Garen menatap lekat wajah Kaliya yang sudah tertidur pulas. Malam ini dia telah melihat sisi lain dari istrinya tersebut. Hatinya menetapkan bahwa Kaliya adalah orang yang dia cari selama ini. Seorang perempuan yang berjalan pada prinsipnya sendiri tak peduli dunia akan menentangnya. Dia tidak serta merta terpengaruh oleh pendapat orang lain. Baginya, apa yang dia yakini benar maka benarlah itu. "Makasih, Sayang." Tanpa diduga Kaliya menjawab, "Heum." Garen terkejut, tangannya melambai-lambai di depan wajah Kaliya namun perempuan itu tidak bereaksi. Dia lalu terkekeh, keunikan Kaliya selalu bisa membuat perasaannya teraduk-aduk. Kaliya terperanjat ketika membuka pintu kamar. Sherina sudah berdiri sambil tersenyum lebar menyambut si Kakak Ipar. "Selamat Pagi Kakak Ipar," sapanya b

