Cirebon Part II

863 Kata
Kaliya mendengus kesal kemudian membuang muka ke jalanan yang mulai lengang. Ke tokoh-tokoh yang mulai redup. Ke para penumpang angkot yang berebut untuk naik karena angkot di Cirebon hanya beroperasi hingga jam delapan malam saja. Kaliya mengeluarkan handphone-nya dan mengirimkan pesan singkat kepada Gensi Tiny dan Mami. Tak menunggu hitungan menit, handphone Kaliya langsung berdering lantang. "Iya, Mi..." "Sayaaang. Kamu gimana di sana? Perjalanannya seru? Menginap di mana? Sekarang lagi apa?" "Mami... nanyanya satu-satu." "Oh, maaf. Mami hanya terlalu bersemangat. Kamu belum memberikan kabar kepada Mami dari pagi." "Iya kan emang baru berangkatnya aja tadi pagi." "Oke, tadi gimana? Seru?" "Seru, Mi. Walaupun bete sama Teraza." "Loh? Dia ngapain kamu?" "Bohong, Tante. Kaliya bohong," teriak Teraza menimpali. Terdengar suara Mami tertawa dari seberang sana. Kaliya memukul bahu Adit dan menyuruhnya diam. "Beneran, Mami. Teraza tuh kayak orang kesurupan." "Ya sudah. Kalian sedang apa sekarang?" "Mau makan, Mi. Nasi gamblang." "What? Jamblang, dear..." Teraza terus tertawa dengan tertahan. Kaliya memukul Teraza lagi. "Ah... udah nyampe nih. Nanti Kaliya telepon balik. Bye-bye, Mami." "Oke, Sayang. Salam untuk Teraza." "Iya..." Kaliya mematikan handphone-nya. (*) Tenda sederhana di pinggir jalan dengan meja pendek yang berisi penuh oleh segala macam jenis makanan membuat Anna sedikit bingung. "Nih nasi lo." Teraza menyerahkan satu piring yang diatasnya terdapat nasi dengan bungkus daun jati. "Hah? Nasi doang?" "Ya lo pasti makan nasi, kan? Lauknya lo ambil sendiri." "Nyendok sendiri, Za?" "Iya..." Kaliya menerima piring sembari berpikir keras memikirkan lauk apa yang akan dia pilih. Akhirnya, setelah hampir lima menit terdiam, Teraza gemas melihat Kaliya. Dia memutuskan untuk menyendokkan lagi kesukaannya ke dalam piring Kaliya. Kaliya nyengir dan langsung menyantap makanannya. "Yang item ini apa, Za?" "Balakutak." "Ini apa?" "Paru." "Ini?" "Ikan tongkol." Kaliya tertawa lepas. Lidahnya memang kacau soal merasakan jenis makanan. Menurutnya, seluruh makanan itu enak dan sama. Kaliya menengok piring Teraza. "Lo makan apa dong?" "Perkedel sama tongkol." "Kenyang?" "Kaliya... mulut lo tuh penuh. Lo makan dulu aja. Gue lagi meresapi rasa makanannya nih." "Ih gaya lo kayak koki internasional yang lagi wisata kuliner,"ledek Kaliya. Teraza hanya menoyor Kaliya. Belum sampai lima menit, Kaliya kembali menengok kepada Teraza. "Istimewanya jamblang ini apa?" "Ya yang lo rasain apa, Kal?" "Enak..." "Lebih spesifik lagi dong. Semacam harum daun jatinya. Atau gurih balakutaknya." Kaliya sempurna melongo dan memilih melanjutkan makan sebelum kembali tidak mood karena mendengar penjelasan Teraza. "Za... nambah nasi." Teraza menatap Kaliya kesal karena cewek itu benar-benar mengganggu ritualnya menikmati rasa paru yang sedang dikunyah. Kaliya hanya nyengir sembari menyodorkan piring. (*) To: Alien Bangun... From: Alien Males... To: Alien Gue mau ke Kasepuhan lagi. Lo gimana? Mau ikut apa nunggu di hotel? From: Alien Gue nggak ikut. To: Alien Gue ke Kasepuhan sekarang. Lo jangan ke mana-mana. Jalan-jalannya nunggu gue. From: Alien Iya, Bawel. Kaliya kembali menggulung tubuhnya dalam selimut. Dia masih dingin menikmati kantuk. Tak berapa lama, Kaliya ingat bahwa Gensi dan Tiny belum membalas pesannya. Kaliya menggamit handphone dan menghubungi nomor Gensi. Tidak ada jawaban. Mungkin Gensi sedang menyetir mobil menuju sekolah, pikir Kliya. Dia memutuskan untuk kembali mengirim pesan. To:Gensi Hello... kenapa nggak bales SMS gue? Lo baik-baik aja, kan? Tiny gimana? Kaliya memilih untuk bangkit dan mandi. Dia sudah tak berselera untuk kembali tidur. Pikirannya melayang kepada Gensi dan Tiny. Dia takut mereka kenapa-kenapa. (*) To:Aneh Lapeeerrrr! From: Aneh Gue masih materi, Kal. Lo pesen di hotel aja. To: Aneh Gue mau keluar. Boring. From: Aneh Tunggu gue. To: Aneh Males gue nunggu lo. From: Aneh Gue takut lo kenapa-napa. Kaliya tak mengacuhkan SMS Teraza yang terakhir. Dia langsung melenggang keluar kamar hotel dan menuju meja resepsionis. "Mbak, kalau tempat yang seru tuh di mana, ya?" tanya Kaliya. Perempuan cantik yang berada di balik meja resepsionis itu mengerutkan dahi "Tempat wisata?" "Ya nggak harus tempat wisata. Yang penting seru." "Aduh. Kalau ditanya gitu bingung, ya," ucap resepsionis hotel itu sembari dipaksa untuk tersenyum. Dia sedikit sebal dengan pertanyaan aneh Kaliya. "Mbaknya orang mana? Kok nggak tahu tempat seru di Cirebon?" "Orang Majalengka," jawabnya singkat. "Duh. gue nggak tahu. Ya udah. Makasih ya, Mbak." Kaliya berlalu setelah tersenyum tulus kepada resepsionis tersebut. Di depan hotel, Kaliya melihat banyak sekali tukang becak. Dia mendekati salah satu tukang becak yang sudah terlihat agak tua. "Pak, keliling Cirebon, ya," ucap Kaliya dan langsung duduk di dalam becak itu. Tukang becak yang merasa sangat terkejut dengan permintaan Kaliya itu langsung semringah menaiki becak yang mulai mengayuhnya. "Ke mana dulu, wong ayu?" tanya tukang becak dari belakang. "Ke mana aja, Pak." "Mau ke Keraton?" "Keraton Kasepuhan? Nggak mau, Pak. Justru teman-teman saya di sana semua. Saya nggak mau ke sana." "Yawis. Gimana kalau ke pasar? Mau?" "Boleh. Kebetulan saya lapar, Pak." Kaliya tersenyum cerah. Kaliya menikmati perjalananya menggunakan becak. Dia mengamati betul kota Cirebon. Tak menyangka Kaliya bisa berada sejauh ini dari Mami. Selama ini, meski dia sangat jago membela diri, Mami tetap tidak memperbolehkannya berpergian jauh lain bersama Mami. Hatinya mendadak menjadi sendu. Semenyebalkan apapun Teraza setidaknya dia menjadi salah satu sosok yang berjasa dalam perubahan sikap Mami terhadapnya. "Sudah sampai, wong ayu." Kaliya tersandar akan lamunannya. Atmosfer Kota Cirebon membawanya menyelam lebih jauh keadaan hatinya. Tapi, hei? Kenapa harus Teraza? Kaliya menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Ini pasar apa, Pak?" "Pasar Kanoman, wong ayu. Bapak tunggu di sini. Diingat-ingat, ya." Kaliya tersenyum dan mengangguk. "Kalau gitu, saya lihat-lihat dulu ya, Pak. Atau Bapak mau ikut saya lihat-lihat?" Tukang becak itu hanya menggeleng. Kaliya langsung berlalu. Bergerak menjauh dari posisi tukang becak. Dia mulai menyusuri pasar itu inci demi inci. Kaliya terkikik geli mendengar bahasa mereka. Antah-berantah. Itulah yang dia rasakan. Tempat yang asing dan bahasa yang asing pula. Rasanya dia lebih familier jika berada di Singapura atau Thailand saat berlibur bersama Mami. Kaliya melihat Ibu yang duduk sembari menjaga dagangannya. Isinya adalah jajanan pasar. Beberapa dari jenis jajanan itu pernah dia makan. Tapi ada yang baru dia lihat juga. Kaliya tertarik untuk berhenti. "Ibu" sapa Kaliya dengan ramah. Penjualan dagangan pasar itu tersenyum membalas sapaan Kaliya. Tanpa basa-basi, Kaliya langsung mengambil posisi duduk di sampingnya. "Bu, yang bulet ada putih-putihnya apa, ya? Saya lupa." "Oh. Itu mochi, nak ayu..." "Saya mau, Bu." Kaliya nyengir. Penjual itu dengan senang hati mengambilkan satu bungkus mochi untuk Kaliya. Kaliya tersenyum menerimanya. "Oh ya. Saya Kaliya, Bu. Dari Jakarta." "Iya... wis weruh kayae dudu wong Cirebon." Kaliya tersenyum. "Saya nggak ngerti bahasa Cirebon, Bu. Bisa bahasa Indonesia? "Lah... ya bisa setitik mah. Tapi ya mengkenen. Kecampur-campur, wong ayu." Kaliya mengeluarkan i-phone dari dalam tas kecilnya. Mencoba untuk mengimbangi penjual jajanan pasar yang tidak terlalu lancar bahasa Indonesia. Kaliya langsung mendownload kamus bahasa Jawa lewat gadget canggihnya itu. Dia tersenyum puas saat tulisan 'download complete' di layar i-Phone. "Bu, kula bli saget ngarti bahasane," timpal Kaliya terbata dan polos. Hal tersebut sontak membuat penjual jajanan pasar tertawa lantang sambil geleng-geleng kepala. Kaliya ikut tertawa dan merasa paginya benar-benar menyenangkan. Thanks, Teraza, bisik hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN