"Loh? Lo ngapain di sini, Kal?" Andre menepuk bahu Kaliya yang tengah sibuk memandang sekeliling.
"Eh, Ndre. Nggak... gue lagi lihat-lihat aja. Lo sendiri nggak gabung dengerin penjelasan Pak Ilham sama Bu Riska?" Kaliya menatap Andre yang tengah memegang setumpuk kertas.
"Nggak. Gue udah tahu instruksinya. Ini gue mau naruh kertas-kertas pemberian Pak Ilham di bus. Lo temenin gue, yuk!" Tanpa persetujuan Kaliya, Andre menggandeng tangan Kaliya.
Setelah menaruh tumpukan kertas yang tadi dia bawa, Andre menyeret Kaliya memasuki Keraton. Berdua saja karena ternyata Teraza dan rombongan lainnya sudah tidak ada dan masuk ke dalam Keraton.
"Ini namanya Keraton kesepuhan, Kal. Keraton tertua yang ada di Cirebon," Andre menjelaskan pada Kaliya yang terus menatap takjub bangunan-bangunan yang ada di area Keraton.
"Bagus ya, ndre. Tapi seperti agak kurang bersih. Sayang banget." Kaliya tidak melepaskan pandangan pada taman yang terdapat patung macan putih. Menurut Andre, macan putih itu merupakan simbol dari keagungan Prabu Siliwangi. Kaliya hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Iya, Kal. Nanti lo bakalan lihat yang lebih menarik lagi di dalam."
Kaliya menikmati setiap penjelasan dari Andre. Dia mengikuti langkah Andre menuju sebuah bangunan bertuliskan Museum Singa Barong.
"Ternyata lo di sini, Kal. Kemana aja lo dari tadi? Bikin gue panik aja!" Tiba-tiba dari belakang Teraza menarik bahu Kaliya sambil terengah-engah.
"Gue nggak ke mana-mana kok. Cuma dari-" Belum selesai penjelasan Kaliya, Teraza menarik Kaliya ke dalam pelukannya. Tidak menghiraukan Andre yang terkejut melihat apa yang dia perbuat.
"Jangan bikin gue khawatir, Kal. Mami nitipin lo sama gue. Kalau lo kenapa-kenapa gimana?" Teraza merengkuh Kaliya sambil terus mengomel. Kaliya yang terkejut dengan perlakuan Teraza diam merasakan kehangatan pelukan Terqza yang tiba-tiba. Seketika dadanya berdegup kencang dalam pelukan Teraza yang masih terengah-engah dan terasa begitu erat.
"Apaan sih lo, Za?" Kaliya yang tidak tahan mendengar degup jantungnya sendiri melepaskan pelukan Teraza, membuat Teraza akhirnya sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Sorry, Kal." Teraza sangat gugup dan mengatur degup jantungnya yang tiba-tiba sangat keras menyadari kekonyolannya memerlukak Kaliya.
"Iya. Lo ngapain sih, Za?!" Andre yang sadar dari keterkejutannya mendorong Reraza menjauh dari Kaliya.
Tidak terima dengan perlakuan Andre, Teraza siap-siap ingin memukul Andre yang kemudian terhenti karena kedatangan Bu Riska.
"Di sini rupanya kalian. Andre Ibu ada perlu dengan kamu." Andre yang masih kesal akhirnya menjuh dari Kaliya dan Teraza.
"Kenapa sih lo, Za?" Kakiya kembali mengulang pertanyaannya setelah berhasil menyembunyikan wajahnya yang memanas akibat pelukan Teraza tadi. Teraza merasa bingung dengan apa yang dirasakan. Mungkin Kaliya tak akan pernah paham bagaimana khawatirnya Teraza. Meski sadar atau tidak bahwa Kaliya pasti bisa menjaga dirinya, tetap saja Teraza merasa bahwa Kaliya adalah cewek manja yang tak pernah pergi jauh dari Maminya.
"Cepat masuk ke bus. Kita akan langsung ke penginapan."
Teraza berlalu dari hadapan Kaliya. Wajah Kaliya langsung kuyu. Kaliya lalu menghela nafas panjang.
(*)
Seluruh anak klub sejarah disediakan penginapan. Satu kamar diisi oleh tiga orang siswa. Kaliya merasa terdesak saat harus sekamar dengan cewek-cewek genit yang membencinya. Itu semua karena perhatian Teraza terlalu berlebihan. Ini membuat Kaliya tak berhenti manyun. Perubahan mimik Kaliya tertangkap langsung oleh Teraza. Terlebih keadaan mereka memang sedang sama-sama lelah dan Kaliya ternyata masih kesal mengenai kejadian di Museum Singa Barong.
"Lo kenapa, Kal?"
"Gimana bisa coba gue sekamar sama Intan?"
"Loh? Emang kenapa? Jangan rewel deh," ucap Teraza sembari menggeret koper Kaliya yang sangat berat. Kaliya menatap Teraza dengan sengit.
"Maksud lo?"
"Iya terima aja kalau lo harus sekamar sama Intan."
"Ogah! Sampe nenek-nenek juga ogah! Amit-amit!"
Teraza menghela napas panjang. Kemudian, menarik lembut tangan Kaliya. Tak peduli dengan siulan teman-temannya. Seluruh temannya sudah masuk ke dalam kamar yang telah tersedia. Andre hanya memandang sinis saat Teraza menuntun Kaliya menuju taman. Lampu taman memang sudah benderang. Udara Cirebon yang sangat panas pun sudah berubah menjadi udara malam yang menggigit.
"Gue tahu... seharian ini kita sama-sama tertekan. Kondisi kita juga jadi nggak enak. I am sorry..."
Kaliya menghela napas panjang dan menyadarkan tubuhnya dengan rileks.
"Gue dari siang kepikiran Tiny dan Gensi. Gue juga nggak nyaman sama temen-temen cewek lo. Terlebih gue nggak paham apa yang dibicarakan Bu Riska sama Pak Ilham. Gue malah semakin tertekan sama sikap aneh lo. sorry juga."
"Gue booking kamar buat lo, ya. Biar lo nggak usah nginep bareng temen gue. Lo kan bisa nyaman sendirian."
"Good idea!" Kaliya tertawa lepas. Teraza mengacak rambut Kaliya kemudian bangkit. "Eh, mau ke mana, Za?"
"Lo tunggu di sini. Gue beresin soal kamar lo sama barang-barang lo dulu. Abis itu kita jalan-jalan. Nikmatin Cirebon di malam hari."
"Oke!" kini Kaliya benar-benar tersenyum puas.
(*)
Kaliya melihat Teraza memberikan dua lembar seratus ribuan kepada tukang becak yang mangkal di depan penginapan dengan syarat mengantar mereka berdua keliling Cirebon. Cirebon di malam hari memang tidak seindah Yogyakarta, Bandung, Jakarta, atau kota-kota lainnya. Namun, bangunan-bangunan tua yang seluruhnya hampir mirip memberi kesan tersendiri bagi Kaliya.
"Za, Kenapa semua bangunannya hampir mirip? Atau sebenarnya kita cuma muter-muter di satu titik aja?" ucap Anna sembari merapatkan sweater-nya. Teraza tertawa. Begitu juga dengan tukang becak yang sedang fokus mengayuh kendaraannya. Kaliya jadi tambah bingung.
"Ya nggak mungkin si Mamang ngajak kita muter di satu tempat aja. Mamangnya juga pusing," jawab Teraza. Kaliya kembali merapatkan sweater.
"Dingin?" tanya Teraza. Kaliya mengangguk.
"Lo kan belum mandi. Kenapa bisa dingin?"
"Yeee, yang penting gue tetap wangi. Nggak kayak lo!"
"Emang gue bau?" Teraza mencoba mencium badannya sendiri. Kaliya mengangkat bahunya.
"Mang, sebelum pulang, mampir di tempat nasi jamblang, ya."
"Nasi jamblang yang di mana?"
"Di mana aja. Yang penting tempatnya yang masih tradisional."
Kaliya menarik tangan Teraza.
"Nasi jamblang?"
"Dijamin lo suka!"
"Nasi apaan tuh?"
"Ya kita lihat aja nanti."