SENIN YANG begitu cerah, Kaliya kali ini bangun pagi yang terlalu pagi. Ia membuka matanya. Segar. Perjalanan waktu lalu ternyata membuatnya menjadi begitu baik. Segera ia mengambil handuk dan bergegas mandi. ia ingin cepat sampai di sekolah lalu bercerita banyak pada Tiny dan Gensi tentang petualangan serunya di tempat antah-berantah yang ternyata begitu menyenangkan. Gue kangen Gensi dan Tiny, batin Kaliya.
"Pagi, Mamiii." Kaliya mengagetkan Mami yang tengah berkutat dengan masakan di dapur.
"Haduuuh, Kaliya kamu mau bikin jatung Mami copot, ya? Tumben udah cantik pagi-pagi tanpa Mami harus teriakin. Biasanya kamu kalau tidur udah kayak kebo." Mami melanjutkan ceracaunya sambil menyendokkan nasi goreng ke atas piring dibantu oleh Bibi yang tersenyum-senyum melihat ulah kedua majikan yang begitu ia hormati dan sayangi.
"Ah, Mami. Eh, masak nasi goreng ya, Mi? Hmmm, yummy." Kaliyatidak menghiraukan Mami, mood-nya begitu baik. Jadi, ledekan Mami sama sekali tidak membuatnya terganggu. ia duduk manis siap menyantap nasi goreng teri buatan Mami yang tidak ada duanya.
"Pelan-pelan, Kal. Masih panas nasi gorengnya. Oh ya, kamu belum jawab pertanyaan Mami. kok tumben kamu udah rapi pagi-pagi gini?" Mami ikut duduk dan mulai memakan nasi goreng bagainnya.
"Ak-ku, mau ketemu Gensi dan Tiny, Mi. Kangen. Teraza juga katanya mau jemput sebentar lagi. Kasian kalau dia kelamaan nunggunya," Kaliya mengoceh sambil terus mengunyah makanannya yang kini sudah berlepotan ke mana-mana."
"Kaliya, kebiasaan ngomong sambil makan. Kamu itu cewek, Honey. makan nggak boleh begitu." Mami memulai ceramahnya atas kebiasaan buruk puteri semata wayangnya itu.
Tin! Tin!
Suara klakson mobil milik Teraza berbunyi nyaring. Kaliya yang mendengarnya langsung tergesa menghabiskan tegukan terakhir susunya dan mencium tangan Mami. Mereka pun berangkat diiringi Mami yang mengantar hingga depan pintu pagar.
(*)
Sampai di sekolah Kaliya berpisah di lorong dengan Teraza. Teraza yang ingin segera merapikan laporan study tour kemarin segera pergi setelah berpesan akan mentraktir Kaliya makan bareng di kantin IPS saat istirahat pelajaran. Kaliya yang hatinya terasa begitu baik berjalan menuju kelasnya dengan santai. Masih pagi dan sepi. Ia masuk ke kelas dengan semringah. Ia sangat tidak sabar bertemu Gensi dan Tiny. Ransel pinknya penuh sesak. Di sana terdapat banyak oleh-oleh untuk kedua sahabatnya itu.
Bel pertanda upacara sebentar lagi akan dimulai sudah menjerit lantang. Kaliya berniat berbaris bersama Gensi dan Tiny. Namun, dia tak menemukan sosok mereka. Hatinya sangat tidak tenang selama upacara berlangsung. Hingga saat pembubaran upacara, kakinya masih berat untuk melangkah.
Bel masuk telah berbunyi. Hampir seluruh siswa sudah masuk ke kelasnya masing-masing. Namun sampai Pak Bambang masuk kelas dan siap memulai pelajaran, Kaliya tidak juga melihat kedua sahabatnya itu muncul batang hidungnya. Ia jadi gusar, tapi mencoba mengusirnya dan mulai fokus dengan pelajaran yang diberikan Pak Bambang. Kemana mereka berdua? Apa sakit? Masa kompakan? Kaliya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan frustasi. Ke mana mereka?
(*)
Kelas IPS IV, yang tadinya tenang dan hanya terdengar suara Bu Riska yang tengah menjelaskan kembali tentang sejarah kota Cirebon serta aktivitas perjalanan mereka kemarin, tiba-tiba hiruk pikuk. Penyebab Itu semua adalah kehadiran Pak Togar, Pak Krisna sang kepala sekolah, dan beberapa guru lain yang mereka kenal sebagai Guru bimbingan konseling.
"Bu Riska, maaf menganggu sebentar. Kami akan mengadakan razia mendadak." Pak Togar berbicara dengan logat bataknya yang kental yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Bu Riska tanda mempersilakan.
"Baik, Anak-anak. Bapak ingin kalian semua menaruh tas kalian di atas meja. Tinggalkan semua barang kalian di atas meja dan kalian maju kedepan." Pak Krisna memberikan instruksi yang diikuti oleh anak yang berdiri sambil kasak-kusuk bingung. Teraza menatap Tirta yang mengangkat bahu. sama tidak mengertinya.
Pak Krisna, Pak Togar, dan guru-guru itu segera memeriksa seluruh tas. Kolong meja juga tak luput dari pemeriksaan. Teraza menatap tajam semua tindakan itu. Ada apa, batinnya. Tumben sekali ada razia mendadak begini. Meski sekolahnya sangat disiplin, namun biasanya razia dadakan diadakan ketika menjelang ujian.
Pak Togar berhenti di meja Teraza. Ia mengeluarkan sesuatu dari tas Teraza. Sebuah bungkusan hitam yang langsung dikerubungi oleh para guru lain. Teraza semakin menatap guru-guru itu mengerumuni mejanya.
"Milik siapa ini?!" Pak Krisna yang biasanya terlihat begitu lembut bertanya dengan suara yang sangat marah. Matanya memarah menandakan ia begitu murka.
Semua mata menatap Teraza. Teraza akhirnya sadar diperhatikann seluruh kelas. Ia menunjuk tangannya sambil kebingungan. Ada rasa ngeri yang tidak ia mengerti. Teraza lalu menatap wajah Pak Krisna yang begitu marah.
"TERAZA HUTAMA PUTRA IKUT SAYA KE KANTOR!" tegas Pak Krisna lantang lalu berjalan keluar diikuti semua guru Teraza yang kebingungan. Sekilas ia menatap sekeliling yang kini menatapnya. Ia melihat tatapan Bu Riska terlihat sedih dan kecewa.
(*)
Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa dalam kelas IX IPA II bernapas lega. Akhirnya penjelasan panjang Pak Bambang tentang Geometri berakhir juga. Mereka menghambur keluar mencari udara kebebasan. Kaliya ikut keluar sambil terus menggenggam handphone-nya. Berulang kali ia menghubungi Gensi dan Tiny. Tapi nihil. Handphone mereka tidak ada yang aktif.
Kaliya yang masih bingung berjalan menuju wilayah IPS. Ia ingat janjinya dengan Teraza untuk makan di kantin IPS. Mungkin Teraza bisa membantunya menemukan Gensi dan Tiny.
"Kal, lo ngapain di sini?" Tiba-tiba bahu Kaliya ditepuk seseorang.
"Eh lo, Ndre! Bikin kaget aja. Gue mau ketemu Teraza. Dia mana, ya? Udah mau masuk nih padahal." Kaliya gusar. Ia bertanya sambil terus melihat ke sekelilingnya.
"Ngapain sih lo cari tuh anak?" Andre terlihat sangat tidak suka
"Gue kan udah bilang tadi janjian sama dia. Lo ketemu dia nggak, Ndre.?" Kaliya terus bertanya tanpa memperhatikan wajah Andre yang sudah merah padam menahan kesal.
"Nggak tahu. Dibawa ke kantor kepala sekolah, kayaknya. Mampus deh tuh anak,"gumam Andre kelepasan.
"Hah? Kantor kepala sekolah? Kenapa? Thanks ya, Ndre." Kaliya kaget dan segera menuju kantor kepala sekolah. Meninggalkan Andre yang kini menendang tong sampah untuk melampiaskan kekesalannya. Kali ini gue nggak bakalan lepasin Kaliya buat lo, Za! rutuknya dalam hati.
(*)
Kaliya memelankan langkah. Ia mulai mengendap-endap berusaha melihat apa yang terjadi di dalam. Ada empat orang yang ia sangat yakin itu adalah Pak Togar, Pak Krisna dan Teraza.
Tengah asyik memperhatikan, handphone Kaliya yang diset silence bergetar pelan di sakunya. Nomor telepon siapa ini? Pikir Kaliya lalu mengangkatnya sambil terus memperhatikan ke dalam ruangan kepala sekolah.
Hallo, ini Kaliya?"
"Iya, Ini Kaliya. Ini siapa? Ada apa?" Kaliya bertanya sambil terus menajamkan penglihatan dan pendengarannya ingin tahu apa yang dibicarakan di dalam.
"Ini Reno, Kal. kakaknya Tiny..."
"Eh, Kak Reno. Nomor baru? Aduuuh Tiny ke mana, Kak?Kok nggak masuk hari ini? Handphone-nya juga nggak bisa dihubungi dari tadi. Dia sama Gensi ya, Kak? Ke mana sih mereka berdua? Nggak masuk kok kompakan. Padahal kan aku kangen dan udah bawain banyak oleh-oleh untuk mereka berdua." Kaliya mencerocos panjang memotong ucapan Kak Reno. Ia tidak begitu mendengar kalau Kak Reno menghela napas berat.
"Tiny, Kal. Tin~"
Tut tut tut...
Telepon terputus belum tuntas ia mendengar ucapan Kak Reno handphone-nya ternyata mati. Ah, baterainya habis. Kaliya memasukkan kembali handphone itu ke saku. Ia tidak terlalu memperhatikan ucapan-ucapan Kak Reno tadi. Kaliya terlalu khawatir dan penasaran dengan apa yang sedang terjadi dengan Teraza.