siapkan teh jahe untuk menenangkan sarafmu," ujar Laras sebelum berlalu menuju dapur.
Arya masih terduduk di sofa, memegangi kepalanya yang berdenyut. Kalimat Laras tentang 'Clara hidup bersama pria lain' terus berputar seperti kaset rusak di otaknya. Ia merasa malu, marah, tapi di saat yang sama, ia merasakan sebuah pengakuan yang aneh di dalam hatinya.
Laras benar.
Malam itu, pertama kalinya saat ia merasa frustasi, Arya tidak menyentuh alkohol lagi. Ia naik ke kamar dan mendapati teh jahe sudah tersedia di nakas. Ia meminumnya dalam diam, merasakan kehangatan yang menjalar ke tenggorokannya, menggantikan rasa pahit whisky yang biasanya ia puja.
Saat ia berbaring di tempat tidur, ia melirik ke arah sofa di mana Laras sedang bersiap untuk tidur.
"Laras," panggil Arya lirih.
"Iya, Mas?"
"Jangan pernah katakan hal itu lagi tentang Clara dan pria lain. Jangan pernah."
Laras terdiam sejenak di kegelapan. "Maka jangan pernah beri alasan bagiku untuk mengatakannya lagi, Mas."
Arya memejamkan mata, tapi pikirannya justru semakin liar. Ia mulai menyadari bahwa Laras bukan sekadar "wanita pengganti" yang pasif. Laras adalah wanita yang memiliki kekuatan untuk menghancurkannya sekaligus menyelamatkannya. Dan kenyataan itu, entah kenapa kini terasa jauh lebih menakutkan daripada kebenciannya selama ini.
***
Hari demi hari berlalu. Pukulan telak dari kata-kata Laras malam itu benar-benar mengubah atmosfer di rumah keluarga Mahendra. Botol-botol whisky di ruang kerja Arya kini hanya menjadi pajangan berdebu. Arya mulai menyadari bahwa untuk tetap memiliki dunianya, ia harus tetap waras. Namun, kewarasan itu justru membawanya pada sebuah kenyataan baru, ia mulai terbiasa dengan keberadaan Laras.
Pagi itu, Arya turun ke meja makan tanpa amarah yang meledak-ledak. Ia mendapati Laras sedang menata piring dengan tenang.
"Mas, hari ini ada kunjungan dari yayasan panti asuhan almarhum Ayah. Mereka ingin laporan tahunan," ujar Laras tanpa menoleh, suaranya lembut tapi berwibawa.
Arya menghentikan suapan rotinya. Ia baru teringat, ayahnya memang memiliki yayasan besar yang selama dua tahun ini hampir terlupakan olehnya karena fokus pada Clara. "Aku tidak punya waktu untuk itu, Laras. Kau tahu aku harus ke rumah sakit."
"Aku sudah menyiapkannya, Mas. Semua laporan keuangan dan auditnya sudah selesai. Mas hanya perlu menandatanganinya dan menemui mereka sebentar agar wibawa keluarga Mahendra tetap terjaga," jawab Laras. Ia menyodorkan sebuah map tebal yang tersusun sangat rapi.
Arya membuka map itu dan tertegun. Analisisnya begitu tajam, bahkan ada saran-saran restrukturisasi aset yayasan agar lebih produktif, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang dengan latar belakang pendidikan tinggi.
"Kau yang mengerjakan semua ini?" tanya Arya, matanya menyipit penuh selidik.
"Aku punya banyak waktu luang saat Mas tidak ada di rumah," jawab Laras diplomatis.
Arya tidak membantah lagi. Ada rasa kagum yang mulai menyelinap, meski ia terus menepisnya. Sepanjang hari itu, ia melihat Laras dengan cara yang berbeda. Bagaimana wanita itu menyambut tamu, bagaimana ia berbicara dengan tenang tapi berbobot, membuat Arya merasa seperti sedang hidup dengan seorang asing yang sangat hebat.
Namun, kedamaian itu terusik saat telepon dari rumah sakit kembali berdering.
Wajah Arya memucat. Ia segera menyambar kunci mobilnya. "Laras, aku harus ke rumah sakit. Clara ... kondisinya kritis lagi."
Laras terdiam, tangannya yang sedang memegang buku sedikit gemetar. "Mas, bolehkah aku ikut?"
Arya berhenti di ambang pintu. Biasanya, ia akan membentak dan melarang Laras mendekati Clara. Namun, melihat ketenangan Laras dan bagaimana wanita itu merawatnya selama beberapa hari terakhir, Arya mengangguk kaku. "Cepatlah."