Clara melenggang dengan anggunnya, membawa beberapa map, dan tersenyum sembari berjalan ke arah meja lelaki yang tengah sibuk meneliti dokumen di hadapannya. Clara sengaja mengenakan rok di atas lutut, kancing kemeja yang ia kenakan sengaja dibiarkan terbuka sedikit, hingga membuat d**a montoknya sedikit terlihat. Ia ingin menjadi seorang penggoda. Hanya saja, ia tak mampu menahan hasrat yang terus memberontak ketika melihat lelaki itu.
Benar apa kata orang, lelaki yang telah berkeluarga jauh lebih menarik daripada pria lajang di luar sana. Melihat betapa lembut lelaki itu memperlakukan istrinya, menginginkan Clara mendapatkan perlakuan yang sama. Semakin sulit seorang lelaki digoyahkan, maka akan semakin menantang adrenalin. Bagai tengah melakukan tantang yang mendebarkan hati.
Clara masih ingat benar rona bahagia di wajah Demian ketika istrinya berkunjung ke kantor dengan membawakan makan siang. Mereka bahkan membuat jadwal seminggu sekali untuk makan siang bersama, entah itu di luar ataupun di kantor. Clara merasa iri dan semua itu semakin membuatnya mendapatkan Demian dengan cara apa pun. Sebutlah ia gila, mungkin memang cinta bisa membuat orang segila ini. Dia ingin mendapatkan lelaki itu.
“Pak … ada permintaan otopsi untuk kasus Bapak Sanjaya,” ucap Clara begitu berdiri di hadapan meja Demian. Ia meletakkan map yang dibawanya ke meja.
Demian mendongak dan pandangannya langsung menatap ke arah kedua gunung kembar Clara yang menyembul keluar. Lelaki itu menelan ludah. Bukan bermaksud tak sopan, namun dirinya hanyalah lelaki normal yang tentu saja tak mungkin bisa mengabaikan pemandangan indah yang disajikan di depan matanya.
Clara tersenyum puas karna umpan yang dilemparnya berhasil. Ia tahu, tak ada seorang lelaki pun yang mampu menahan hasrat birahi mereka. Napsu mampu mengalahkan apa yang ada di hati mereka dan itulah yang Clara yakini. Semua lelaki di sekitarnya adalah tipe yang sama, oleh karna itu, ia yakin bisa mendapatkan Demian dengan mudah.
“Maaf, Pak,” panggil Clara berusaha membuyarkan lamunan lelaki itu.
Demian yang tertangkap basah tengah memperhatikan gunung kembar wanita itu segera mengembalikan pandangannya pada dokumen di hadapannya. Harusnya, ia tak menerima asisten semenarik Clara, akan tetapi tak mungkin karna dirinya bekerja dalam bidang hukum. Seorang asisten yang menarik tentu saja akan membuatnya mendapatkan banyak kasus. Apalagi Clara adalah seorang yang pintar dan pintar berbicara, kandidat yang benar-benar tak boleh disia-siakan begitu saja. Hanya saja, kehadiran wanita itu membuat bathinnya tersiksa. Hasratnya pun tak bisa terus-terusan dibendung, apalagi setelah ia merasakan hambar yang kembali hadir di dalam pernikahannya bersama dengan Almira.
Demian sungguh tak mengerti, mengapa dirinya begitu mudah berpaling. Padahal Almira adalah sosok istri yang sempurna. Ia puas dengan pelayanan wanita itu di ranjang. Mungkin, memang dirinya terlalu cepat menikah, hingga belum merasa puas bermain. Ia pikir, dengan menikah, kehidupannya bisa menjadi lebih baik, akan tetapi pemikirannya selalu salah.
“Maaf, letakkan saja semuanya di situ dan kamu bisa pergi.”
Demian tak pernah mengerti arti dari cinta, perasaan itu begitu rapuh, membuatnya sadar jika memang sejak awal tak pernah ada cinta di antara dirinya dengan Almira. Akan tetapi, dirinya memang egois karna tak mau melepaskan wanita itu. Ia yakin, tak perlu cinta dalam rumah tangga. Yang ia butuhkan hanya tempat pulang dan seseorang yang menyambutnya.
“Sudah jam makan siang. Apa bapak mau makan bersama?”
Clara tak ingin melepaskan mangsanya yang sudah ada di dalam genggamannya. Ia harus menggunakan semua kesempatan yang ada dan membuat lelaki itu bertekuk lutut. Demian tersenyum karna keberanian wanita yang baru beberapa bulan ini bekerja bersamanya. Demian akui, wanita itu frontal, selalu mengutarakan semua keinginannya, tak seperti Almira yang lebih ingin menjaga hati orang lain dan menyimpan perasaannya seorang diri. Demian menyukai perbedaan dari diri Clara, membuatnya seakan menemukan kembali debar dalam hati.
“Apa kamu belum makan?” Demian melirik jam di tangan kirinya, lalu menatap Clara kembali, “ini udah lewat setengah jam dari jam makan siang. Kenapa kamu belum juga makan siang?” lanjut Demian sembari menatap Clara penuh tanya.
Clara tak akan merayu bagai seorang w************n. Dirinya adalah seorang yang terpelajar dan dirinya sangat pintar memanipulasi seorang lelaki, hingga dirinya tahu benar langkah apa yang harus diambil untuk memikat seorang seperti Demian.
“Aku menunggu Bapak merealisasikan janji Bapak untuk mentraktirku makan setelah kita memenangkan kasus Pak Sudira,” senyum Clara tampak sangat menawan, “jangan bilang Bapak melupakan janji yang membuatku terus menantikan makan siang gratis itu?”
Demia tertawa. Ia menyandarkan punggung di sandaran kursi dan menatap wanita di hadapannya meneliti. Sungguh wanita yang menarik. Andai saja, Almira bisa sedikit agresif, mungkin dirinya bisa benar-benar jatuh cinta pada kesempurnaan wanita itu. Entah mengapa, dirinya selalu merasa kurang dan tak lengkap dengan semua yang diberikan oleh Almira. Hingga selalu saja ada alasan baginya untuk menjauh dari wanita itu. Mungkin, otaknya memang sudah rusak. Padahal, kakeknya sendiri begitu menyukai Almira hingga langsung setuju dan memintanya segera melamar Almira begitu dikenalkan.
Hati memanglah bagian tubuh yang sulit didustai. Alasannya menikah terlalu tak masuk akal. Kakeknya yang menyukai Almira bukan dirinya. Demian hanya membutuhkan Almira, namun setelah alasannya bertahan pada wanita itu telah pergi, maka Demian menemukan sejuta alasan untuk membenarkan perasaan salah yang selama ini membelenggu hatinya.
“Jadi gimana? Apa bapak masih mau membuatku kembali kecewa dan kelaparan?”
Demian tersenyum, seraya menggeleng-geleng. Ia segera menutup berkas di meja dan menyambar barang-barang pribadinya. “Ayok, kita makan!”
Binar kebahagiaan terlukis jelas di wajah cantik wanita bertubuh aduhai itu. Ia tersenyum dan segera berjalan mendekati Demian. Ingin rasanya ia menerkam lelaki itu, namun ditahannya hasrat itu untuk mendapatkan Demian sepenuhnya. Seperti semua lelaki yang selama ini menjadi korbannya, Clara akan membuat Demian tergila-gila dan untuk mencapai semua itu. Dirinya harus bersabar sedikit lagi. Ia tak boleh terlalu gegabah.
“Apa aku boleh minta ditraktir makanan yang mahal?”
Demian tertawa dan mengangguk. “Tentu saja, apa saja yang kamu mau.”
Clara tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih. Wanita itu berpamitan untuk mengambil barang pribadi di meja kerjanya, lalu kembali berdiri di sisi Demian. Keduanya bercerita dengan asyiknya, berbagi tawa, dan merasa nyaman bersama.
Demian tak pernah lagi merasakan kenyamanan yang sama saat bersama dengan Almira. Semua telah musnah. Ia sendiri pun tak mengerti alasan dari kehampaan di antara mereka. Bersama Clara, Demian seakan bebas dan bisa menjadi dirinya sendiri. Demian mendapatkan hal yang diperlukannya dari orang lain. Tak seperti perselingkuhan pertama yang murni terjadi karna dirinya bosan dan ingin mencari tantangan baru.
Rasa yang ada di antara dirinya dan Clara lebih dari sekadar rasa itu. Ada hal yang diri Clara yang ia temukan pada Almira. Demian tanpa sadar pun kerap membandingkan keduanya. Mulai membayangkan bagaimana kebahagiaan yang ada di antara mereka, jika saja Clara adalah istrinya. Mungkin, Demian tak ‘kan pernah bisa berpaling dari wanita cantik dengan otak cerdas itu. Wanita yang berpikiran terbuka dan membuatnya merasa bebas.
Demian pun tak bisa mencegah otaknya yang memikirkan betapa panasnya permainan mereka jika dirinya mampu membawa Clara ke tempat tidur. Pemikiran liar yang kerap hadir saat melihat tubuh wanita itu, membuat Demian semakin yakin jika dirinya telah jatuh hati. Mereka adalah dua orang yang sama-sama telah dewasa, hingga Demian tahu, jika wanita itu pun menginginkan dirinya sebagaimana ia menginginkan wanita itu. Mereka berdua sama-sama telah menunggu, siapa yang akan membawa hubungan mereka selangkah lebih maju.