Manusia Aneh

1194 Kata
PAGI YANG damai. Bahkan sangat damai dari pagi-pagi sebelumnya. Semburat mentari pagi menyembul dari kisi-kisi jendela kamar Kaliya. Membalut tubuhnya dengan kehangatan. Tubuhnya menggeliat. Kaki jenjangnya menyibakkan selimut tebal berwarna ungu lembut. Dia kembali menenggelamkan wajahnya di antara tumpukan boneka boneka kesayangan. "Kaliya... Sayaaang... ayo bangun. Kita ke salon sama-sama. Waktunya perawatan tubuh mingguan," teriak Mami di depan pintu kamarnya. Kaliya tersenyum. Yeah! Setelah diminta untuk menggantikan Bang Indra melatih di tempatnya, Kaliya jadi sangat jarang sekali pergi ke salon untuk perawatan. Hanya sebatas creambath. Itu pun sangat berpacu dengan waktu. Tapi, selalu ada celah untuk makan di foodcourt favoritnya bersama Gensi dan Tiny. Kini dia sudah tak sedih lagi melihat salah satu counter di foodcourt tersebut yang memajang namanya. Kaliya juga sudah berjanji untuk rajin berlatih balet kepada Mami meski dia sama sekali tidak merasa balet adalah fashion-nya. Masalah dengan pelatih pun selesai dan hubungan mereka berangsur membaik. Ternyata, Kaliya memang hanya salah paham. Pak Bram tidak mengintip Kaliya sama sekali. "I am coming, Mami!" teriak Kaliya semangat sembari bangkit dan menyambar handuknya. Saat hendak menutup pintu kamar mandi, handphone-nya berdering. Kaliya menyempatkan diri untuk mengangkat panggilan tersebut. "Kal... berarti hari ini lu udah nggak ngelatih lagi?" ucap orang di seberang. "Siapa lo?" "Lo belum nge-save nomor gue? Kebangetan lo. Ini gue , Teraza." "Laaah... lo kan baru kali ini telepon gue. Pasti dapat nomor gue dari Mami, ya?" Kaliya bersungut. Terdengar suara tawa di seberang. "Lo udah nggak ngelatih lagi?" "Bang Indra minta gue tetap ngelatih buat ngebantu dia. Halaaah... udahlah. Gue mau mandi nih. Minggu ini jadwal gue ke salon sama mami. Gue nggak mau lo ngerusak weekend gue." "Iya, Nenek Baweeel, Di salon Mami atau salon yang lain?" "Kenapa emang?" "Entar siang gue mau ngajak lo makan di foodcourt." "Boleh. Lo jemput gue ya di salon Mami." "Sip... bye." Kaliya buru-buru mandi. Weekend kali ini pasti akan menjadi sangat menyenangkan. (*) Papa melihat wajah Teraza sangat semringah. Wajah Teraza yang babak belur kini sudah hilang jejak jejak labamnya. Hanya tinggal beberapa luka yang mulai mengering. Tapi Papa tidak memarahi Teraza sama sekali saat Putra semata wayangnya itu diantarkan oleh Kaliya dalam keadaan sangat memprihatinkan. Justru Papa senang dan berteriak, 'seperti itulah laki-laki!'. bonyok karena membela kebenaran. Bukan memasak di dapur dan mengocok telur. Sikap Teraza membuat Kaliya geli. Ternyata ayah dan anak sama saja anehnya. Semenjak itu pula kekhawatiran Papanya memudar. Ternyata Teraza bisa dekat dengan perempuan lagi, secantik dan sesopan Kaliya. "Mau ke mana, Za? Pagi-pagi udah rapi," Papa yang sedang melahap nasi goreng menegur putranya. Teraza sedang menikmati apelnya. "Raza mau ke toko buku. Habis itu mau jemput Kaliya buat makan siang bareng, Pa." "Dia cantik...." goda Papa. Teraza mengangguk dan tersenyum. Dia masih menatap layar iPadnya tanpa menghiraukan dengan serius godaan Papahnya itu. "Dia kan satu sekolah sama kamu. Kenapa baru kemarin diajak ketemu Papa?" "Pah, dia cantik, Tapi, itu karena Papa belum kenal dia. Dia itu aneh." Kata-kata terakhir Teraza diiringi dengan tawa lepas. Papa jadi tersenyum-senyum sendiri. "Udah ah. Raza duluan ya, Pah." Teraza bangkit sembari mengangkat tas ransel hitamnya dan menggamit apel yang kedua dengan tangan kiri lalu menyalami Papa. "Hati-hati. Salam untuk Kaliya." "Siap!" (*) "Mi, nanti siang Kaliya nggak bisa makan sama Mami, ya. Soalnya Teraza ngajakin makan bareng dan mau jemput ke salon Mami." Mami yang sedari tadi hanya diam dan fokus menyetir, kini sangat antusias ketika Anna sudah menyebutkan nama Teraza. "Mami nggak diajak?" "Ih, Mami apa sih? Penting ya ngajak Mami?" Kaliya yang memilih duduk di jok belakang mulai cemberut mendengar perkataan Mami. "Kaliya, Mami yakin Teraza sih mau-mau saja ngajak Mami." "Ah... ya udahlah, ya. Terserah Mami aja." Kaliya diam, lalu membuka laptop dan memasang modem untuk menyambung ke internet. Jakarta sudah mulai macet. Kaliya tidak ingin kemacetan merusak mood-nya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk berseluncur di dunia maya. "Baletmu gimana?" "Lancar, Mi." "Awas kalau kabur lagi," ancam mami. Kaliya tertawa dan tak mengacuhkan kembali kata-kata Mami. Setelah satu jam perjalanan melelahkan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu setengah jam, akhirnya mereka sampai di salon Mami. Kaliya dan Mami masuk ke ruangan kerja Mami terlebih dahulu untuk sekedar menaruh tas. Anna lalu segera menuju kapster andalan Mami, Devi. "Non Kaliya, mau perawatan apa?" tanya Devi dengan sopan. "Pertama, gue mau dilulur dulu pakai scrub stroberi, ya. Kedua, aku mau di-facial. Yang terakhir, aku mau hair spa. Udah. Itu aja kayaknya," Kaliya menjelaskan semua perawatan yang ingin dia nikmati di hari minggu yang begitu indah ini. "Kamu nggak m**i pedi, Sayang?" Mami yang akan menuju ruang spa bertanya ketika melewati Kaliya. "Nggak dulu deh, Mi. Kasihan nanti Teraza kelamaan nungguin aku." "Oh, ya udah. Kasihan Teraza toh." Mami tertawa kecil kemudian kembali berjalan menuju ruang spa. Setelah Kaliya menyampaikan keinginannya kepada Devi, kapster cantik itu pun mendampingi Kaliya untuk masuk ke ruangan lulur. Devi sangat terampil. Pantas saja dia selalu mendapat sanjungan dan kepercayaan yang lebih dari Mami. Jika ada beberapa orang penting yang datang dan hendak menikmati perawatan, Mami akan mempercayakannya kepada Devi. Luluran dengan scrub strawberry memang sangat menyegarkan. Terlebih untuk kulit Kaliya yang sudah terlihat agak kusam. Kepiawaian Devi membuat Kaliya nyaman dan akhirnya dia tertidur selama hampir satu jam. Usai dilulur Kaliya segera beranjak untuk mandi dan membersihkan diri. "Segar ya, Mbak. Mami mana?" tanya Kaliya begitu keluar dari ruangan untuk membersihkan diri. "Di ruang sebelah, Non." "Oh, lanjut facial aja langsung ya, Mbak." "Mari, Non." Devi tersenyum dan sangat ramah dalam meladeni keinginan Kaliya. Seluruh kapster yang bekerja pada Mami memang sangat senang kepada Kaliya yang baik dan tidak sombong. Hanya kadang sesekali menyebalkan jika Kaliya mulai usil dan mengganggu para kapster saat sedang melayani customer. Setelah itu Kaliya segera di facial. Perawatan yang dilakukan rutin hampir sebulan sekali itu begitu dia menikmati. Perawatan itu pula yang membuat wajah cantik Kaliya semakin terawat. "Udah selesai. Lanjut di hair spa ya, Non?" Devi mengelus pundak Kaliya yang tertidur menikmati masker dingin yang tadi menempel di wajahnya. "Eh, udah selesai, ya?" Kaliya yang masih mengantuk dengan malas bangkit dan menuju tempat keramas sebelum rambutnya di spa. Pijatan lembut yang dilakukan Devi membuat Kaliya semakin mengantuk. Salon dua lantai yang terletak di pinggir jalan pusat kota Jakarta milik Mami itu memang cukup terkenal. Mami yang piawai berbisnis apalagi tentang kecantikan mampu menjadi owner salon yang cukup sukses karena salonnya selalu mengutamakan kualitas dan kepuasan pelanggan. "Udah selesai, Non Kaliya. Pindah tempat duduk, yuk!" Devi dengan lembut menghanduki kepala Kaliya dan membawanya ke kursi yang berhadapan langsung dengan kaca salon yang besar. "Kenapa di sini, Mbak Devi?! Pindah! Nggak mau di sini!" Kaliya yang akhirnya benar-benar sadar dari rasa kantuknya terkejut karena dia harus duduk di depan kaca yang sangat besar. Teriakan panik Kaliya membuat Devi takut dan kebingungan. Memang Kaliya sangat jarang menikmati fasilitas salon Mami. Dia lebih senang ke salon langganannya sehingga Devi lupa akan fobia Kaliya pada kaca besar di salon. "Kenapa, Non?" Devi panik melihat Kaliya mengamuk dan tidak dapat mengingat apa pun tentang penyebab kehisterisan Kaliya. Seluruh customer dan kapster lain menjadi sangat bingung melihat adegan tersebut. Devi menghampiri Kaliya. "Pokoknya pindah di ujung aja yang nggak ada kacanya!" Kaliya yang kesal meninggalkan tempat itu menuju kursi tanpa kaca besar di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN