05.

1019 Kata
"Jadi, dijodohin?" tanya Michelle ketika Mika baru saja berujar kemudian mendengus kasar. Matanya yang bulat agak melebar mendengar ide konyol om Hendra. Ia jadi ragu, Mika memang betulan akan melakukan apapun demi batalnya perjodohan itu. Mika bukan seorang yang gampang menyerah apalagi jika dirinya sudah dipojokkan. "You want it?" tanya Michelle sekali lagi. Siapa tahu kali ini anggapannya salah. "Ogah lah!" Mika menjawab lagi-lagi dengan hela napas berat. "Gue nggak akan pernah nerima perjodohan apapun. Bahkan jika normal, gue nggak akan nikah seumur hidup," Mata Mika menerawang pada jendela rumah Michelle. Memandangi kota yang hidup pada minggu ini. Menatap kendaraan yang terlihat begitu kecil dari atas. "I'm young and rich," Mika menyeletuk dengan nada tegas yang pasti. "Nggak akan pernah butuh sosok laki-laki manapun. Gue bahkan bisa melakukan apapun sendiri selagi bisa berusaha," Tiba-tiba saja Michelle merasa agak ngeri. Semua yang Mika ucapkan bukan hanya omong kosong belaka. Mungkin, jika gadis itu bisa menghindar dari perjodohan--bisa dipastikan ia akan melajang seumur hidup. Jadi, kali ini Michelle memutuskan ada di garis netral. Tidak memihak Mika maupun om Hendra. Sebenarnya agak setuju dengan om Hendra yang menyiapkan jodoh untuk Mika nikahi. Seperti yang ia pikirkan beberapa menit yang lalu, Mika bisa saja melajang seumur hidup. Untuk seorang Nathalie Michelle. Imposible. Dirinya harus hidup dengan seseorang. Cukup lama waktu untuk Mika mendekam di rumah Michelle. Sampai pada akhirnya gadis itu terkekeh sekali lagi dengan nada frustrasi. Ia tidak bisa membiarkan pikirannya makin menjadi-jadi. Atau, mungkin Michelle betulan melihatnya gantung diri di tempat ini. Gadis bersurai panjang itu menghela napas. Pada akhirnya kembali mengenakan casual slipper mahal miliknya. Mengarahkan dagu ke pintu unit yang tertutup rapat. Hanya untuk membuat Michelle memutar bola matanya lelah. "I must pray for peace of mind," katanya dengan wajah datar yang menyebalkan. "Di sini--" Mika menunjuk kepalanya . "--Ruwet," Mika berkali-kali ingin menubrukkan kepala pada tembok. Berisik yang terus memenuhi kepalanya seperti enggan pergi untuk membuat Mika lebih tenang. Justru, mereka makin berisik tak karuan. Gadis dengan dress navy itu menggeram frustrasi sekali lagi. Menatap parkiran basement sebelum masuk ke dalam mobil milik Michelle. Ia duduk di kursi penumpang bersama si pemilik mobil. Membiarkan sopir Michelle melakukan tugasnya. "Ka," Michelle bergumam lirih ketika mobilnya mulai keluar dari parkiran basement. "Beneran lo mau tinggal di gereja? Jadi kekasih tuhan?" "Who's says?" Mika menoleh garang hanya untuk membuat Michelle tertawa geli di sisinya. Napasnya tiba-tiba jadi memburu dengan jantung berdegup kencang. Apa mungkin tuhan menginginkannya? Tapi, Mika jelas belum bisa jadi kekasih tuhan. Mika belum bisa meninggalkan semua yang ia miliki untuk teguh dan tak memikirkannya. Justru, yang Mika pikirkan tiap hari adalah bagaimana pencapaiannya berhasil. Tentang uang, dan apapun yang bisa membuatnya lepas dari papa. Jadi, adalah ide gila jika dirinya menjadi kekasih tuhan hanya untuk menghindari perjodohan yang papa ajukan. Mika percaya, setelah dirinya berjam-jam berdoa--nanti akan ada keajaiban yang menghampiri. Mika yakin nanti tuhan akan membuka jalan lebar untuknya menang. Papa tidak akan berkutik jika dirinya bisa membalikkan keadaan. Itu pasti. Pasti yang belum Mika temui untuk saat ini. Pasti yang harusnya membuat Mika berusaha lebih baik lagi. Siang itu, Michelle betulan ditarik Mika untuk berdoa. Meski harusnya pagi tadi mereka beribadah rutin. Tapi mungkin kali ini juga tak ada salahnya. Kepala Mika bisa jadi meledak kapan saja. Tidak pernah sekalipun dirinya melihat gadis itu semenyedihkan ini. Keduanya berakhir mengatupkan kedua tangan merapal doa pada roh kudus. Mika menutup kedua matanya dengan bibir bergerak-gerak memohon. Agar dirinya diampuni, juga doa-doanya dikabulkan. Mika tidak pernah berdoa seniat ini sebelumnya. Doanya yang selalu berputar pada kebahagiaan--kini ia tambah dengan harapan agar Papa berubah pikiran. Atau, dirinya bisa mencegah pernikahan itu. Apapun caranya, Mika akan meminta dengan sangat. Meski, agak tidak tahu diri juga sih. Michelle yang tengah sama berdoa diam-diam melirik pada Mika. Melihat sendiri bagaimana gadis berambut panjang itu fokus menutup mata dengan bibir enggan berhenti berdoa. Membuatnya mendesah pelan karena semakin paham. Gadis berponi tipis itu membiarkan Mika tetap berdoa. Meski dirinya sudah selesai sejak beberapa detik yang lalu. Mika pasti berharap banyak kali ini. "Berdoa yang kenceng, gue di depan," Michelle menepuk sekilas pundak Mika. Membuat gadis itu langsung menoleh dan mengangguk. *** Mika berjalan gontai dari dalam gereja. Mendudukkan diri pada kursi panjang di pelataran. Sementara kakinya yang nyeri kini makin terasa menyakitkan. Ia menerawang pada langit yang siang ini tidak secerah biasanya. Pikirannya masih berjalan seputar doa yang teramat ingin dikabulkan. Gadis itu kemudian melepas slipper miliknya. Sedikit memijat kaki yang terasa ngilu, lalu memperhatikan bagaimana perban yang melilit kaki agaknya sedikit merah karena rembesan darah. Apa kesialan Mika harus hadir bersamaan begini? Apa tidak ada hari lain agar Mika bisa memikirkan satu per satu? Kepalanya betulan akan meledak sebentar lagi. Michelle belum menampakkan diri. Setelah mengatakan bahwa ia tiba-tiba harus membeli sesuatu, gadis berponi rata itu pergi. Dan sampai saat ini belum kembali. Apa Mika tidak bisa pulang sendiri? Bisa. Ia selalu bisa pulang sendiri. Tapi, entah kenapa hari ini semua rasa mandiri Mika perlahan hilang tak bersisa. Seolah-olah ia hanya ingin dilayani tanpa melakukan banyak hal yang membuatnya makin merasa lelah. Gadis itu menoleh, hanya untuk menemukan seorang pria dengan jas hitam keluar dari mobil--yang semalam ia tumpangi. Laki-laki berbahu lebar yang kini mulai melangkah pada pelataran gereja. Mika tidak ingin bertemu lagi dengan Jevano. Apalagi di tempat seperti ini. Gadis itu kemudian berdiri, bermaksud untuk menghindar dari pria itu segera. Jevano harus mengabaikannya. Tapi mungkin, doa-doa Mika belum dikabulkan secepat itu. Buktinya, kini suara berat milik Jevano menginterupsi Mika untuk berhenti. Gadis itu lantas menoleh, matanya agak melebar ketika tahu bahwa Jevano bukan memanggilnya. Tetapi seorang gadis berambut panjang yang ada di dekatnya. Baru saja keluar dari mobil yang sama. Diam-diam Mika agak mencelos. Merasa malu sendiri karena bukan dirinya yang Jevano tuju. Tapi gadis lain yang ia tahu-- tidak seharusnya ada di tempat ini. Seseorang yang bersama Jevano itu sudah lama tidak Mika temui. Gadis itu adalah sosok yang membuat Mika merasa agak sungkan. Orang yang sama--yang waktu itu menjadi bahan omongan pengurus himpunan. Karena melanggar aturan Mikayla Cyrene. Oh. Ternyata mereka masih berhubungan hingga saat ini. Hingga saat tatapan Mika dibalas tepat oleh Jevano Hadinata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN