Fobia Kaca Besar

818 Kata
Setelah mendapat kabar dari Teraza bahwa dia sudah hampir sampai, Kaliya langsung merapikan dan dandanannya di ruang kerja Mami. Tak lama kemudian Teraza datang tepat pukul satu siang. Mami masih menjalani perawatan jadi tidak bisa mengobrol untuk berbasa-basi dengan Teraza terlalu lama. Teraza menyalami tangan Mami dan langsung membawa Kaliya yang terlihat kesal dan hanya diam menuju Cinere Mall bersama mobil yang menjadi sahabat setia Teraza. "Kal, lo kenapa sih diem aja dari tadi?" Seusai memarkir mobil, Teraza yang heran melihat Kaliya yang biasanya sangat cerewet dan tidak bisa diam itu akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Gue kesel, Za !" Kaliya akhirnya membuka mulut. "Ya, terus lo kesel kenapa?" Adit mengacak-acak rambut Anna yang lembut sehabis di hair spa. "Ah, Raza! Jangan acak-acak rambut gue!" Kaliya menarik tangan Teraza dari kepalanya. "Iya, iya. Makanya sekarang cerita dong sama gue. Masa baru selesai dibuat cantik malah cemberut?" Teraza meledek Kaliya yang masih saja memanyunkan bibir. "Gue cantik dong, Za? Akhirnya lu mengakui juga kecantikan gue!" Kaliya yang mendengar Teraza mengatakan bahwa dirinya cantik, langsung tertawa semringah membalas ledekan Teraza. "Ah, salah ngomong deh gue! Udah yuk cari tempat duduk." Adit menarik tangan Kaliya menuju tempat duduk kosong yang ada di area foodcourt favorit mereka itu. Setelah mendapatkan tempat duduk, Teraza yang masih penasaran dengan apa yang membuat Kaliya, cewek yang dia kenal tanpa sengaja dan kini menjadi teman dekatnya menjadi begitu diam karena kesal. "Nah... sekarang cerita deh." "Cerita apa?" "Ya ampun, Kaliya. Lo nggak bosen dengar pertanyaan gue? Gue aja kesel ngulang-ngulang terus pertanyaan gue." "Lo masih penasaran, Za? Pengen banget gue kasih tahu, ya?" Kaliya menjawab pertanyaan Teraza dengan asal sambil mengambil posisi duduk di depan Teraza. "Iya. Cepet." Teraza mengangguk dan tak menghiraukan gurauan Teraza. "Gue kesel, Za! Masa tadi pas di hair spa, gue harus duduk di kursi yang ada kaca besarnya!" jawab Kaliya berapi-api menceritakan kekesalannya. "Loh? Terus apa masalahnya, Kal? Bukannya kalau di salon emang selalu begitu?" Teraza keheranan mendengar jawaban Kaliya. "Ya, masalah dong, Za! Gue nggak suka duduk di depan kaca yang gede di salon!" Kaliya berbicara sambil bergidik ngeri membayangkan dirinya duduk di depan kaca yang sangat besar seperti waktu kecil dulu. "Aneh deh lo, Kal. Masa takut sama kaca salon? Padahal lo itu hobi banget nyalon." Teraza menatap heran Kaliya sambil menuntut jawaban pada Kaliya yang masih menampakkan wajah kengerian. Kaliya menghela nafas panjang. Akhirnya cerita masa kecil Kaliya mengalir begitu saja. (*) "Mamiii, rambut Kaliya gatel banget." Kaliya yang masih berumur enam tahun mengadu kepada Mami sepulang bermain dengan teman-temannya smabil terus-menerus menggaruk kepala. "Aduh, Kaliya. Gimana nggak gatel. Kamu kotor sekali, Nak!" Mami bergidik melihat penampilan putri kecilnya yang menggunakan kaos pink dengan setelan rok model kodok itu begitu kotor. Banyak tanah yang sudah mengering menempel di baju Kaliya. "Iya, Mi. Tadi Kaliya main sama teman-teman cari harta karun. Tapi, ini gatel banget, Mami!" Kaliya menunjuk kepalanya yang terus-menerus dia garuk dengan kesal. "Ya udah, Sayang. Kamu mandi, ya. Habis itu ikut Mami ke salon. Kita creambath." Akhirnya, Mami dengan lembut menyuruh Kaliya mandi. Seusai mandi, Kaliya dan Mami berangkat ke salon milik Mami yang masih sederhana namun sudah memiliki tiga orang kapster yang membantu pekerjaan Mami. Sesampainya di salon, Mami langsung meminta Betty, kapster gemulai bernama asli Beni, untuk meng-creambath rambut Kaliya. "Adik manisss, dikeramas dulu yuk sama Tanteee!" Betty membawa Kaliya dan memijat kepalanya dengan sampo. "Mau creambath pake rasa apa, adik cantiiik jeliiita?" Betty bertanya lagi dengan nada yang dibuat segemuali mungkin olehnya sambil menghanduki rambut Kaliya. "Mau rasa stroberry ya, Om!" Dengan polos dan tanpa dosa, Kaliya menyebut Betty dengan sebutan 'Om' yang tentu saja membuat Betty merengut kesal. Betty merasa reputasinya anjlok dipanggil seperti itu. Padahal dia sudah mati-matian berdandan secantik mungkin. "Duhhh, kamu bisa aja, Cyintaaah. Panggilnya Tante, ya! Taaan... teee... Beee... ttyyy," jelas Betty memberikan tahu Anna dengan wajah yang dipaksakan tersenyum karena masih kesal. "Iya, Om... eh, Tante Betty." "Nah, gitu doong. Baru anak maniiis." Dengan suara mendayu-dayu, Betty membawa Anna menuju kursi yang berhadapan dengan kaca yang sangat besar. Kaliya duduk manis di kursi yang dipilih Betty. Dia mematut wajah cantiknya di depan cermin sambil tersenyum lucu khas anak kecil. Tidak lama kemudian, Betty kembali sehabis mengambil krim stroberry untuk rambut Kaliya. "Ayo, Cantiiik. Tante Betty creambath, yaaa." Betty mulai melakukan aksi andalannya. Kaliya mengangguk dan membiarkan Betty memijat dan mengusapkan rambutnya dengan krim stroberry kesukaan Kaliya. Kaliya menikmati pijatan Betty hingga hampir tertidur, namun... "Huaaa! Aduuuh, Cyiiin. Ampuuun! Iniii apa?! Hua! Kutuuu!" Betty tiba-tiba berteriak setelah melihat emat ekor kutu kecil yang menempel pada tangannya yang sedang memijat Kaliya. Teriakan itu sontak membuat Kaliya terbangun serta beberapa orang yang menunggu dan sedang menikmati fasilitas salon Mami menoleh kaget menatap kearah Kaliya dan Betty. Kaliya melihat Betty berteriak-teriak dan memandang kaca. Di sana terdapat bayangan wajah orang-orang yang menatapnya dengan penuh ejekan karena Kaliya yang kutuan. Itu membuat Kaliya menangis histeris sekencang-kencangnya. Mami pun mulai kerepotan untuk menenangkan Kaliya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN