Dinding yang Mulai Terkikis

1105 Kata
Di rumah sakit, suasana sangat mencekam. Dokter dan perawat berlarian masuk ke ruang ICU tempat Clara berada. Arya berdiri di depan kaca besar dengan wajah hancur, sementara Laras berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatap sosok wanita di dalam sana yang menggunakan identitasnya. "Jantungnya, Tuan Arya. Jantungnya mulai melema," ujar Dokter yang baru saja keluar dengan peluh di dahi. "Meski dibantu dengan teknologi medis terbaru, kita masih bisa mempertahankan kondisinya selama enam bulan ke depan. Enam bulan untuk menemukan donor yang cocok. Ingat Tuan Arya, hanya enam bulan. Itu waktu maksimal yang kita punya sebelum sistem tubuhnya benar-benar kolaps," ujar dokter itu dengan nada serius. Arya terduduk lemas, Laras berdiri di sampingnya. Menatap wanita cantik yang terbaring lemah di ruang ICU, lalu melirik suaminya. Lorong rumah sakit itu terasa begitu panjang dan mencekam. Arya masih terduduk lemas di kursi tunggu, sementara Laras tetap berdiri di sampingnya. Matanya yang jernih menatap ke balik kaca ICU, pada sosok Clara yang wajahnya tertutup berbagai selang. Ada perasaan aneh yang bergejolak di d**a Laras, ia menatap wanita yang dicintai suaminya, wanita yang memegang tempat yang seharusnya menjadi miliknya, walau dalam keadaan koma, wanita itu sedang memegang nasib pernikahannya. Enam bulan. Kalimat dokter tadi bergema seperti lonceng kematian yang dipalu berulang kali. "Mas!" Suara Laras memecah keheningan. Ia memberanikan diri menyentuh bahu Arya yang gemetar. Arya tidak menepisnya. Ia justru menyandarkan kepalanya sejenak di lengan Laras, seolah seluruh kekuatannya telah menguap. "Enam bulan, Laras. Dokter bilang hanya ada waktu enam bulan. Jika dalam waktu itu jantung baru tidak ditemukan, dia akan ...." Arya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Isakannya tertahan, bahunya naik turun menahan beban yang teramat sangat. Laras merasakan nyeri yang hebat di dadanya, bukan karena penyakit, melainkan karena melihat pria yang ia cintai begitu hancur demi wanita lain. Namun, ia tetap mengusap bahu Arya perlahan. "Kita akan berusaha, Mas. Allah tidak akan menutup jalan bagi mereka yang berjuang." Arya mendongak, menatap Laras. Di bawah lampu neon rumah sakit yang pucat, mata Laras tampak begitu teduh. Untuk sesaat, Arya merasa seolah-olah ia sedang menatap oase di tengah padang pasir. Rasa bersalah karena telah menyiksa wanita ini kembali menyeruak, bercampur aduk dengan rasa takut kehilangan Clara. Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Arya menyetir dengan pandangan kosong, sementara Laras hanya diam menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca mobil. Sesampainya di rumah, Arya tidak langsung masuk. Ia berdiri di teras, membiarkan udara dingin malam menyentuh kulitnya. Laras masuk ke kamar, menyiapkan air hangat dan pakaian ganti untuk suaminya. Ia tahu, setelah berita sebesar itu, Arya butuh sesuatu untuk menenangkan pikirannya agar tidak kembali pada botol-botol alkohol. "Mas, mandilah. Aku sudah siapkan air hangat," ujar Laras lembut saat Arya melangkah masuk dengan sisa-sisa keputusasaan di wajahnya. Arya hanya mengangguk pelan. Ia menatap Laras yang sedang merapikan meja makan. "Laras, kenapa kau tidak bertanya?" Laras berhenti sejenak. "Bertanya tentang apa?" "Tentang kenapa aku begitu terobsesi menyelamatkannya. Tentang kenapa aku rela melakukan apa saja untuknya." Arya berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Laras. "Bukankah kau seharusnya benci padanya? Dia alasan kenapa aku memperlakukanmu seperti sampah selama ini." Laras menunduk, merapikan ujung cadarnya. "Aku tidak punya alasan untuk membenci seseorang yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri, Mas. Dia sedang berjuang antara hidup dan mati. Jika kamu menganggap dia memang pahlawanmu, maka dia juga orang yang harus aku hormati, karena tanpanya, mungkin kamu tidak akan berdiri di depanku sekarang." Arya terpaku. Jawaban Laras begitu murni, tanpa ada setitik pun dendam atau kecemburuan yang meledak-ledak. Kebaikan Laras terasa seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada makian bagi Arya. Malam itu, Arya tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Di sofa sana, Laras tertidur dalam diam. Arya bangkit, lalu berjalan mendekati sofa. Ia memperhatikan wajah Laras yang tertutup cadar, hanya bagian kening dan matanya yang tertutup rapat yang terlihat. Ia teringat kembali pada aroma parfum melati itu. Ia teringat pada kecerdasan Laras saat berbicara dengan Mr. Chen. Dan ia teringat pada ketegasan Laras saat melarangnya minum alkohol. Perlahan, Arya menarik selimut yang sedikit merosot dari tubuh Laras, menyelimutinya dengan hati-hati. Sebuah gerakan sederhana yang tidak pernah ia lakukan selama hampir dua tahun pernikahan mereka. 'Enam bulan,' batin Arya. 'Aku punya waktu enam bulan untuk menyelamatkan Clara. Tapi kenapa sekarang hatiku justru merasa takut jika waktu enam bulan itu juga akan mengubah perasaanku padamu, Laras?' Arya kembali ke tempat tidurnya dengan perasaan yang semakin kalut. Ia mulai menyadari satu hal yang menakutkan, dinding es yang ia bangun untuk membenci Laras kini mulai retak, bukan karena dipaksa, melainkan karena kelembutan Laras yang perlahan-lahan mulai mencairkannya. *** Beberapa hari setelah kunjungan ke rumah sakit, suasana rumah menjadi lebih tenang, tapi ada ketegangan baru yang menyelinup di balik keheningan itu. Arya mulai mencoba untuk hadir lebih sering di rumah, bukan sebagai pria pemarah yang mencari pelarian, melainkan sebagai pria yang sedang mencoba menebus sesuatu yang ia sendiri belum sanggup namakan. Sore itu, mereka sedang duduk di meja kerja yang sama untuk meninjau beberapa dokumen yayasan. Sinar matahari senja masuk melalui jendela besar, menyinari sosok Laras yang terlihat begitu tekun. "Laras," panggil Arya pelan. Laras menoleh sedikit. "Iya, Mas?" Saat itulah Arya menyadari ujung hijab Laras sedikit tersingkap di dekat bahunya, hampir memperlihatkan bagian leher yang pernah ia cengkeram dengan kasar. Secara refleks, Arya mengulurkan tangannya. Ia hanya ingin merapikan kain itu, memastikan istrinya tetap tertutup rapat seperti keinginannya selama ini. Namun, belum sempat jari Arya menyentuh kain itu, Laras tersentak. Deg. Laras memejamkan matanya dengan erat, tubuhnya menciut, dan tangannya secara refleks terangkat di depan wajah untuk melindungi diri. Ia gemetar hebat dalam posisi bertahan yang sangat menyayat hati. Arya membeku di posisinya. Tangannya menggantung di udara, hanya beberapa senti dari hijab Laras. Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan itu. Detak jantung Arya seolah berhenti. Ia melihat pemandangan di depannya sebagai sebuah cermin yang sangat jujur. Laras bukan hanya menghormatinya, tapi Laras sangat takut padanya. Trauma itu begitu nyata, hingga sebuah gerakan tangan yang lembut pun dianggap sebagai ancaman pukulan yang mematikan. "Laras ...." Suara Arya bergetar hebat. "Aku ... aku tidak ingin memukulmu." Laras perlahan membuka matanya. Napasnya masih pendek dan tidak beraturan. Ia menyadari reaksinya yang berlebihan dan segera menurunkan tangannya, menunduk dalam-dalam. "Maaf, Mas. Maaf ... aku ... refleks." Arya perlahan menurunkan tangannya. Ia merasa seperti baru saja ditampar oleh kenyataan yang lebih keras dari tangannya sendiri. Rasa mual karena membenci dirinya sendiri muncul lagi. Ia menyadari bahwa memaafkan diri sendiri tidak semudah meminta maaf kepada orang lain. "Aku hanya ingin membenarkan hijabmu," bisik Arya, suaranya serak menahan sesak di d**a. "Terima kasih, Mas," jawab Laras singkat, tapi ia tidak berani menatap mata Arya. Ia segera merapikan sendiri hijabnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN