Sebuah Pengakuan

1005 Kata

Malam-malam setelah kegagalan donor itu menjadi siksaan tersendiri bagi Arya. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat dua wajah, wajah Clara yang pucat di ICU dan wajah Laras yang tertutup kain biru muda. Ia merasa seperti ditarik oleh dua dunia yang berbeda, masa lalu yang sekarat dan masa kini yang mulai memberinya napas. Keheningan di meja makan pagi itu terasa lebih berat. Arya memperhatikan Laras yang sedang sibuk menyiapkan bekal untuknya ke kantor. "Laras, kau tidak perlu melakukan ini setiap hari," ujar Arya, suaranya parau karena kurang tidur. "Aku bisa makan di kantin kantor atau memesan sesuatu." Laras tetap fokus menutup wadah bekal itu dengan rapi. "Makanan di luar belum tentu cocok dengan pencernaanmu, Mas. Apalagi Mas belum lama berhenti minum alkohol. Tubuhmu butuh nu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN