Dilema

1045 Kata
Kaliya meringis kesal menghadapi tingkah Dendi. Pemuda itu rupanya menaruh hati padanya. Setelah kesepakatan damai selesai, Dendi bukannya pulang malah mengekori Kaliya ke mana-mana. "Gue mau kerja! Lu mau ngapain, sih?" tanya Kaliya dengan nada kesal. "Kenapa kamu gak pulang aja kayak Komar?" "Gue masih bisa kerja!" cetus Kaliya semakin kesal. Belum selesai persoalan dia Garen sudah bertambah satu orang aneh yang hampir menyerupai Garen karakternya; ngeyel dan menyebalkan, begitulah yang Kaliya rasakan. Tak lama Garen dan Hera keluar dari ruangannya. Garen mendelik dengan bibir menggeram ke arah keduanya, tampak sekali raut tidak senang Garen melihat mereka duduk berdekatan. "Kamu tahu peraturan di sini?" bentak Garen sambil melotot. Kaliya berpikir sejenak bukan untuk mengingat peraturan melainkan sengaja mengejek bosnya itu. Dengan nada cuek dia bertanya, "Peraturan yang mana?" "Dilarang menemani tamu apapun alasannya!" Kaliya berdiri dengan senyum mengejek. "Ah … yang itu? Heum, saya hampir melupakannya karena bos sendiri yang mengajari melanggar peraturan itu." Hera yang memang sudah geram melihat tingkah kurang ajar Kaliya langsung menyambar, "Kamu ini benar-benar tidak punya etika ya?!" "Tolong ajarkan etika yang benar ke saya supaya saya paham etika macam apa yang berlaku di perusahaan ini?!" "Seharusnya kamu bisa membedakan sedang berbicara dengan siapa! Kami Bos di sini!" "Oh, saya hampir lupa karena bos di sini tidak mencerminkan bagaimana bos seharusnya bersikap kepada pegawainya." Garen tertegun mendengar ucapan Kaliya. Gadis itu seolah tidak gentar menghadapi Hera. "Apa hak kamu mengatur bagaimana sikap bos terhadap bawahan? Kamu digaji bukan untuk mengkritik." "Bos juga menggaji bukan untuk memperbudak!" "Siapa yang memperbudak kamu?" "Entahlah! Kenapa Ibu gak tanyakan sendiri sama suami ibu?" Hera menoleh ke Garen. Dari gelagat pria itu Hera semakin yakin bahwa memang ada suatu diantara mereka. Sikap dingin Garen belakangan ini bukan tidak mungkin ada sangkut pautnya dengan Kaliya. Daripada menerka-nerka wanita itu menarik tangan Garen untuk membawanya pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Garen terpaksa menebalkan telinga mendengar ocehan Hera. Fokusnya tertuju ke jalan raya namun pikirannya terus mengarah ke Kaliya dan Dendi. Ia takut kalau Kaliya bakal melakukan hal yang sama terhadap Dendi, menjebaknya demi mendapatkan uang lagi. Selagi Hera masih mengoceh, Garen memikirkan sebuah cara untuk bisa lepas dari istrinya setelah tiba di rumah. "Aku mau kamu pecat dia!" raung Hera begitu tiba di ruang tamu. Viona terkejut mendengar keributan mereka berdua. Sejak menikah Viona diperintahkan Hera untuk mengambil cuti selama satu minggu untuk mendapatkan arahan agar Viona tidak membuka rahasia pernikahannya dengan Garen. "Aku gak bisa memecat dia begitu aja!" tolak Garen dengan tegas. "Kenapa? Jelas-jelas dia bersikap kurang ajar sama kamu!" Garen menoleh ke arah Viona tatapannya bengis menatap perempuan itu. "Karena dia calon istriku!" Tak ayal dua wanita itu terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Kaliya yang begitu culas dipilih Garen untuk menjadi madu mereka. Jika Viona bisa patuh dibawah kekangan Hera tidak demikian dengan Kaliya, jadi anak buahnya saja dia berani menantang Hera apalagi sudah menjadi madunya. Bisa-bisa setiap hari Hera bakal dilawan habis-habisan olehnya. "Kenapa harus dia, Ren?" tanya Hera keberatan. Jelas saja dia keberatan, meskipun Garen tidak menyukai orang yang suka memanfaatkan keadaan namun tatapan Garen terhadap gadis itu jauh berbeda dengan tatapannya terhadap Viona. Hera merasa ada sesuatu yang menarik perhatian Garen dari gadis itu, entah itu apa. "Aku sudah menjelaskan alasannya. Dengarlah istriku tersayang, Kaliya orang yang pas untuk memenuhi kriteria kamu." "Tapi dia gak bisa mengurus anak kita nantinya, Ren!" "Aku bisa menyewa sepuluh pengasuh anak, jadi kamu gak usah khawatir." Hera tak percaya Garen setega itu mengatakan hal yang menyakitkan baginya. Bagaimana tidak? Seolah ucapannya itu menegaskan bahwa pria itu sudah siap ditinggalkan Hera untuk selama-lamanya. Padahal Garen hanya ingin Hera menghentikan kegilaannya dengan mempertahankan Viona sebagai madunya. "Kamu bener-bener kejam, Ren!" Tangis Hera pecah seketika. "Lebih kejam mana sama kamu yang memaksaku menikah lagi?" "Haruskah aku tegaskan berkali-kali, Ren?" "Haruskah aku bernego sekali lagi sama kamu?" Hera menatap dalam suaminya itu, ada perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Dilema besar yang dia hadapi dengan keputusan yang harus dia ambil saat itu juga. "Biarkan aku menceraikan dia!" cetus Garen dengan nada pelan. Sorot matanya memohon agar Hera memahami betapa terlukanya dia menjalani keinginan istrinya itu. Bibir Hera bergetar, dia tidak bisa mengambil keputusan mengingat Garen sepertinya tidak akan menghentikan niatnya untuk menikahi Kaliya sekalipun dia mengabulkan keinginan pria itu. Dengan tegas Hera menjawab, "Aku gak bisa." Tatapan sendih Garen berganti kilatan amarah yang seolah siap menghempaskan apa saja yang ada di dekatnya. Alih-alih melakukannya, Garen malah memilih untuk pergi dari rumah itu. Kemana lagi tujuannya kalau bukan kembali ke Vein Karaoke. Mungkin cuma Kaliya orang yang bisa menghiburnya saat ini. Sementara Gadis itu masih sibuk meminta Dendi untuk berhenti mengganggunya. "Lo tuh gak ada kerjaan lain, ya?" bentak Kaliya kesal. "Aku pengangguran." Yudha yang sedari tadi berdiri mematung menyaksikan perdebatan mereka tiba-tiba berkata, "Pengangguran tapi bisa memberi kompensasi sebesar itu." "Nah!" seru Kaliya sependapat dengan pujaan hatinya itu. "Untuk apa kerja kalau duit bisa datang sendiri." Yudha kembali berkata, "Cuma juragan tuyul saja yang bisa menghasilkan uang tanpa bekerja." Kaliya mendadak terkekeh mendengar ucapan sarkastis tersebut. "Lo juragan tuyul?" tanya Kaliya dengan mimik mengejek. "Nenek moyangnya!" dengus Dendi kesal. "Pergi sana! Gue bisa kena masalah nanti!" Untuk kesekian kalinya Kaliya menyuruh pemuda itu pergi. "Kenapa? Apa kamu bakal dipecat?" Garen tiba-tiba berseru, "Iya!" Mereka kompak melihat ke arah Garen. "Apa salah dia?" "Karena di Karaoke ini karyawan dilarang menemani tamu apapun alasannya." "Tapi saya 'kan temannya." Kaliya meringis geli. "Dih! Sejak kapan?" "Mulai hari ini," jawabnya cuek. "Oh oke kalau begitu kalian rayakan saja pertemanan ini sekaligus pemecatan dia!" Mendengar itu Dendi langsung berdiri. "Anda tidak bisa semena-mena begitu mentang-mentang Bos di sini." "Saya tidak bertindak semena-mena. Dia jelas menyalahi aturan dan penyebabnya adalah kamu!" "Ah, okelah saya pergi." Dendi berbalik ke Kaliya lalu menariknya berdiri. "Aku tunggu kamu pulang ya?! Nanti aku antar." Entah kenapa Garen dan Yudah tiba-tiba bergerak maju seperti ingin mencekal pemuda itu. Kaliya sedikit tersentak melihat gelagat dua lelaki itu. Kalau Garen mungkin dia tidak akan heran tapi Yudha? Bukankah pemuda itu tidak pernah peduli padanya. "Gak usah pake pegang-pegang!" bentak Garen menarik paksa tangan Dendi agar menjauh dari Kaliya. "Maaf saya terbawa perasaan." Garen menggeram bak serigala yang siap menerkam buruannya. "Jauhi dia selagi saya masih bisa bersikap normal!" "Oh, oke!" Dendi melambaikan tangan kemudian menunjuk lurus kedepan sebagai tanda bahwa dia menunggu Kaliya di luar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN