Apa Yang Terjadi?

927 Kata
"Teraza, apa benar itu punya kamu?" Pak Krisna kembali bertanya pertanyaan yang sama kepada Teraza. "Bukan, Pak... sungguh. Itu bukan milik saya. Saya sama sekali tidak tahu itu milik siapa, Pak." Teraza merasa sangat putus asa. Penjelasan dan jawabannya terasa sia-sia untuk kedua pemimpin sekolahnya itu. Kepalanya sakit. Ia sama sekali tidak tahu kenapa barang haram itu bisa ada di dalam tasnya. "Tapi, jelas-jelas ini ada di tas kamu! Butuh bukti apa lagi?" Pak Krisna juga tampak sama frustasinya. Bagaimana bisa murid kebanggaannya yang selalu berprestasi terutama dalam bidang olahraga dan bela diri bisa ditemukan memiliki barang haram yang seharusnya tidak digunakan. "Saya tidak tahu, Pak." Teraza semakin menundukkan kepala mimpi apa iya semalam Bukankah semalam ia mimpi indah mengulang tentang perjalanannya dengan Kaliya.. Ah, mikir apa aku di tengah kondisi seperti ini. Oh iya, aku punya janji dengan Kaliya! Teraza menggaruk kepalanya frustasi. "Pak Krisna, Apa tidak sebaiknya kita selidiki lagi milik siapa barang terlarang ini?" sela Pak Togar yang paham betul sifat Teraza. Teraza merasakan ada sedikit angin segar dalam masalahnya kali ini. Pak Krisna menatap Pak Togar dengan garang. "Apa lagi yang harus diselidiki? Orangtua kamu harus tahu tentang ini, Teraza." "Tapi, Pak..." Teraza bergetar.Selama ini, tidak pernah ada satu urusan sekolah pun yang ditangani oleh Papa. Dia mengurusnya sendirian. Bahkan Papa hanya satu kali menginjakkan kaki di sekolah. Yaitu, saat pertama kali mengantar Teraza daftar sekolah. Papanya tidak setuju dia bersekolah di sini. Teraza mulai menggigil. Siapa yang tega meletakkan barang haram itu di tasnya? Andre? Rasanya dia tidak memiliki cukup nyali untuk melakukan hal sekeji ini. Teraza meremas ujung bajunya. Dia berpikir keras sekaligus galisah minta ampun. Dia tidak tahu bahkan ada yang lebih gelisah darinya. Seseorang yang Mengintip dan menguping pembicaraan di dalam ruang Kepala Sekolah tersebut. Kaliya. (*) Kaliya menyandarkan tubuh di tembok samping gerbang sekolah. Dia menunggu Teraza. Ingin penjelasan dari mulut Teraza langsung. Tidak hanya dari selentingan anak-anak satu sekolah atau bahkan dari sahabat Teraza sekalipun, Tirta. Tak lama kemudian, suara khas motor Teraza seperti mendekati gerbang. Kaliya mendongakkan kepala. Tubuhnya benar-benar lemas. Selain karena tak adanya Gensi dan Tiny, kasus Teraza pagi ini membuat suasana hatinya yang cerah menjadi berkabut. Kacau-balau. "Kal..." Teraza berhenti tepat di depan Kaliya. "Hmmm?" Kaliya menjadi kelu. Rasanya, baru kali ini dia ingin menangis karena cemas dengan Teraza. "Longgak masuk kelas lagi?" "Gue sengaja nunggu lo." Teraza menghela napas berat. " Ikut gue. Kita ke Foodcourt.. Gue sumpek banget." Kaliya hanya mengangguk dan naik ke atas motor Reraza. Kali ini dia kembali bolos. Ya, bolos. Bahkan demi seseorang yang entah ada di hatinya atau tidak. Tubuhnya benar-benar lemas. (*) "Kal... lo percaya sama gue?" ucap Teraza pelan. Kaliya hanya diam. "Sumpah, Kal. Ada yang fitnah gue. Gue nggak pernah make barang terlarang itu. Drugs? No. Lo tahu sendiri kalau gue itu gimana. Please... Percaya sama gue." "Jadi gimana?" "Kasus gue ditangguhkan. Sampai bener-bener ada bukti kalau gue pemilik barang terlarang itu." "Orang tua lo gimana?" "Ini dia yang bikin gue nggak tahu harus gimana. Papa nggak pernah tahu-menahu soal sekolah gue. Terus? Apa tiba-tiba gue harus ngasih tahu dia kalau gue ada kasus kayak gini di sekolah? Nggak bisa, Kal. Nggak bisa..." "Mau cerita ke Mami?" tawar Kaliya. Teraza hanya terdiam. Dia tidak ingin melibatkan siapa pun disini. Apalagi ini bukan sekadar permasalahan bolos atau tidak mengikuti ulangan. Teraza menganggap masalah ini cukup serius. "Kita makan duku, Kal..." Kaliya hanya mengangguk dan membiarkan Teraza melenggang untuk memesan makanan. Meski kini dia sedang tak berselera sama sekali untuk makan. Suatu kebetulan yang sangat jarang sekali terjadi. Gensi... Tiny... Kalian di mana? Gue butuh pelukan kalian, batin Kaliya. (*) Mami menggenggam erat jemari Teraza. Menguatkan bocah laki-laki teman Kaliya putri semata wayangnya itu. "Besok Tante yang ke sekolah ya, Dear..." "Apa tidak merepotkan, Tan? Raza hanya ingin cerita sama Tante." "Tanteingin tahu kebenarannya. Tapi, benar kan kalau kamu memang tidak menggunakan barang itu?" "Benar, Tan..." Mami tersenyum dan mengusap kepala TeraA. "Ya sudah... Papa pasti sudah khawatir. pulang gih. Sudah sore. Besok Tante yang datang ke sekolah untuk mengurusi kasus kamu. Tante dan Kaliya percaya sama kamu." Mata Teraza basah. Sedangkan perasaan Kaliya sedang sangat sendu. Mengapa kebahagiaan yang aku dambakan hari ini cepat sekali berganti menjadi kesedihan seperti ini? Teraza terancam akan dikeluarkan dari sekolah. Belum lagi tentang Gensi dan Tiny yang tidak ada kabar. "Tante, Teraza pulang dulu." "Iya, Dear. Hati-hati..." Kaliya mengantar Teraza hingga di teras rumah. "Istirahat yang cukup, Alien..." ucap Teraza sembari memegang tangan Kaliya. Dia tersenyum dan mengiyakan kata-kata Teraza dengan cara mengangguk. Tak lama kemudian, motor Teraza sudah semakin menjauh dari halaman rumah Kaliya. Ya tuhan... mengapa dadaku begitu sesak? Sesak yang sama dengan situasi saat Papa meninggalkannya dulu. Apa aku takut kehilangan Teraza? (*) "Anak saya tidak mungkin mengonsumsi barang terlarang itu, Pak. Kalau perlu, saya perkarakan ke polisi dan sekolah ini yang akan malu jika seandainya kalian hanya memfitnah," tandas Mami Kaliya dengan sangat elegan. Perkataannya diresapi betul oleh Pak Krisna. Alisnya mengerut pertanda sedang berpikir keras. "Baik kalau begitu. Anak ibu akan saya skorsing selama proses penyelidikan ini. Pihak sekolah akan mengusutnya hingga tuntas. Bagaimana mungkin di sekolah sehebat Tunas Bangsa terdapat siswa yang mengedarkan n*****a," timpal Pak Krisna. Mami tersenyum dan mengangguk. "Baiklah. Saya permisi, Pak." Mami Kaliya bangkit dan menyalami tangan Pak Krisna. Di luar sudah ada Kaliya dan Teraza yang menunggu dengan perasaan sangat gelisah. "Bereees! Nak Herman nggak dikeluarkan. Cuma diskorsing." Kaliya lega mendengarperkataan Mami. Terlebih Teraza yang merasa bebannya sedikit berkurang. Tiba-tiba Pak Doni datang. Guru Olahraga Teraza. "Za... Kamu pasti baik-baik saja. Tidak perlu khawatir." "Terima kasih, Pak." Pak Doni menepuk bahu Teraza dan tersenyum ramah kepada Mami Kaliya. "Oh ya, kira-kira ada yang kamu curigai atau tidak, Za?" tanya Pak Doni. "Untuk sementara sih tidak ada, Pak. Saya tidak merasa memiliki musuh di sekolah ini." "Coba diingat-ingat. Agar mempermudah kami untuk mengusutnya." "Baik, Pak." "Nah, Kaliya. Mami sama Teraza pulang dulu, ya. Kamu belajar yang rajin. Jangan bolos. Awas kamu! Oh ya, kamu sudah hampir satu minggu tidak latihan balet. Nanti siang harus latihan. Biar Teraza yang Mami suruh jemput kamu." Kaliya mengangguk lemah mendengar perintah Maminya. Teraza hanya tersenyum meledek. Mami dan Teraza berlalu. Pak Doni ikut berlalu setelah tangannya disalami oleh Teraza. Kaliya hanya termenung melihat keakraban antara Teraza dan Maminya..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN