“Pak Agam … kita akan pergi ke mana?” Aiyana menyadari jika mobil yang Agam sedang kendarai saat ini tidak menuju ke tempat tinggal Aiyana, melainkan menuju ke jalan yang lain. Aiyana terlihat bingung menantikan jawaban dari Agam yang tengah fokus dalam menyetir. “Kamu akan tahu nanti.” Agam menjawab singkat, ia sempat menoleh untuk sepersekian detik lalu tersenyum ke arah Aiyana. Seharusnya Aiyana merasa was-was dengan senyuman dari seorang pria seperti Agam ketika saat ini mereka dalam perjalanan menuju ke tempat yang tak diketahui oleh Aiyana. Anehnya, Aiyana tidak merasakan kecurigaan apapun, ia percaya begitu saja pada Agam. Karena Agam mengetahui sesuatu yang tak orang lain ketahui, karena Aiyana telah membagi sesuatu yang tak ia bagi kepada orang lain sekalipun. Di sisi lain

