Jeritan Hati

1210 Kata

Kesedihan yang dalam tak mampu dikendalikan olehnya. Kaliya hanya mengurung diri di kamar kos-kosan. Setiap kali Ulfa datang tidak dibukakan pintu. Suatu hari Ulfa datang bersama Garen. Mereka khawatir Kaliya melakukan tindakan bodoh. Kemalangan beruntun yang dialaminya pasti membuat semakin terpuruk. Tak ada pilihan lain. Garen memerintahkan anak buahnya untuk mendobrak pintunya setelah mendapat izin dari pemilik kos-kosan tersebut. Kaliya bahkan tak menggubris saat pintu berhasil terbuka. Garen bergegas mendekatinya, memeluk tubuh lemahnya seraya menangis. Garen berkata, "Maafin aku Kaliya. Aku salah sudah menghakimi tanpa memberimu kesempatan bicara." Pandangan Kaliya kosong. Hanya air mata yang terus membanjiri sampai bantalnya sudah basah kuyup. Entah berapa liter air mata yang ia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN