"Kenapa sih gue telepon nggak lo angkat? Gue khawatir banget sama lo"
"Aduh, Bawel. Yang penting kan sekarang lo udah ada di hadapan gue dan gue nggak kenapa-kenapa."
Teraza duduk di tempat tidur Kaliya. Sedangkan Kaliya merebahkan tubuh sembari matanya terfokus pada layar televisi. Terdengar helaan nafas Teraza.
"Gue bersyukur lo nggak kenapa-kenapa," gumam Teraza.
Kriuk. Kriuk.
Kaliya sibuk mengunyah sesuatu sehingga tak terdengar gumaman Teraza. Merasa tak diacuhkan oleh Kaliya, Teraza langsung menengok kebelakang dan ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh si alien itu.
"Lo makan apa sih?"
"Rengginang. Gue beli di pasar. Enak, Za. Mau?"
"Sini gue coba."
Teraza mengambil satu rengginang dari bungkusnya.
"Enak, Kal."
Kaliya hanya tersenyum. Teraza ikut menonton televisi dan menikmati rengginang yang dibeli Kaliya di pasar. Setelah satu bungkus rengginang sudah habis, Teraza iseng bertanya kepada Kaliya.
"Kal.... enak banget. Renyah. Gurih. Dan rasa terasinya kentara banget. Bentuknya bulet juga. Unik banget. Lo nanya nggak sama yang jual?"
"Nanya apa?"
"Ini terbuatnya dari apa?"
"Hmmm... males gue. Tapi gue tahu bahan bakunya."
"Apa?" tanya Teraza penasaran.
"Beras ketan."
"Apa?" Wajah Teraza mendadak pias. Kaliya kaget. "Kenapa sih? Mau lagi? Tenang, gue beli banyak," ucapnya datar. Wajah Teraza semakin pias dan seperti menahan emosi.
"Gue nggak konsumsi beras, Kal."
"Loh, ini kan ketan."
"Tetap aja. Kalau diolah bakal jadi nasi ketan."
"Tapi bukan nasi putih yang lo jauhin itu."
"Sama aja, Kaliya!"
"Beda, Za."
Teraza langsung beringsut ke kamar mandi sembari menahan mual. Kaliya hanya geleng-geleng kepala dan tak habis pikir mengapa tiba-tiba Teraza mual padahal sebelumnya dia memuja habis-habisan rangginang yang dibelinya di Pasar Kanoman. Aneh.
"Za. Cepet muntahnya. Gue mau minta bantuan lo buat packing baju gue. Besok kan kita pulang," teriak Kaliya dengan menahan tawa.
(*)
"Kita mau ke mana, Za?"
"Kampung Batik atau ke pasar Trusmi. Ya kita jalan-jalan aja beli baju batik yang bagus buat oleh-oleh."
Kaliya tersenyum. Setelah seharian Teraza membuat Kaliya merasa berbuat dosa besar karena memberinya makanan yang terbuat dari beras ketan, akhirnya Teraza sudah membaik. Teraza mengajaknya jalan-jalan. Kaliya memegang tangan Teraza.
"Thanks you... semenyebalkan apa pun lo, lo yang udah bikin gue akhirnya dianggap besar sama Mami. Gue ada di sini. Kota yang ratusan kilometer jauhnya dari Mami. Baru kali ini. Sumpah."
Teraza merangkul Kaliya dan mengusap rambutnya.
"Nggak usah bilang makasih. Yuk, berangkat."
Saat melewati lobi hotel dan hendak masuk ke dalam mobil yang sengaja disewa Teraza, tiba-tiba Andre menghadang langkah mereka.
"Kal.... jalan-jalan sama gue, yuk? Mumpung masih di Cirebon."
Kaliya mendadak gugup. Dia bingung karena tidak enak hati untuk menolak Andre namun hati kecilnya ingin pergi dengan Teraza. Teraza memandang sinis Andre sembari menggamit jemari Kaliya. Kaliya menatap Andre.
"So... sorry, lo ngajaknya telat, Ndre. Gue udah mau pergi sama Teraza."
"Ya nggak apa-apa. Dia udah hafal kok kota Cirebon pergi sendiri juga nggak apa-apa." Bukan Andre jika sikap ngeyelnya tidak membuat emosi. Kaliya menghela napas panjang gerombolan anak klub sejarah mulai terlihat berjalan melewati lobi. Mereka juga sepertinya akan keluar untuk jalan-jalan. Teraza menarik tangan Kaliya agar segera masuk ke dalam mobil Karena dia sudah membukakan pintunya sedari tadi. Andre langsung melayangkan tonjokan kepada Teraza sehingga tubuh tegap cowok itu terhuyung. Kaliya yang sudah duduk di jok memekik menahan teriakan. Tirta dan teman-teman yang lain langsung mendekat.
"Ada apa nih?" Tirta membantu Teraza agar tidak terjatuh.
"Andre, please. Gue nggak bisa jalan sama lo. Nggak bisa jalan sama Teraza juga. Oke?" Kaliya terbata-bata mengucapkan kalimat utuh itu. Dia langsung turun dari mobil dan berjalan naik menuju kamarnya. Kelakuan dua cowok itu selalu membuatnya benar-benar kesal. Apa latihan taekwondo mereka hanya untuk memperlihatkan siapa yang paling kuat? Hanya untuk saling adu jotos? Kaliya terus menggerutu dalam hati sembari mengatur ritme napasnya. Anak-anak klub sejarah tidak ada yang bereaksi lebih. Mereka benar-benar hanya melihat adegan tersebut seolah seperti drama perkelahian yang merebutkan satu cewek cantik, Kaliya.
"Maksud lo apa sih, Ndre? Lo mau pamer di depan Kaliya? Sekarang lo lihat ulah lo. Kaliya kehilangan selera jalan-jalan. Puas lo?!" Teraza seperti siap balas menonjok Andre namun Tirta memegang kuat lengannya.
"Satpam hotel lihatin kita terus. Mending lo naik samperin Kaliya." ucap Tirta.
(*)
To: Alien
Buka pintunya...
From: Alien
Males.
To: Alien
Sorry... tapi tonjokan Andre lumayan nih. Gue mau periksa ke dokter bedah dulu ya. Takut nggak ganteng lagi.
Tak menunggu hingga satu menit, pintu terbuka. Tapi tatapan Kaliya seolah masih siaga satu. Dia mengawasi wajah Teraza yang memar. Matanya menyelidik.
"Jangan tatap gue seolah gue maling dong, Kal."
"Sorry, gue cuma mau mastiin lo beneran ganteng atau enggak. Ternyata enggak." Kaliya kembali menutup pintu. Teraza terkekeh oleh sikap cewek di balik pintu itu. Teraza langsung mengedor-gedor pintu kamar Kaliya.
"Kal... plis buka, Kal. Pliiisss..."
"Dasar dramatis. Nggak dikunci. Tinggal lo buka," sahut Kaliya membuat Teraza tertawa yang kedua kalinya. Lalu, ia menggelengkan kepala seolah takjub ada makhluk se aneh Kaliya.
(*)
"Seru nggak belajanya?" tanya Teraza saat asyik melihat Kaliya menyendokkan es krim ke mulutnya. Dia sengaja mengajak Kaliya mampir ke salah satu mal yang ada di Cirebon usai belanja. Kaliya mengangguk girang.
"Mami jangan diajak ke sana!"
"Why?"
"Pasti kalap tahu enggak. Toko batik berjajar. Dari mulai toko biasa sampe yang sangat besar. Ada pasarnya. Ada pengrajinnya langsung yang tinggal di tempat yang kebanyakan bangunan rumahnya kayak bangunan zaman penjajahan Belanda. Gila! Cool, Za. Cirebon keren."
Teraza tersenyum puas melihat cewek di depannya sangat bahagia.
"Za? Ll pasti keserupan!"
"Lo tuh seneng banget nuduh gue kesurupan, Kal."
"Abis senyum-senyum sendiri. Nraktir gue bikin lo bahagia, ya? Kalau gitu gue ikhlas ll mau nraktir gue seumur hidup lo."
Teraza tertawa lepas.
"Lo emang bikin gue bahagia, Kal."
Kata-kata Teraza membuat Kaliya terpaku. Kaliya berniat tersedak agar suasana antara dia dan Teraza semakin dramatis seperti di FTV yang sering ia tonton. Namun rencananya gagal karena justru otaknya penuh. Hanya ada perasaan nervous yang menguasai dirinya. Bahkan tangan Kaliya pun berhenti menyendokkan es krim ke mulutnya. Teraza menahan tawa.
"Sekarang lo yang kesurupan, Kal."
"Uhm... ke... kenapa?"
"Mulut lo kayak cumi kehabisan air. Nggak segitunya kali ngobrol sama orang ganteng."
Teraza tertawa bahkan Kaliya pun mencoba ikut tertawa. Gagal. Dia tak dapat menguasai debar jantungnya. Apa ini?