Arunika pagi ini cukup membuat mata Mika mengernyit. Tapi hanya itu, karena selanjutnya Mika kembali bergelung dalam selimut tebalnya.
Berbagai macam teriakan serta kata-kata terus berseliweran dan bergumul dalam alam bawah sadar Mika. Membuat gadis itu jelas bergoler kanan kiri. Bermaksud untuk menghalau semua yang ada di pikirannya. Salah satu alasan kenapa Mika ingin amnesia. Sebenarnya, Mika ingin apa dengan amnesia di hidupnya.
Sebuah bayangan menghampiri. Yang semakin lama mendekat, semakin terlihat itu adalah Jevano. Tersenyum miring pada Mika. Kemudian dengan senyumnya itu Jevano menarik Mika, mencumbunya dan tak lama mendorong tubuhnya dari tepi jurang. Tenggelam di sungai yang tenang dan dalam.
Lagi-lagi gadis itu bergeser seraya mengeratkan selimut. Dan begitu saja, mimpinya bisa beralih. Meski dalam mimpi itu, Mika rasa dirinya sudah mati. Dan dalam dunia nyata, Mika tidak mau mati terlalu cepat. Sebab, belum ada satupun yang ia siapkan untuk itu.
Dalam sebuah pagi yang dingin sekaligus hangat itu Mika ingin amnesia untuk beberapa waktu. Setidaknya, apabila ia amnesia, itu adalah suatu keberkahan dari tuhan. Karena, Mika tidak perlu mengingat apapun untuk kehidupannya yang terlampau membosankan. Dia muak. Sudah berapa kali gadis itu merasa demikian.
Mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya. Tiba-tiba Mika diserang deja vu yang cukup membuat mata yang semula tertutup rapat dengan malas kini membelalak mengintai sekitar. Dinding berwarna putih gading dengan gorden abu-abu itu jelas membuatnya tambah melongo.
Untuk satu hal gadis itu menghela napas lega. Tapi lagi-lagi putaran kegiatan semalam menghantuinya. Merangsak masuk pada otaknya untuk segera diproses. Agar Mika tahu, apakah tadi malam itu betulan atau hanya sebuah halusinasi semata.
Ia meneguk ludah. Memeriksa piyama abu-abunya yang masih melekat tanpa ada satu inci pun yang berubah. Mika mendesah lega. Tapi sekelebat bayang mengenai Jevano yang tersenyum miring justru membuatnya mengumpat pagi-pagi. Tidak bisakah ia lihat wajah menyebalkan Ray saja alih-alih bayangan wajah Jevano dengan senyum bulan sabitnya?
Apalagi mengingat bagaimana mimpinya tadi. Itu jelas tidak mungkin. Tapi, Mika harus tetap waspada pada laki-laki itu. Bisa saja, sebuah balasan Jevano atas apa yang dirinya lakukan pada hubungan laki-laki itu dengan Almira akan ia rasakan sebentar lagi.
Mika menyapu permukaan kasur dengan tangannya. Mencari dimana benda pipih berwarna hitam miliknya. Yang sampai gadis itu terpaksa membuka selimutnya belum juga mendapatkan hasil.
Pada akhirnya, Mika dibuat mendengus dan mengetuk kepalanya dengan sewot. Apakah tidak bisa untuk hal yang satu itu, Mika tidak amnesia?
Mika menutup tubuhnya lagi hingga ujung kepala. Berdecak dan mengutuk dirinya yang meninggalkan handphone tepat di atas nakas kamarnya. Di rumah Papa.
Dengan gaun tidur juga tanpa alas kaki. Mika bisa dikatakan gembel yang berkelas. Melihat bagaimana apartemen gadis itu yang hanya disinggahi sesekali masih terlihat terawat dengan isi kulkas lumayan penuh makanan kalengan. Jangan lupakan air putih yang lebih mendominasi.
Menghampiri mesin pembuat kopi, Mika menunggu sembari duduk melamun di pantry. Dalam keterdiamannya, Mika kembali mengingat Jevano. Entah sudah yang ke berapa kali Mika dibuat heran dengan tingkah Jevano.
Tahu kawasan apartemen, unit, bahkan bagaimana cara laki-laki itu membawanya sampai ke kamar padahal Mika jelas sudah tidur semalam. Kedua tangannya sibuk mengikat rambut panjangnya. Sementara Mika berusaha keras mengingat apapun tentang malam tadi.
Kali ini Mika menginginkan sebaliknya. Ia tak ingin amnesia untuk mengingat apapun detail tentang dirinya dan Jevano pagi ini.
Agak ngeri tentang bagaimana Jevano memperlakukannya ketika tidak sadarkan diri. Tapi di satu sisi ia percaya saja, bahwa Jevano tidak akan macam-macam padanya.
Pertanyaan yang masih jadi tanda tanya besar untuk Mika adalah bagaimana Jevano masuk sementara dirinya tidur. Tidak mungkin sekali laki-laki itu juga sampai bisa menemukan kode kunci apartemennya. Atau mendobrak pintu seperti Thor.
Semakin dipikir Mika merasa semakin gila. Semakin ingin menghilang dari kehidupan yang kini harus bertemu Jevano. Mika hanya memohon pada tuhan bahwa ia ingin dini hari tadi adalah kali terakhirnya bertemu Jevano.
"s**t!"
Mika kembali mengumpat. Ingat tuhan, gadis itu melupakan ibadah pagi di minggu ini. Benar-benar umat yang tidak taat.
Maka dengan berlari kecil dan terpincang, Mika meraih handuk yang ada di lemari dan kembali berlari untuk membersihkan diri. Setidaknya, Mika tak akan jadi gembel untuk hari minggu ini. Pasti tuhan akan mengabulkan doanya untuk tidak bertemu Jevano selamanya.
Hanya butuh beberapa menit saat Mika membersihkan tubuhnya. Berdiri di depan lemari besar, Mika mengintai setiap baju yang ia tinggal dengan sengaja di apartemen. Tak ada satupun baju yang ia sukai untuk dipakai hari ini.
Terpaksa. Gadis itu meraih dress navy. Dipadukan dengan casual slipper putih. Agak jomplang sebenarnya.
Sekarang Mika siap untuk mendobrak pintu apartemen milik Michelle yang berada tepat di depan unitnya. Dengan wajah garang itu Mika menekan bel tidak sabar.
Apalagi ketika gadis itu memunculkan diri dengan cengiran lebar, Mika hanya bisa mendengus saja. Masuk tanpa permisi yang jelas membuat Michelle si sahabat mengekor.
"Semalem siapa?" tanya gadis itu tiba-tiba. "Pacar baru?"
Mika berdecak. Menyilang kaki menatap televisi besar di depannya. Kemudian dengan sorot tajam gadis itu seperti menghunuskan pedang tepat pada mata bulat Michelle.
"Adik tingkat pas kuliah," Mika menemukan senyuman lebar Michelle yang terlihat semakin membuatnya kesal.
"Siapa yang bukain pintu tadi malem," Michelle diam. Mengalihkan wajah berusaha untuk tidak bertubrukan dengan sorot tajam sahabatnya. "Ck."
"Ya lo tadi malem pingsan kan? Di apain lo?" tuduh gadis berwajah bulat itu. "Macem-macem kan?"
Mika berdecak lagi. "Beneran lo enggak di kasih obat tidur atau apa kan Ka? Lo enggak sadar, mana pake piyama lagi. Udah kayak mau di unbox--"
"Shut up!" Michelle kembali mengatupkan bibir mendengar sentakan Mika.
Padahal dalam benaknya, sejak dini hari tadi gadis itu terus membuat argumen mengenai Mika juga laki-laki bermata sipit yang ia bantu untuk masuk ke dalam apartemen sahabatnya. Lagi pula, laki-laki itu terlihat lebih menawan dan cocok saja dengan wajah garang Mika.
"Gue kabur," kalimat singkat yang membuat Michelle tergelak dengan nada menyebalkan. "Gak sengaja ketemu cowok itu di jalan. Terus ketiduran,"
"Bukan tidur berdua?" Michelle kembali tergelak. Sudah tidak peduli lagi pada hidupnya yang mungkin akan segera berakhir begitu Mika mendorong tubuhnya dari atas sini.
"Bego, bisa-bisanya lo kayak gembel begitu terus ketemu cowok ganteng," kata si pemilik rumah dengan heran. "Udah tidur digendong. Terus itu cowok nyuruh gue bukain pintu. Hey, gue bukan babu,"
"Whatever. Gue gak peduli. Bantu gue buat amnesia,"
"What?! Are you crazy?" Mika hanya mengangguk.
"Gue gak pernah bercanda. Lo tahu itu. Atau mungkin apartemen di depan lo jadi saksi gimana seorang gadis mati karena tekanan Papanya,"
Dan setelah berkata demikian. Michelle mendekap tubuh Mika. Menepuk punggungnya beberapa kali sampai Mika memilih membalas rengkuhannya. Hidup Mika dan Michelle sama saja. Tumbuh dan bersaing dengan saham milik orang tua mereka.
Kali ini, Mika benar-benar bersandar pada sahabatnya. Menanyakan apakah dirinya harus tetap hidup demi kelangsungan perusahaan milik Papa dan berakhir menikah dengan orang pilihannya. Atau pergi benar-benar menghilang. Lagi.