Hera hanya bisa merintih perih, hatinya terluka oleh sikap Garen yang terkesan meremehkan waktunya yang tinggal sebentar lagi. Dengan isak tangis ia berkeluh-kesah kepada Viona.
"Kenapa Garen tega banget sih?!" rintih Hera seraya mengusap air mata.
"Sabar ya Bu, mungkin ada baiknya Ibu turuti kemauan Pak Garen."
"Dengan menuruti kemauan dia sama saja aku membiarkan dia semakin dekat dengan gadis itu."
"Gimana ya?! Kalau saya rasa sih Kaliya gak mungkin terpikat sama Pak Ren karena setahu saya dia itu bucin banget sama Yudha, Bu!"
"Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana watak gadis itu, dia akan melakukan segala cara demi mendapatkan uang."
"Itu hanya desas-desus aja Bu, belum pasti kebenarannya."
"Kalau sudah jadi bahan gosip sudah pasti benar, Vi!"
"Hem, Ibu tenangkan pikiran dulu. Sebisa mungkin saya akan menghalangi kedekatan Pak Ren dengan Kaliya."
Hera meraih foto pernikahan mereka dari atas nakas ruang keluarga yang begitu mewah bagi Viona. Rumah itu adalah milik Hera, setelah menikah Hera tidak mau tinggal di rumah Garen dengan alasan takut kedua anaknya tidak nyaman berada di rumah ayah sambung mereka. Meskipun Garen menerima kedua anaknya dari pernikahan yang pertama namun sikap cueknya itu sulit ditoleransi oleh Hera.
Suami Hera yang pertama meninggal akibat kecelakaan pesawat. Suaminya yang memang mengikuti asuransi jiwa membuat Hera mendadak jadi kaya raya. Belum lagi keluarganya memang pengusaha terkenal hanya saja kehidupan Hera tidak begitu baik sebab itu hasil kekayaannya murni dari mantan suaminya yang pertama sementara mantan suaminya yang kedua menceraikannya hanya demi seorang gadis desa.
Keadaan itu jelas membuatnya trauma karena suami keduanya hanya memanfaatkannya demi sebuah tender keluarganya. Oleh karena itu dia selalu mengekang kebebasan Garen lantaran takut kejadian pada suami keduanya terulang lagi kepada Garen.
"Saya mengenal Garen sewaktu merayakan ulang tahun teman di salah satu cabang Vein. Saat itu Garen sedang menyamar sebagai salah satu karyawan, kebetulan dia mendapat jatah melayani kami. Kami saling suka pada pandangan pertama. Sejak saat itu saya jadi sering datang ke sana dan sering mengajaknya makan di luar. Saya pikir dia memang pemuda miskin jadi saya berinisiatif untuk memberikan fasilitas berupa ATM dan juga mobil. Seiring berjalannya waktu, dia baru jujur dan merasa saya adalah wanita yang dia dambakan selama ini. Katanya saya adalah wanita yang tidak memandang fisik dan status ekonomi."
"Wah, manis banget sejarah Ibu sama Pak Garen. Saya jadi terkesima," puji Viona dengan senyum berbinar.
"Setelah tiga bulan berpacaran kami memutuskan untuk menikah dan tinggal di rumah ini. Tadinya Garen menolak tapi alasan saya cukup kuat untuk tetap berada di rumah ini. Olin dan Selin tidak akan nyaman berada di tempat asing untuk menetap."
"Anu Bu, kalau boleh tahu sebenarnya Bu Hera sakit apa?"
Hera tersenyum miris. "Saya gak bisa mengatakannya bahkan kepada Garen."
Viona melongo mendengarnya. "Loh, jadi Pak Ren gak tahu apa penyakit Ibu?"
Hera menggeleng. "Saya gak mau membicarakannya, untungnya dia mengerti. Sejak hamil saya melarang Garen untuk menyentuh saya karena kandungan saya lemah."
Viona hanya bisa mengerutkan dahi mendengar penuturan Hera. Bagaimana bisa si suami diam saja ketika istrinya divonis tidak akan bisa hidup lebih dari setahun lagi tanpa mengetahui pasti apa penyakitnya. "Pasangan yang aneh," batinnya.
***
Mata Kaliya menyipit melihat kegigihan Dendi menunggunya di depan Vein Karaoke. Firasatnya mengatakan bahwa ia akan mengalami kesulitan menghadapi dua pria aneh dan super mengesalkan. Sementara Garen sudah berdiri dengan tangan menyilang di d**a sambil menatap sengit kepada Dendi.
"Mau ngapain kamu nungguin dia?" sergah Garen.
Dengan santai Dendi menjawab, "Mau ngater dia pulang." Bibirnya merekah dengan mata berbinar.
"Gak perlu! Saya yang akan mengantarnya."
"Apa anda sopirnya?" tanya Dendi sengit. Matanya yang berbinar berubah sinis.
"Wah songong nih bocah! Sebagai atasan saya merasa bertanggung jawab atas kesehatan dia setelah kamu bikin cedera kemarin."
"Saya sudah mengaku salah dan bertanggung jawab!"
Garen melangkah maju menarik kerah jaket kulit pemuda itu. "Heh! Kamu pikir setelah mengabulkan tuntutan dia bisa menerobos gitu aja mengganggu privasinya?!"
"Saya cuma PDKT sama dia apa itu salah?"
"Dia sudah punya calon suami!"
"Siapa? Yang jelas bukan anda, 'kan?! Lagian baru calon ini belum tentu jadi."
Selagi mereka berdebat sengit, Kaliya melihat Yudha berjalan melewati mereka menuju parkiran motor. Ini kesempatan Kaliya untuk mengendap menyusul pemuda itu dan meninggalkan dua lelaki konyol yang sedang berseteru.
"Yud! Anterin aku pulang dong!"
"Tumben gaya bicara lo manis begitu?"
"Karena cuma ada kita berdua jadi gapapa dong!"
"Cih!" desis Yudha meremehkan godaannya.
"Mau ya, Please!"
"Iya!" jawab Yudha setengah hati.
Tanpa basa-basi Kaliya langsung naik ke boncengan motor butut yang mungkin seumuran dengannya.
"Lo gak malu dibonceng pake motor tua?"
"Yang penting sama kamu aku gak bakalan malu kok! Cinta itu membutakan segalanya, Yud!"
Yudha mengulum bibir selepas menarik gas motor tua itu dan pergi meninggalkan areal parkiran. Vein Karaoke terletak di pusat pertokoan di kawasan pinggir kota. Areal yang sangat eksklusif dan nyaman untuk berbelanja maupun hiburan. Lokasi yang terbilang strategis meskipun berada di belakang Mall. Hanya berjarak 50 meter saja dari Mall tersebut.
Kaliya melingkarkan tangannya di pinggang Yudha, kepalanya bersandar mesra di pundak pemuda itu. Pundak yang cukup bidang dan kekar. Sementara itu Garen dan Dendi baru menyadari kalau gadis itu sudah menghilang.
"Kemana dia?" tanya Garen kelimpungan.
"Yaela … dia malah pergi," keluh Dendi seraya melengos meninggalkan Garen.
Si gadis sumber kericuhan itu sudah sampai di kos-kosannya. Tanpa canggung dia menyuruh Yudha masuk. "Ayolah! Sebentar aja," rayunya seraya menggoyangkan tubuh ke kiri dan kanan.
"Okelah! Sebentar aja," jawab Yudha merasa gerah dengan tingkah sok imut Kaliya.
"Gitu dong!"
Kaliya membuka pintu dan mempersilakan Yudha masuk. Bukan main kagetnya dia melihat tampilan kamar Kaliya, pernak-pernik di kamar itu jelas bukan barang yang bisa dibeli dari gajinya di Vein Karaoke.
"Lo keturunan Ningrat?"
"Ya nggak sih! Cuma gue memang punya duit karena baru dapat warisan."
"Bukannya lo anak yatim piatu?"
"Dari ibu angkatku. Warisan yang gak bisa diukur dengan nominal," ujar Kaliya.
Kebohongan yang terdengar alami bagi pemuda polos seperti Yudha. Dia percaya saja dengan ucapan Kaliya, tanpa diduga warisan yang digadang-gadang tak ternilai itu bukan berupa uang tunai.
"Duduk Yud, aku buatkan teh hangat ya?! Kamu gak suka minum kopi, 'Kan?"
"Heum," jawab Yudha pelan.